PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

5,391 views


PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

 Asal kata Konstruktivisme yaitu “to construct” yang berarti membentuk.(Benny A,Pribadi :2009, hlm. 157) Seiring upaya perbaikan kualitas pembelajaran organis, filasafat konstruktivisme kian populer di bidang pendidikan pada decade terakhir ini. Pemikiran filsafat konstruktivisme mengenai hakikat pengetahuan memberi sumbangan terhadap usaha mendekonstruksi pembelajaran mekanis.

Menurut paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak kan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain. Mengalami sendiri merupakan kunci untuk kebermaknaan. (Trianto, :2009 hlm. 69)
Gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut :
1.      Pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
2.      Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
3.      Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep seseorang. Struktur konsep membentuk pengetahuan jika konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.(Agus Suprijono :2011, hlm. 3)
Anita Woolfok mengemukakan defenisi pendekatan Konstruktivisme sebagai pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa dalam membangun pemahan dan memberi makna terhadap informasi dan peristiwa yang dialami (Benny A,Pribadi :2009, hlm. 156)
Collay mengemukakan bahwa pendekatan konstruktivisme merujuk kepada assumsi bahwa manusia mengembangkan dirinya dengan cara melibatkan dirinya baik dalam kegiatan cecara personal maupun sosial dalam membangun ilmu pengetahuan (Benny A,Pribadi :2009, hlm. 156-157)
Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan beberapa komponen penting sebagai berikut :
1.      Belajar Aktif (Active Learning)
2.      Siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang bersifat otentik dan situasional
3.      Aktivitas belajar harus menarik dan menantang
4.      Siswa haru dapat mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah dimiliki sebelumnya dalam sebuah proses yang disebut “bridging
5.      Siswa harus mampu merefleksikan pengetahuan yang sedang dipelajari
6.      Guru harus lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang dapat membantu siswa dalam melakukan konstruksi pengetahuan. Dalam hal ini, guru tidak lagi hanya sekedar berperan sebagai penyaji informasi
7.      Guru harus dapat memberi bantuan berupa scaffolding yang diperlukan oleh siswa dalam menempuh proses belajar (Benny A,Pribadi :2009, hlm. 161)
Pelaksanaan pembembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Konstruktivisme menurut Hemat penulis dapat melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan dan dapat pula mengembangkan aktivitas kreatif yang  melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran melalui kemampuan individu dan mampu melatih pola pikir melalui gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan. Tahap pelaksanaan Pendekatan Konsruktivisme dikelas dapat penulis gambarkan sebagai berikut :
Tabel I : Langkah pendekatan Konstruktivisme dalam proses pembelajaran
Tahap
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar
Tahap 2
Apersesi
Guru menyampaikan informasi atau materi terdahulu agar siswa dapat dan mampu menhubungkan pembelajaran terdahulu terhadap materi yang akan dbahas
Tahap 3
Penyampaian Materi Pelajaran
Guru menyampaikan materi dan menjelaskan materi yang akan dipelajari kemudia guru memberikan Kepada setiap siswa materi yang harus diselesaikan
Tahap 4
Pelaksanaan pemebelajran
Guru berberan sebagai fasilitator dalam pembelajaran, dengan subjek siswa yang berperan aktif dalam proses pemecahan permasalahan melalui ide dan pikiran serta pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Tahap 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar seluruh hasil belajar siswa terhadap materi yang telah ditugaskan kepada setiap siswa
Prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme  menrut suparno antara lain:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
2.      Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa
3.      Mengajar adalah membantu siswa untuk belajar
4.      Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
5.      Kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan
Guru sebagai Fasilitator ( Trianto, :2009 hlm. 29)
Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pebelajaran kognitif yan baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranspormasikan informasi kompleks, megecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan mereverisinya apabila aturan-aturan itu tidak berlaku lagi. Bagi siswa benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide ( Trianto, :2009 hlm. 74)
Menurut teori ini, satu prinsip paling pentung dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan dibenaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjatnya ( Trianto, :2009 hlm. 74)
Esensi dari teori Konstruktivisme adalah ide bahwa harus siswa sendiri yang menemukan dan mentranspormasikan sendiri suatu informasi kompleks apabila mereke menginginkan informasi itu menajadi miliknya. Konstruktivisme adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melaui pengalaman dari interaksi mereka. Menurut pendapat konstruktivisme anak secara aktif membangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain konstruktivisme adalah terori perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita (Trianto, :2009 hlm. 74)
Konstruktivisme dikembangkan luaskan oleh Jean Pieget, ia dikenal sebagai psikolog, pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar mengajar (Martinis Yamin, :2008hlm 8)
Dalam konsep utama piaget  proses pembelajaran kontruktivisme merupakan kelanjutan dari pembelajaran kognitif yang dibangun dari hasil kerja piaget. Konsep-konsep penting dalam pemikiran piaget tersebut adalah schemata, asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi, serta interiorisasi yaitu sebagai berikut :
1.      Schemata merupaan sebuah potensi yang dimiliki oleh seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu dalam merespon lingkungan.
2.      Asimilasi merupakan proses merespon lingkungan yang dilakukan seseorang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
3.      Akomodasi yaitu proses memodifikasi stuktur kognitifnya. Atau mengembangkan struktur kognitif yang dimiliki oleh seseorang.
4.      Ekuilibrasi yaitu pencapaian keseimbangan antara kognitif yang dimiliki dengan lingkungan yang ada disekitarnya.merupakan tendensi  bawaan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengorganisasikanpengalaman agar mendapatkan adaptasi yang optiml dengan lingkungannya.
5.      Interiorisasi yaitu meningkatnya struktur kognitif dan menurunnya ketergantungan seseorang terhadap lingkungan fisiknya.(http://www.vilila.com/2010/10/teori-belajarkonstruktivi sme.html#ixzz1M982gRBc)
Pradigma kostruktivisme oleh pieget melandasi timbulnya strategi kognitif, disebut teori meta cognition, meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikir. (Martinis Yamin, :2008 hlm 10)
Menurut Presseisen meta cognition meliputi 4 jenis keterampilan yaitu :
1.      Keterampilan memecahkan masalah (Problem solving)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikir untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternative pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif
2.      Ketemapilan pengambilan keputusan (Decision making)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikir untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternative, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan rasional.
3.      Keterampilan berpikir kritis (Critical thingking)
Ketermampulan individu dalam menggunakan proses berfikir untuk menganalisa argument dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argument, dan interpretasi yang logis.
4.      Keterampilan berpikir kreatif (Creative thingking)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikir untuk menganalisa gagasan yang baru, konstruksi berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan interpretasi yang logis. (Martinis Yamin, :2008 hlm 10-11)
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi
2.      Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan
3.       Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik (http://www.vilila.com/2010/10/teori-belajarkonstruktivi sme.html#ixzz1M982gRBc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *