PEGERTIAN PRIMBON DAN SEJARAH PERHITUNGAN PRIMBON DALAM KALENDER JAWA

1,795 views
PEGERTIAN PRIMBON DAN SEJARAH PERHITUNGAN PRIMBON DALAM KALENDER JAWA
PRIMBON berasal dari kata PRIM (Primpen = disimpan/ disembunyikan/ dikumpulkan/ dihimpun) dan BON (babon = induk = asal usul). Jadi istilah primbon bisa diartikan induk pengetahuan atau dimaknai kumpulan ilmu pengetahuan.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Primbon didefinisikan sebagai kitab yang berisikan ramalan (perhitungan hari baik, hari naas, dsb); buku yang menghimpun berbagai pengetahuan kejawaan, berisi rumus ilmu gaib (rajah, mantra, doa, tafsir mimpi), sistem bilangan yang pelik untuk menghitung hari mujur untuk mengadakan selamatan, mendirikan rumah, memulai perjalanan dan mengurus segala macam kegiatan yang penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat.
Mengutip dari berbagai sumber yang terbaik Wikipedia Bahasa Indonesia mendefinisikan Primbon yaitu semacam perhitungan atau ramalan bagi suku Jawa. Primbon biasanya membicarakan tentang watak manusia dan hewan berdasarkan ciri fisik, perhitungan mengenai tempat tinggal (mirip feng sui), baik buruknya waktu kegiatan seperti upacara perkawinan, pindah rumah, acara adat, dan lainnya. Selain itu dalam primbon tidak terbatas menentukan ramalan yang berkaitan dengan nasib atau jodoh. Pendek kata, primbon dapat menjawab segala sesuatu tentang kehidupan manusia.
Primbon dalam hubungannya dengan koleksi naskah kuno berarti ngalamat”, sejarah, asal-usul sesuatu, ilmu kerohanian, dan lain-lain. Di samping itu dalam Primbon juga memuat koleksi kisah nabi, catatan, hukum, catatan hal penting dan lain-lain.
Dari batasan-batasan di atas primbon bisa diartikan:
a.    Buku yang berisi perhitungan, perkiraan, ramalan dan sejenisnya
b.    Perhitungan hari baik dan buruk
c.    Nasib dan watak seseorang berdasarkan kelahiran, nama-nama dan ciri-ciri fisik
d.   Ngalamat, sejarah, asal-usul sesuatu, doa-doa, peringatan-peringatan, perhitungan waktu, catatan hukum, catatan penting dan sejenisnya
PEGERTIAN PRIMBON DAN SEJARAH PERHITUNGAN PRIMBON DALAM KALENDER JAWA

Agaknya definisi yang paling lengkap adalah definisi terakhir yaitu dari Primbon dalam Naskah Kuno. Disitu disebutkan bahwa Primbon memuat sejarah, asal-usul sesuatu, ilmu kerohanian, dan lain-lain. Di samping itu dalam Primbon juga memuat koleksi kisah nabi, catatan, hukum, doa-doa, dsb.
Primbon disusun dengan mempelajari gejala alam dan kejadian-kejadian terdahulu yang pernah dialami para leluhur kemudian menjadikannya sebagai sebuah pedoman untuk melakukan hal ikhwal berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Sehingga dalam kitab primbon dapat dilihat antara lain kedekatan manusia dengan lingkungannya dalam membuat klasifikasi dan perhitungan-perhitungan yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi dalam kehidupannya apabila pada suatu hari, bulan atau musim tertentu, manusia akan melakukan suatu kegiatan.
PEGERTIAN PRIMBON DAN SEJARAH PERHITUNGAN PRIMBON DALAM KALENDER JAWA
Sebagian besar isi Primbon Jawa berisi tentang perhitungan, perkiraan, ramalan nasib, meramal watak seseorang dan sebagainya. Berbagai perhitungan-perhitungan dan ramalan itu menggunakan perhitungan penanggalan atau kalender. Yaitu perpaduan antara hari dan weton yang digabungkan sedemikian rupa menggunakan rumus-rumus tertentu sehingga didapatkan hasilnya.
Sistem penanggalan atau kalender Jawa tidak muncul baru-baru ini namun kalender Jawa telah ada sejak zaman nenek moyang orang Jawa dulu. Kalender Jawa telah digunakan sejak zaman kerajaan-kerajan Hindhu-Budha khususnya di pulau Jawa untuk berbagai keperluan, baik untuk menentukan waktu bercocok tanam maupun untuk menentukan waktu-waktu peringatan keluarga kerajaan atau warga masyarakat itu sendiri.
Masyarakat Tengger, tanah Badui dan mungkin kelompok orang Samin mengikuti kalender kuno yaitu kalender Saka. Kalender saka ini merupakan warisan zaman Hindu-Budha yang kemudian diganti dengan kalender Jawa atau kalender Sultan Agung yang berlaku sampai sekarang.
Banyak orang dan banyak kalender yang beredar membuat kesalahan dengan keterangannya yang mengatakan bahwa kalender Jawa sama dengan kalender saka, padahal keduanya amat berbeda. Oleh karena itu perlu diberikan penjelasan sebagai berikut:
Pertama, kalender Saka dimulai pada tahun 78 Masehi. Permulaan kalender itu konon pada saat mendaratnya Ajisaka di pulau Jawa. Adapula yang mengabarkan, bahwa permulaannya adalah saat Raja Sariwahana Ajisaka naik tahta di India. Ajisaka adalah tokoh mitologi yang konon mencipta abjad huruf Jawa: ha na ca ra ka. Kalender yang tahunnya disebut Saka, dimulai pada tanggal 15 Maret tahun 78 Masehi. Tahun Masehi dan tahun Saka, dua-duanya berdasarkan hitungan solair yaitu mengikuti perjalanan bumi mengitari matahari. Dalam bahasa Arab disebut Syamsiyah.
Kedua, sebelum bangsa Hindu datang, orang Jawa sudah memiliki kalender sendiri yang kita kenal sekarang sebagai Petangan Jawi, yaitu perhitungan Pranata Mangsa dengan rangkaiannya berupa bermacam-macam petangan seperti wuku, peringkelan, padewan, padangan dan lain-lainnya. Sistem Pranata Mangsa itu adalah solair (Syamsiyah) seperti halnya kalender Saka dan Masehi.
Ketiga, seperti dalam bukunya Purwadi dan Siti Maziyah yang mengutip dari bukunya Kamajaya menjelaskan tentang kalender Saka dan Pranata Mangsa bahwa Kalender Saka membagi satu tahun dalam 12 bulan dan Pranata Mangsa membagi satu tahun dalam 12 mangsa.
PEGERTIAN PRIMBON DAN SEJARAH PERHITUNGAN PRIMBON DALAM KALENDER JAWA
1.    Kalender Saka
Nama-nama bulan dan umurnya
1)   Srawana (12 Juli-12 Agustus) 32 hari
2)   Badhra (13 Agustus-10 September) 29 hari
3)   Asuji (11 September-11 Oktober) 31 hari
4)   Kartika (12 Oktober-10 November) 30 hari
5)   Posya (1 November-12 Desember) 32 hari
6)   Margasira (13 Desember-10 Januari) 29 hari
7)   Magha (11 Januari-11 Februari) 32 hari
8)   Phalguna (12 Februari-11 Maret) 29 hari
9)   Cetra (12 Maret-11 April) 31 hari
10)    Wasekha (12 April-11 Mei) 30 hari
11)    Jyesta (12 Mei-12 Juni) 32 hari
12)    Asadha (13 Juni-11 Juli) 29 hari
2.    Pranata Mangsa
Nama-nama mangsa dan umurnya:
1)   Kasa (Kartika) (22 Juni-1 Agustus) 41 hari
2)   Karo (Pusa) (2 Agustus-24 Agustus) 23 hari
3)   Katelu (25 Agustus-17 September) 24 hari
4)   Kapat (Sitra) (18 September-12 Oktober) 25 hari
5)   Kalima (Manggala) (13Oktober-8November) 27 hari
6)   Kanem (Naya) (9 November-21 Desember) 43 hari
7)   Kapitu (Palguna) (22 Desember-22 Februari) 43 hari
8)   Kawolu (Wasika) (3 Februari-28 Februari) 26/27 hari
9)   Kasanga (Jita) (1 Maret-25 Maret) 25 hari
10)    Kasapuluh (Srawana) (26 Maret-18 April) 24 hari
11)    Dhesta (Padrawana) (19 April-11 Mei) 23 hari
12)    Sadha (Asuji) (12 Mei-21 Juni) 41 hari
Kalender Pranata Mangsa sudah dimiliki orang Jawa sebelum bangsa Hindu datang di Pulau Jawa. Kalender atau perhitungan Pranata Mangsa itu dapat dikatakan kalendernya kaum tani yang memanfaatkannya sebagai pedoman bekerja.
Pada mulanya Pranata Mangsa hanya memiliki 10 mangsa sesudah mangsa kesepuluh tanggal 18 April, orang menunggu saat dimulainya mangsa pertama (Kasa atau Kartika), yaitu pada tanggal 22 Juni. Masa menunggu itu cukup lama sehingga akhirnya ditetapkan mangsa kesebelas (Destha atau Padrawana) dan mangsa kedua belas (Sadha atau Asuji). Maka genaplah satu tahun menjadi 12 mangsa dan dimulainya hari pertama mangsa kesatu pada 22 Juni. Kalender saka berjalan bersama Pranata Mangsa.
Masih mengutip dalam bukunya Kamajaya, Purwadi dan Siti Maziyah menjelaskan bahwa meskipun Pranata Mangsa yang sudah berlaku sejak dahulu milik orang Jawa. Namun pembakuannya baru diadakan pada waktu yang memerintah kerajaan Surakarta Sri Paku Buwana VII, yaitu tepatnya tahun 1855 Masehi. Kecuali untuk pedoman kaum tani, Pranata Mangsa pun merupakan perhitungan yang membawakan watak atau pengaruh kepada kehidupan manusia seperti halnya perhitungan-perhitungan Jawa lainnya.

Jadi sejarah perhitungan-perhitungan dalam kalender Jawa termasuk didalamnya hitungan Weton yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat khususnya di Jawa ini telah digunakan terlebih dahulu oleh para nenek moyang di zaman kerajaan Hindu-Budha. Begitu juga pada saat pemerintahan kerajaan Surakarta yang dipimpin oleh Sri Paku Buwana ke- VII.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *