KEBUTUHAN KONSUMEN DALAM ISLAM

300 views
KEBUTUHAN KONSUMEN DALAM ISLAM
Dalam ilmu ekonomi konvensional kita telah mengenal paradigma yang menyatakan bahwa kebutuhan dan keinginan manusia bersifat tidak terbatas, hal ini sedikit dapat dilihat melalui beranekaragamnya pembagian kebutuhan konsumen. Sedangkan sumber daya alam yang ada sangat terbatas, sehingga dalam seringkali yang menjadi masalah utama perekonomian adalah kelangkaan atau kekurangan.
Kebutuhan senilai dengan keinginan, dimana keinginan ditentukan oleh konsep kepuasan. Dalam perspektif konvensional kebutuhan ditentukan oleh konsep kepuasan, sedangkan, dalam perspektif Islam kebutuhan di tentukan oleh konsep maslahah. Pembahasan konsep kebutuhan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari kajian perilaku konsumen dalam kerangka maqasid syari’ah (tujuan syari’ah). Tujuan syari’ah harus dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalan Islam. Tujuan syari’ah Islam adalah tercapainya kesejahteraan umat manusia (maslahat-al-‘ibad). Oleh karena itu, semua barang dan jasa yang memiliki maslahah akan dikatakan menjadi kebutuhan manusia.
Dalam konteks ini, konsep maslahahsangat tepat untuk diterapkan. Sebagaimana yang dikutib oleh Karim, menurut Syatibi kemaslahatan diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut rezeki, pemenuhan penghidupan manusia, perolehan apa-apa yang dituntut oleh kualitas emosional dan intelektual, serta kepemilikan barang atau jasa yang mengandung elemen-elemen dasar dan tujuan kehidupan umat manusia di dunia ini untuk memperoleh kemenangan akhirat. Syatibi pun membedakan maslahah menjadi tiga, yaitu: kebutuhan (daruriyah), pelengkap (hajiyah), dan perbaikan (tahsiniyah).[1]
Akan tetapi hingga saat ini, umumnya orang berpendapat bahwa kebutuhan pokok manusia terdiri dari sandang, pangan, dan papan. Tanpa terpenuhinya tiga jenis kebutuhan ini maka setiap individu tak akan bisa hidup dengan baik. Tiga jenis kebutuhan tersebut sebenarnya masih sebatas pada bentuk keperluan materi saja dan belum ada muatan spiritual yang sebetulnya tidak boleh diabaikan. Rumusan kebutuhan konsumen dalam Islam terdiri dari tiga jenjang yaitu:[2]
BACA JUGA  PENGALIHAN (TRANSPER) DALAM LINGUISTIK DAN BAHASA INDONESIA

  Kebutuhan Dharuriyat

KEBUTUHAN KONSUMEN DALAM ISLAM
Jenis kebutuhan ini merupakan keharusan dan landasan menegakkan kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat yang mencakup pemeliharaan lima unsur pokok, yaitu:
a.       Agama (din)
b.      Jiwa (nafs)
c.       Pendidikan nalar (‘aql)
d.      Keturunan (nasl)
e.       Harta (mal)
Pemeliharaan kelima unsur tersebut di atas dapat dilakukan dengan cara menjaga eksistensinya itu dalam kehidupan manusia dan melindunginya dari berbagai hal yang merusak. Sebagai contoh, penunaian rukun Islam sebagai bentuk pemeliharaan eksistensi agama, pelaksanaan kehidupan manusiawi merupakan wujud pemeliharaan eksistensi jiwa, serta larangan mencuri sebagai bentuk perlindungan terhadap eksistensi harta.
Lima kebutuhan dharuriyat(esensial) yang mencakup din, nafs, ‘aql, nasl, dan mal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila ada satu jenis saja yang sengaja diabaikan, maka akan menimbulkan ketimpangan dalam hidup manusia. Dalam bentuk kebutuhan ini, manusia membutuhkan agama karena dia berkaitan dengan keimanan dan ketaqwaan, pilar pokok yang perlu segera manusia bangun ialah lima rukun Islam yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Kelima rukun tersebut mendasari identitas ketaqwaan kepada Allah yang harus dijalankan secara sempurna. Kemudian bersamaan dengan itu, manusia membutuhkan pula kehidupan yang aman, nyaman, sehat, tentram, dan terpenuhi hak-haknya, semua ini terbingkai dalam nafs. Kunci terbangunnya nafs terdiri dari dua aspek, yakni kesadaran, kemauan, dan disiplin yang kuat. Seiring dengan agama dan jiwa, manusia perlu pendidikan nalar (‘aql).[3]
Islam mencanangkan pendidikan manusia seumur hidup sebagaimana yang diungkapkan dalam Hadis Nabi Muhammad SAW “Tuntutlah ilmu sejak kamu lahir hingga ke liang lahat”. Sasaran utama pendidikan adalah terbentuknya manusia yang cerdas dan kreatif, karena banyak manusia yang memiliki akal akan tetapi tidak cerdas. Oleh karena itu, pendidikan sangat membantu proses pengembangan otak dan nalar menudia sehingga mereka mampu mengendalikan perubahan-perubahan zaman.
Tidak cukup sampai disini, karena selain tiga hal itu manusia juga membutuhkan keharmonisan dalam keluarganya. Banyak sekali anak yang terjerat pergaulan bebas ketika terjadi dis-harmonisasi dalam keluarganya sebagai wujud pelampiasan rasa galaunya tersebut. Hal ini masih sebatas akibat kecil dari kehidupan keluarga yang tidak sakinah. Sehingga dapat ditarik analogi, bahwa keluarga yang harmonis dapat membentuk masa depan keturunan yang cerah, beriman dan bertaqwa.
Keharmonisan keluarga ternyata masih belum mampu melengkapi kebutuhan dharuriyat individu tanpa adanya harta, dari sisi inilah kita akan berbicara tentang sandang, pangan, dan papan. Ketiganya sangat penting guna menopang aktivitas keempat kebutuhan dasar lainnya. Sebagai contoh, ketika manusia hidup tanpa busana (sandang) maka kenyamanan hidupnya pasti terganggu. Selain malu karena auratnya terbuka, ia juga akan kepanasan ketika cuaca panas dan akan kedinginan ketika cuaca dingin.

 Kebutuhan Hajiyat

KEBUTUHAN KONSUMEN DALAM ISLAM
Kebutuhan ini dimaksudkan untuk melengkapi aspek dharuriyat agar lebih kokoh. Kebutuhan hajiyatbaru dapat dipenuhi ketika kebutuhan dharuriyat telah terpenuhi secara utuh. Misalnya pendidikan S1 dapat ditempuh setelah jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA dilewati, jaket untuk melindungi tubuh ketika cuaca dingin setelah pakaian yang menutupi aurat terpenuhi, dan lain sebagainya. Tidak terpenuhinya kebutuhan hajiyat sebenarnya tidak terlalu mengancam aspek dharuriyatselama yang dharuriyat itu masih ada.

Kebutuhan Tahsiniyat

KEBUTUHAN KONSUMEN DALAM ISLAM
Kebutuhan Tahsiniyat berfungsi menambah keindahan dan kesenangan hidup konsumen, sekali-kali kebutuhan ini boleh dipenuhi jika kebutuhan dharuriyat dan hajiyat telah dipenuhi terlebih dahulu. Tanpa kebutuhan ini sebetulnya manusia bisa hidup selama yang dharuriyat masih terpelihara, namun masih kurang indah dan menyenangkan. Contohnya, komunikasi seorang konsumen akan lebih cepat dan nyaman ketika ia menggunakan telepon genggam yang terbaru, wanita muslim akan lebih cantik bila berhias dengan hijab dan perhiasan model terkini, dan lain sebagainya.
Menurut Fahim Khan, terdapat empat konfigurasi pilihan dalam konsumsi yang dihadapi oleh konsumen Muslim. Pilihan pertama terdiri dari duniawi dan ukhrawi (belanja di jalan Allah), pilihan kedua terdiri dari konsumsi saat ini dan konsumsi akan datang, pilihan ketiga terdiri dari dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat, sedangkan pilihan yang keempat adalah barang subtitusi (pengganti). Ekonomi konvensional hanya membatasi pada pilihan kedua juga keempat dan mengabaikan pilihan pertama juga ketiga, sedangkan konsumsi dalam Islam mencakup seluruh pilihan di atas.[4]



[1]Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran…, hal. 320
[2]Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen, hal. 66
[3]Ibid., hal. 68
[4]Muhammad, Ekonomi Mikro…, hal. 159

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *