LANDASAN HUKUM MINUMAN KERAS DALAM KITAB UNDANG-UDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

54,820 views
LANDASAN HUKUM MINUMAN KERAS DALAM KITAB UNDANG-UDANG HUKUM PIDANA (KUHP)


Dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP)  mengatur mengenai masalah penyalahgunaan Minuman Keras (Khamar), alkohol atau tindak pidana minuman keras yang tersebar dalam beberapa pasal, antara lain pasal 300; pasal 492; pasal 536; pasal 537; pasal 538; pasal 539 KUHP. Adapun bunyi pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut[1] :
a. Pasal 300 KUHP :
Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,- di hukum :
1.         Barang siapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minum minuman-minuman yang memabukan kepada seseorang yang telah kelihatan mabuk.
2.         Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seseorang anak yang umurnya dibawah 18 tahun.
3.         Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan sengaja memaksa orang akan minum-minuman yang memabukkan
4.         Kalau perbuatan itu menyebabkan luka berat pada tubuh, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.    
5.         Kalau perbuatan itu menyebabkan orang mati, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun.
6.         Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatan ia dapat dipecat dari pekerjaan itu.
       Dari ketentuan pasal ini dapat disimpulkan secara singkat bahwa agar supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka orang yang menjual atau memberi minuman-minuman keras itu harus mengetahui bahwa orang yang membeli atau diberi minuman itu  harus  telah  kelihatan  nyata  mabuk, kalau tidak, tidak dapat dikenakan pasal ini. Tanda-tanda orang yang telah mabuk adalah :
1. Dari mulutnya keluar napas yang berbau alkohol (minuman keras)
2. Langkah jalannya sempoyongan (tidak tegap)
3.   Bicaranya tak karuan (kacau).[2]
        Adapun yang dimaksud menyerahkan dalam pasal ini adalah menyajikan minuman di suatu tempat dan minuman di tempat itu juga, sehingga perbuatan yang membawa akibat segera diminum oleh orang yang bersangkutan.[3]  Pasal ini dikenakan kepada orang yang membuat mabuk anak dibawah umur, semua tindakan-tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja dan  dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa orang untuk minum minuman keras. Untuk ketentuaan pidana yang diatur di dalam  pasal  300 ayat (3),  yakni  tindak  pidana yang menyebabkan korban itu mati. Pada tindak pidana tersebut, yang dapat meninggal dunia itu ialah :
1.        Korban sendiri, yakni orang yang dipaksa untuk meminum minuman yang sifatnya memabukan;
2.        Salah seorang dari pelaku, yakni misalnya korban dari moodweer yang dilakukan oleh orang yang dipaksa meminum minuman yang sifatnya memabukan;
3.        Orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tindak pidana yang bersangkutan, yakni misalnya yang telah menjadi korban sebagai akibat perilaku orang yang berada dalam keadaan mabuk.[4]
b. Pasal 492 KUHP
1)            Barang siapa yang sedang mabuk, baik ditempat umum merintangi jalan atau mengganggu ketertiban, baik mengancam keamanan orang lain maupun sesutu perbuatan yang harus dijalankan dengan hati-hati benar supaya tidak terjadi bahaya bagi jiwa atau kesehatan orang lain dihukum kurungan selama-lamanya enam hari atau denda sebanyak- banyaknya Rp. 375,-
2)            Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lagi lewat satu tahun sejak ketetapa putusan hukuman yang dahulu bagi si tersalah karena pelanggaran serupa itu juga atau lantaran pelanggaran yang diterangkan dalam pasal 536 maka ia dihukum kurungan selama-lamanya dua minggu.        
       Dapat disimpulkan dari ketentuan pasal ini bahwa orang (si tersalah) supaya dapat dikenakan sanksi pidana harus dibuktikan bahwa mabuk  ditempat umum, merintangi jalan/lalu lintas dan mengganggu keamanan orang lain. Mabuk adalah suatu keadaan, dalam keadaan mana seseorang tidak  dapat menguasai lagi pancaindranya atau anggota badannya, yang diakibatkan oleh minuman yang mengandung alkohol. Mengganggu ketertiban misalnya melempar-lemparkan batu kepada orang banyak, mengancam keselamatan orang lain yang dijumpainya, dan mengendari kendaraan bermotor dengan rupa, sehingga membahayakan bagi keselamatan orang lain. Jika keadaan mabuk orang itu diam saja dirumahnya dan tidak mengganggu apa-apa, maka tidak dikenakan pasal ini.   
c. Pasal 536 KUHP :
1)         Barang siapa nyata mabuk ada dijalan umum, dihukum denda sebanyak-banyaknya Rp. 225,-
2)         Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum satu tahun, sejak ketetapan hukum yang dahulu bagi si tersalah lantaran pelanggaran serupa itu juga atau pelanggaran yang ditersangkakan dalam pasal 492, maka hukuman denda itu dapat diganti dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari.
3)         Kalau pelanggaran itu diulangi untuk kedua kalinya dalam satu tahun sesudah keputusan hukuman yang pertama karena ulangan pelanggaran itu, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya dua minggu.
4)         Kalau pelanggaran itu diulangi untuk ketiga kalinya atau selanjutnya di dalam satu tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang kemudian sekali lantaran ulangan pelanggaran untuk kedua kalinya atau selanjutnya, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan.   
Supaya dikenakan pasal ini si tersalah harus sedang mabuk dan berada di jalan umum, orang yang berada dalam keadaan mabuk itu tetap tersalah atau tetap dapat diminta pertanggung jawabannya menurut hukum pidana atas perbuatan yang telah ia lakukan. Keadaan mabuk merupakan keadaan yang sebenarnya dari seseorang yang berada dalam keadaan seperti itu, sehingga di dalam surat dakwaannya, jaksa cukup memakai kata-kata dalam keadaan mabuk bagi terdakwa, yang didakwa telah melakukan tindak pidana seperti yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur pasal 536 KUHP. Keadaan yang nyata bahwa seseorang itu berada dalam keadaan mabuk hanya dapat dibuktikan dengan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa, dan dengan menunjukkan keadaan-keadaan terdakwa pada waktu ia berada di atas jalan raya[5]. Jika keadaan mabuk berada  di dalam  rumah, maka tidak dikenakan pasal ini.
d. Pasal 537 KUHP :
“Barang siapa menjual atau memberikan minuman keras atau arak kepada anggota Angkatan Bersenjata di bawah pangkat letnan atau kepada istrinya, anak atau pelayan, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga minggu atau pidana denda paling tinggi seribu lima ratus rupiah.”
Yang diancam dengan hukuman pasal ini ialah orang yang menjual atau memberi minuman keras atau tuak diluar kantin tentara kepada seorang prajurit militer dengan pangkat letnan kebawah, atau kepada istri, anak atau bujangnya perajurit itu.[6]
e. Pasal 538 KUHP :
“Penjual atau wakilnya yang menjual minuman keras yang dalam menjalankan pekerjaan memberikan atau menjual minuman keras atau arak kepada seorang anak dibawah umur enam belas tahun, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga minggu atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.”   
Yang dapat dihukum menurut pasal ini adalah penjual minuman keras yang memberikan minuman keras kepada anak dibawah umur. Untuk dapat menyatakan seseorang terdakwa terbukti mempunyai kesengajaan dalam melakukan pelanggaran seperti yang dimaksudkan di dalam  ketentuan pidana yang di atur pasal 538 KUHP, hakim harus dapat membuktikan tentang :
1.         Adanya kehendak atau maksud terdakwa untuk menyajikan atau menjual minuman keras
2.         Adanya pengetahuan pada terdakwa bahwa yang ia sajikan atau  jual itu ialah minuman keras atau tuak
3.         Adanya pengetahuan  pada  terdakwa bahwa minuman keras  atau tuak itu telah ia sajikan atau ia jual kepada seorang anak di bawah usia enam belas tahun.[7]
Yang dimaksud penjual minuman keras bukan hanya orang-orang yang mengkhususkan diri menjual minuman keras, melainkan  juga  orang-orang  yang di samping penjual barang-barang yang lain juga menjual minuman keras seperti pemilik toko, pengusaha rumah makan atau kedai dan lain-lainnya.  Adapun yang dapat disebut sebagai pengganti dari penjual minuman keras tersebut, antara lain istrinya, anaknya, pegawainya dan lain-lain.
f. Pasal 539 KUHP :
“Barang siapa pada kesempatan diadakan pesta keramaian untuk umum atau pertunjukan rakyat atau diselenggarakan arak-arakan untuk umum, menyediakan secara cuma-cuma minuman keras atau menjanjikan sebagai hadiah, diancam dengan pidana kurungan paling  lama  dua  belas hari atau pidana denda paling tinggi tiga ratus tujuh puluh lima rupiah.” 

BACA JUGA  TUJUAN PENDIDIKAN INKLUSIF

[1]R.Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Pelita :Bogor, hl.160-172
[2] R. Sugandhi, KUHP Dengan Penjelasannya, Usaha Nasional, Surabaya,  hl 318
[3] Andi Hamzah, Delik-Delik Tertentu ( speciale delicten) Di Dalam KUHP, Sinar Grafika, 2009, hlm 26
[4] F. Lamintang dan Theo, Lamintang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaan & Norma Kepatutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 254
[5]Lamintang dan Theo, Lamintang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaan & Norma Kepatutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hl. 365
[6] R. Sugandhi, KUHP Dengan Penjelasannya, Usaha Nasional, Surabaya, 1980, hl. 54
[7] F. Lamintang dan Theo, Lamintang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaan & Norma Kepatutan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hl. 371

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *