Konsep Income/Pendapatan (Perspektif Islam dan Umum)

Konsep Income/Pendapatan (Perspektif Islam dan Umum)

29 views

Pendapatan adalah penerimaan bersih seseorang, baik berupa uang kontan maupun natura. Pendapatan disebut juga incame dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya pada sektor produksi.[1] Dan sektor produksi ini membeli faktor- faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku dipasar faktor produksi. Harga faktor produksi dipasar faktor produksi ( seperti halnya juga untuk barang-barang dipasar barang ) ditentukan oleh tarik menarik, antara penawaran dan permintaan.

Secara singkat incame seorang warga masyarakat ditentukan oleh :

  1. Hasil-hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu
  2. Warisan atau pemberian
  3. Harga per unit dari masing-masing faktor produksi. Harga-harga ini ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan dipasar faktor produksi.

Tenaga Kerja mempunyai penawaran yang terus menerus menaik sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Sedangkan permintaan akan tenaga kerja tergantung pada kenaikan permintaan akan barang jadi (seperti halnya dengan permintaan akan barang-barang modal. Disamping itu permintaan akan tenaga kerja dipengaruhi pula oleh kemajuan teknologi ini.Permintaan akan tenaga kerja tidak tumbuh secepat penawaran tenaga kerja (atau pertumbuhan penduduk) maka ada kecenderungan bagi upah (harga faktor produksi tenaga kerja) semakin menurun.[2]

Pendapatan menurut islam dapat dikatakan sebagai Ijarah. Ijarahsecara bahasa berarti upah, sewa, jasa atau imbalan. Ijarah merupakantransaksi yang memperjual belikan manfaat harta suatu benda. TransaksiIjarah merupakan salah satu kegiatan muamalah yang banyak dilakukanmanusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.[3]

Menurut UU Ketenagakerjaan No.13 Th. 2003 Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja,  kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan.[4]Menurut Afzalur Rahman upah yaitu sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberi pekerjaan kepada seorang pekerja atas jasanya sesuai perjanjian.[5]

Menurut Sayyid Sabiq, Ijarah adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian.[6] Dalam Hukum Islam ada dua jenis Ijarah, yaitu:[7]

  1. Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayarkan disebut ujrah.
  2. Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset atau properti, yaitu memindahkan hak untuk memakai dari aset atau properti tertentu kepada orang lain dengan imbalan biaya sewa. Bentuk Ijarah ini mirip dengan leasing (sewa) pada bisnis konvensional. Pihak yang menyewa (lessee) disebut mustajir, pihak yang menyewakan (lessor) disebut mu’jir atau muajir dan biaya sewa disebut ujrah.

[1]  Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, Jakarta : Rajawali Pers, 2010, h. 255.

[2]  Ibid, h. 257

[3] Ghufron A Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-1, 2002, h. 181.

[4] ndang-undang Ketenagakerjaan no. 13 Th. 2003, Pasal 1 ayat 30.

[5] Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995, h. 361.

[6]  Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah Jilid 3, Dar al-Kitab al-Araby, Beirut, 1983, hal. 177.

[7] Ascarya, Akad dan Produk Syari’ah, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2007, h. 99.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *