MANAJEMEN WAKAF TUNAI

615 views
MANAJEMEN WAKAF TUNAI
Melihat perkembangan pemikiran dan praktik wakaf yang menuntut untuk mendapat perhatian yang serius demi menciptakan daya tahan perekonomian yang kuat dan berkelanjutan (sustainable), disamping juga kenyataan lahirnya UU wakaf  nomor 14 tahun 2014 yang mempunyai cita-cita memajukan ekonomi wakaf di Indonesia, perlu kiranya dibentuk sebuah manajeman yang terpola dengan tujuan untuk mewujudkan harapan tersebut. Karena itu, dalam sub bahasan ini akan diulas tentang pengelolan wakaf tunai dari seni ilmu manajemen, baik itu manajemen fungsional yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerak (actuating)  dan pengawasan (controling),  juga manajemen operasionalnya meliputi manajemen sumberdaya (human resource), pembuatan produk,  dan promosi serta sosialisasi yang akan menjadi panduan bagi nadzir wakaf tunai.
a.       Manajemen Fungsional Wakaf Tunai
Fungsi manajemen yang di maksud di sini adalah serangkaian proses manajemen organisasi mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasan. Kegiatan ini dimaksudkan agar organisasi pengelola mempunyai cara-cara ang terukur dalam mewujudkan tujuan yang diinginkannya.
1)      Perencanaan (planning)
Perencanaan adalah perumusan dari tindakan-tindakan yang di anggap perlu untuk mencapai hasil yang di inginkan sesuai dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan.[1]
Perencanaan ini dibuat untuk memberi panduan bagi para pengolala wakaf (nadzir) untuk berpikir sistematis, panduan membuat garis besar haluan organisasi atau devisi, membantu pelaksanaan pengawasan, dan membantu pemimpin program dalam menghadapi perkembangan dimasa depan.
MANAJEMEN WAKAF TUNAI
Untuk mempermudah pembuatan perencanaan (planning) dalam sebuah kegiatan, perlu ditanyakan jawaban dari prinsip 4W 5H.
a.       Apakah yang harus dikerjakan (what)?
b.      Mengapa direncanakan (why)?
c.       Siapa yang harus mengerjakan (who)?
d.      Kapan harus dikerjakan (when)?
e.       Bagaimana harus mengerjakannya (how)?
Pertanyaan-pertanyaan seperi ini sangatlah penting untuk dilakukan mengingat apa yang harus diprioritaskan dalam penggalangan dana wakaf tunai ini. Karena dalam keadaan tertentu, perencanaan sebuah program juga membutuhkan dana yang mungkin memberatkan bagi organisasi. Sehingga perencanaan sebuah program tidak berhasil dilaksanakan secara baik.
2)      Pengorganisasian (organizing)
Ketika perencanaan sudah dibuat, kemudian tujuan dan langkah-langkah sudah ditetapkan, maka kegiatan selanjutnya adalah pembagian kerja. Kegiatan pembagian kerja sesuai dengan tugasnya masing-masing (job discription) disebut pengorganisasian (organizing). Pengorganisasian (organizing) sendiri adalah proses penyesuaian struktur organisasi dengan tujuan, sumberdaya dan lingkungannya.[2]
Untuk membentuk sebuah organisasi yang solid, penugasan wewenang dari masing-masing personil harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Karena itu,  maka perlu dibentuk sebuah prinsip dalam pengorganisasian sebagimana berikut:
1)        Perumusan tujuan organisasi atau devisi program dengan jelas
2)        Pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian
3)        Kontiuitas dan fleksibilitas
4)        Pendelegassian tugas dan wewenang yang jelas.
5)        Kesatuan arah (unity of direction)
6)        Kesatuan komando (unity of command)
7)        Rentangan kekuasaan (span of control)
3)      Pengerahan atau Kepemimpinan (actuating/ directing)[3]
Setelah dilaksanakan pembagian tugas, maka dalam setiap tugas tersebut haruslah ada pemimpin yang bertanggung jawab atas berjalannya program dan sekaligus penggerak bagi team yang ada dalam tanggung jawabnya. Maka, kepemimpinan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi.[4]
4)      Pengawasan (controlling)
Setelah tugas dan wewenang di bagi dan penanggung jawab sudah diangkat, maka untuk mengetahui sejauh apa perencanaan yang sudah dibuat dilakukan diperlukan adanya pengawasan. Agar ketika terjadi penyimpangan tugas dan atau wewenang, atau ketika terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi, bahkan tidak berjalannya sebuah program maka segera bisa dievaluasi. Karena itu, pengawasan (controlling) adalah proses pengamatan, penentuan standar yang akan di capai, menilai pelaksanaan, dan jika perlu mengambil tindakan korektif sehingga pelakssanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.[5]
b.      Manajemen Operasional Wakaf Tunai
Ketika rencana sudah dibuat, tugas di delegasikan, maka dalam upaya mewujudkan pengembangan wakaf tunai di perlukan beberapa upaya manajerial yang bersifat opeasional. Ini dilakukan sebagai perpanjangan fungsi manajemen yang telah dibahas pada sub bab sebelumnya.
MANAJEMEN WAKAF TUNAI
Dalam sub bab ini akan dibahas tentang sumber daya nadzir yang dibutuhkan untuk pengembangan wakaf tunai yang dilaksanakan dalam sebuah organisasi, bauran produk yang dibuat untuk menggalang dana, dan juga promosi dan sosialisainya kepada market sharing yang dituju.
1)      Sumberdaya Kenadziran 
Nadziradalah seseorang yang diamanahi dalam mengelola wakaf, menjaganya, menjaga hasilnya, dan menunaikan segala yang dipersaratkan oleh wakif saat menyerahkan wakaf.[6]Nadzir dalam UU wakaf Nomor 41 tahun 2004 bisa berbentuk pribadi, oraganisasi dan badan hukum.
Dalam pengembangan wakaf tunai, dimana donasi wakaf nantinya ada yang dikelola dalam bentuk produktif dan non produktif, maka diperlukan adanya manajemen nadzir profesional yang akan mengelola wakaf tunai sehingga asset wakaf tetap terjaga di satu sisi dan disisi lain program-program investasinya bisa menghasilkan laba yang maksimal.
Adapun syarat-syarat utama yang harus di miliki adalah Islam, baligh, berakal,  amanah, tidak terhalang oleh hukum untuk mengadakan transaksi, sehat dan mempunyai pengetahuan dalam bidang perwakafan
Sementara itu Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama Republik Indonesia memberikan beberapa panduan pengelolan pembianaan kenadziran agar didapatkan Sumberdaya manausia kenadziran yang sesuai dengan cita-cita perundang-udangan wakaf yang telah dibuat:
a.       Pendidikan Formal
Melalui sekolah-sekolah umum dan kejuruan dapat dicetak calon-calon SDM keNadziran yang siap pakai, dengan catatan sekolah itu sendiri harus dibentuk secara berkualitas dengan memberikan format kurikulum yang mantap dengan disiplin pengajaran yang tinggi, terarah menuju bidang yang dituju.
b.      Pendidikan Non Formal
Bentuk pendidikan model ini dengan cara mengadakan kursus atau pelatihan SDM kenadziran baik yang terkait dengan manajerial organisasi atau meningkatkan ketrampilan dalam bidang profesi seperti administrasi, teknik pengolahan petanian, teknik perbankan, pengelolaan kepariwisataan, perdagangan, pemasaran dan lain sebagainya.
c.       Pelatihan Informal
Berupa latihan-latihan dan kaderisasi langsung ditempat-tempat pengelolaan wakaf (studi banding).
d.      Pembianaan Fisik
Pembinaan ini dilakukan unuk mendapatkan SDM Nadzir yang sehat secara fisik dengan melakukan olah raga ketangkasan dan lain-lain.
e.       Pembinaan Mental
Pembinaan mental di lakukan agar para nadzir selalu dalam kondisi prima dan semangat dalam menjalankan tugas-tugasnya[7]
2)      Bauran Produk Wakaf Tunai
Produk adalah segala sesuatu yang mempunai nilai dan dapat memberi manfaat bagai konsumen.[8]Yang diamaksud bauran produk disini adalah variasi produk yang dibuat oleh organisasi untuk menarik donatur mendonasikan uangnya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Karena pada umumnya, seseorang tertarik membeli produk karena keunikan yang dimiliki (fiture) dan manfaat (benefit) yang bisa dia dapatkan dan kesesuaian anggaran (budget) yang dimiliki.
Sebagaimana gambaran sertifikat wakaf tunai yang dijelaskan oleh Mustafa Edwin Nasution pembahasan diatas, organisasi pengelola wakaf bisa menerbitkan produk sertifikat wakaf tunai yang sesuai dengan kondisi ekonomi masing-masing calon wakif yang dituju. Selain itu produk yang diluncurkan juga harus sesuai dengan planningyang dibuat oleh organisasi pengelola wakaf. Apakah produk yang diluncurkan untuk menggalang wakaf tunai yang nantinya didistribusikan pada bidang non produktif (membeli asset, menyewa tempat, qord hasan dll) atau yang berbentuk produktif (investasi). Tujuannnya agar mobilisasi wakaf tunai bisa dibuat secara memasyarakat sehingga setiap lapisan masyarakat bisa ikut serta dalam program wakaf tunai ini.
3)      Promosi dan sosialisasi
Dalam sebuah organisasi promosi dan sosialisasi adalah sesuatu yang paling penting diantara proses manajemen operasional yang lain. Karena dari promosi itulah produk bisa dikenal oleh masyarakat. Dan dengan sosialisasilah keberadaan entitas sebuah organisasi bisa dikenal dalam khalayak ramai. Sosialisasi sendiri mempunyai arti upaya memperkenalkan atau menyebarluaskan informasi kepada masyarakat sebagai penerima program.[9]
Muhyar Fanani dalam penelitiannya tentang praktik wakaf tunai di Indonesia menyimpulkan, bahwa kurangnya promosi dan sosialisasilah yang menjadi kendala utama belum berkembangnya wakaf tunai di Indonesia.[10]Karena itu promosi dan sosialisasi dalam pengembangan wakaf tunai mutlak diperlukan.
Dalam pengembangan wakaf tunai yang dimaksud dengan sosialisasi adalah cara pendekatan kepada calon wakif dengan beberapa pendekatan berikut ini:
1.      Pendekatan keagamaan
2.      Pendekatan kesejahteraan sosial
3.      Pendekatan bukti pengelolaan wakaf
Karena itu menurut Direktorat pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, kunci utama dalam pengembangan wakaf adalah dengan:
1.       Melakukan sosialisai program wakaf tunai dengan massif
2.       Manajemenen nadzir yang profesional 
3.      Pendekatan kepada calon wakif dengan terarah
4.      Pengelolaan wakaf tunai dengan manajemen yang handal[11]
BACA JUGA  PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, SYARAT, MANFAAT, DAN RESIKO MURABAHAH



[1] Yayat  M. Herujito, Dasar-dasar Manajemen, (Jakarta: PT. Grasindo, 2001),  hal. 84
[2]Ibid., hal. 110
[3]Ibid
[4]Abdullah, Pengertian Pengarahan (Directing), dalam www.id.shvoong.com/social-sciences/education/2248323-pengertian-pengarahan-directing/
[5]Yayat M. Herujito, Dasar-dasar Manajemen (Jakarta: Grasindo, 2011), hal. 242
[6]Wizarot al-Awqaf wa Syu’un al-Islamy,  Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, (Kuwait: Wizarot al-Awqaf wa Syu’un al-islamy,  1427 H), Jilid. 40, hal:14
[7]DIRJEN BIMAS ISLAM, Stretegi Pengembangan Wakaf (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, 2007), hal. 23
[8]Muneya Alteza, Pengantar Bisnis: Teori dan Aplikasi di Indonesia (Fakultas Sosial dan Ekonomi: UNY, 2011),  hal. 80
[9]PNPM Mandiri, Sosialisasi Program, dalam www.pnmp-pedesaan.or.id/sosialisasi-program
[10] Muhyar Fanani, Wakaf Uang Untuk Kesejahteraan Umat (Semarang:  Artikel tidak diterbitkan, 2011), hal. 21
[11]Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Strategi Pengembangan Wakaf Tunai (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, 2007), hal. 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *