KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA

284 views
KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA
Kemampuan berpikir merupakan kegiatan penalaran yang reflektif, kritis dan kreatif, yang berorientasi pada suatu proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep (conceptualizing), aplikasi, analisis, menilai informasi yang terkumpul atau dianalisis melalui pengamatan, pengalaman, refleksi sebagai landasan kepada suatu keyakinan dan tindakan
Menurut beberapa pakar bidang psikoligi menyatakan bahwa pengertian kemampuan berfikir, sebagai berikut :
1. Menurut Beyer, berpikir adalah upaya manusia untuk membentuk konsep, memberi sebab atau membuat penentuan
2. Menurut Fraenkel, berpikir merupakan pembentukan pengalaman dan penyusunan keterangan dalam bentuk tertentu
3. Menurut Mayer, berpendapat bahwa berpikir melibatkan pengelolahan operasional mental tertentu yang berlaku dalam pikiran atau sistem kognitif seseorang yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah
4. Menurut Mayer, kemampuan berpikir sebagai “upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk membuat generalisasi, mengandaikan dan mengendalikan kemungkinan yang berbagai, dan juga menangguhkan keputusan (Iskandar: 2009. hlm. 87)
Berpikir kreatif siswa dapat dilihat dari du komponen penting :
1. Suatu kelompok kemampuan yang digunakan untuk memproses atau melahirkan informasi dan kepercayaan (keyakinan)
2. Suatu kebiasaan, yang terbentuk berlandaskan komitmen intelektual, dalam menggunakan kemampuan tersebut untuk menjadi landasan kepada prilaku manusia(Iskandar: 2009. hlm. 89)
Kemampuan berpikir kreatif siswa didalam didunia pendidikan dikenal dengan kawasan kognitif. Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan “berfikir”, mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntutkan siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, metode atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.( Martinis Yamin : 2006. hlm.27)
Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut ;
1.      Tingkat Pengetahuan ( knowlage )
Tujuan instruksional pada level ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti misalnya: fakta, terminoligi, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya
2.      Tingkat Pemahaman (comprehension)
Kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa diharapkan menerjemahkan, atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri
3.      Tingkat Penerapan (aplication)
Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari
4.      Tingkat Analisi (analysis)
Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep,  pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi. Dalam hal ini siswa diharapkan menunjjukan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipeajari
5.      Tingkat sintesis (syntesis)
Sintesis disini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh
6.      Tingkat evaluasi (eveluation)
Evaluasi merupakan level tertinggi, yang mengharapkan siswa mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu, jadi evaluasi disini lebih condong ke bentuk penilaian biasa daripada sistem evaluasi(Matinis Yamin: 2006. hlm. 28-30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *