PENGERTIAN, ASAS, SIFAT, PERAN, FUNGSI DAN PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)

2,033 views

PENGERTIAN BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)

PENGERTIAN, ASAS, SIFAT, PERAN, FUNGSI DAN PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)
BMT adalah sebuah lembaga yang tidak saja berorientasi bisnis tetapi juga sosial, juga lembaga yang tidak melakukan pemutusan kekayaan pada sebagian kecil orang pemilik modal (pendiri) dengan penghisaban pada mayoritas orang (anggota, peminjam yang mayoritas usaha kecil dan mikro), tetapi lembaga yang kekayaannya terdistribusi dan “ditakdirkan” untuk menolong kelompok mayoritas yakni pengusaha kecil, lembaga yang tidak terjebak pada permainan bisnis untuk mencapai kemakmuran bersama, lembaga yang tidak terjebak pada pikiran pragmatis tetapi memiliki konsep idealis yang istiqomah.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa BMT adalah sebuah Lembaga Keuangan yang dioperasikan dengan sistem yang sesuai Syariat Islam. BMT merupakan isntitusi yang menjalankan dua kegiatan secara terpadu, yaitu Bait Al-Maal (melakukan kegiatan sosial dan dakwah), dan Bait At-Tamwil (melakukan kegiatan bisnis).[1]

ASAS DAN PRINSIP DASAR BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)

PENGERTIAN, ASAS, SIFAT, PERAN, FUNGSI DAN PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)
BMT didirikan dengan berasaskan pada masyarakat yang salaam, yaitu penuh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan, prinsip dasar BMT adalah:
1)      Ahsan (mutu, hasil kerja terbaik), thayyiban (terindah), ahsanu, amala (memuaskan semua pihak), dan sesuai dengan nilai-nilai salaam, (keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan).
2)      Barokah, artinya berdayaguna, berhasil guna, adanya penguatan jaringan, transparan, keterbukaan, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat.
3)      Spiritual communication (penguatan nilai ruhiyah).
4)      Demokratis, partisipatif, dam inklusif.
5)      Keadilan sisoal dan kesetaraan jender, non-diskriminatif.
6)      Ramah lingkungan.
7)      Peka dan bijak terhadap pengetahuan dan budaya lokal serta keanekaragaman budaya.
8)      Keberlanjutan, memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan diri dan lembaga msyarakat lokal.

SIFAT, PERAN, DAN FUNGSI BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)

PENGERTIAN, ASAS, SIFAT, PERAN, FUNGSI DAN PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)
BMT bersifat terbuka, independen, tidak partisan, berorientasi pada pengembangan tabungan dan pembiayaan untuk mendukung bisnis ekonomi yang produktif bagi anggota dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar, terutama usaha mikro dan fakir miskin.
Peran BMT di masyarakat adalah sebagai:
1)      Motor penggerak ekonomi dan sosial masyarakat banyak.
2)      Ujung tombak pelaksanaan sistem ekonomi syariah.
3)      Penghubung antara kaum aghnia (kaya) dan kaum dhu‟afa (miskin).
4)      Sarana pendidikan informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah, ahsanu amaka, dan salaam melalui spiritual communication dengan dzikir qalbiyag ilahiah.
Fungsi BMT di masyarakat adalah:
1)      Meningkatkan kualitas SDM anggota, pengurus, dan pengelola menjadi lebih profesional, salaam, dan amanah sehingga semakin utuh dan tangguh dalam berjuang dan berusaha (beribadah) menghadapi tantangan global.
2)      Mengorganisasi dan memobilisasi dana sehingga dana yang dimiliki oleh masyarakat dapat termanfaatkan secara optimal di dalam dan di luar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak.
3)      Mengembangkan kesempatan kerja.
4)      Mengukuhkan dan meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota.
5)      Memperkuat dan meningkatkan kualitas lembaga-lembaga ekonomi dan sosial masyarakat banyak. [2]
BACA JUGA  PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH

PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)

PENGERTIAN, ASAS, SIFAT, PERAN, FUNGSI DAN PRODUK BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL)
Produk BMT secara umum adalah:
1)      Produk Pengumpulan Dana
Adapun akad yang mendasari berlakunya simpanan di BMT adalah akad Wadiah dan Mudharabah.
a)      Simpanan Wadiah, adalah titipan dana yang tiap waktu dapat ditarik pemilik atau anggota dengan cara mengeluarkan semacam surat berharga pemindah bukuan/transfer dan perintah membayar lainnya. Simpanan wadiah dikenakan biaya administrasi namun oleh karena dana dititipkan diperkenankan untuk diputar maka oleh BMT kepada penyimpan dana dapat diberikan semacam bagi hasil sesuai dengan jumlah dana yang ikut berperan di dalam pembentukan laba bagi BMT . Simpanan yang berakad wadi’ah ada dua:
(1)   Wadi’ah Amanah
(2)   Wadi’ah Yadhomanah
b)      Simpanan Mudharabah, adalah simpanan pemilik dana yang penyetorannya dan penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati sebelumnya. Pada simpanan mudharabah tidak diberikan bunga sebagai pembentukan laba bagi BMT tetapi diberikan semacam bagi hasil. Variasi jenis simpan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi simpanan, seperti:
(1)   Simpanan Idul Fitri
(2)   Simpanan Idul Qurban
(3)   Simpanan Haji
(4)   Simpanan Pendidikan
(5)   Simpanan Kesehatan, dll.
Selain kedua jenis simpanan tersebut, BMT juga mengelola dana ibadah seperti Zakat, Infaq dan Shodaqoh (ZIS), yang dalam hal ini BMT dapat berfungsi sebagai amil.
2)      Produk Penyaluran Dana
BMT bukan sekedar lembaga keuangan non bank yang bersifat sosial. Namun, BMT juga sebagai lembaga bisnis dalam rangka memperbaiki perekonomian umat. Sesuai dengan itu, maka dana yang dikumpulkan dari anggota harus disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada anggotanya. Pinjaman dana kepada anggota disebut juga pembiayaan. Pembiayaan adalah suatu fasilitas yang diberikan BMT kepada anggotanya untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan oleh BMT dari anggotanya. Orientasi pembiayaan yang di berikan BMT adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan pendapatan anggota dan BMT. Sasaran pembiayaan ini adalah semua sektor ekonomi seperti pertanian, industri rumah tangga, perdagangan dan jasa. Ada berbagai jenis pembiayaan yang dikembangkan oleh BMT, yang kesemuanya itu mengacu pada dua jenis akad, yaitu:
a)      Akad syirkah
b)      Akad jual beli
Dari kedua akad ini dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh BMT dan anggota. Diantara pembiayaan yang sudah umum dikembangkan oleh BMT maupun lembaga keuangan islami lainnya adalah:
a)      Pembiayaan Bai’ bitsaman ajil (BBA). Pembiayaan berakad jual beli adalah suatu perjanjian pembiayaan yang disepakti antara BMT dengan anggotanya, dimana BMT menyediakan dananya untuk sebuah investasi atau pembelian barang modal dan usaha anggotanya yang kemudian proses pembayarannya dilakukan secara mencicil atau angsuran. Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh pinjaman adalah jumlah atas harga barang modal dan mark-up yang disepakati.
b)      Pembiayaan Murabahah (MBA), pembiayaan berakad jual beli. Pembiayaan murabahah pada dasarnya merupakan kesepakatan antara BMT sebagai pemberi modal dan anggota sebagai peminjam. Prinsip yang digunakan adalah sama seperti pembiayaan bai’ bithaman ajil, hanya saja proses pengembaliannya dibayarkan pada saat jatuh tempo pengembaliaannya.
c)      Pembiayaan Mudharabah (MDA). Pembiayaan mudharabah adalah suatu perjanjian pembiayaan antara BMT dan anggota dimana BMT menyediakan dana untuk penyediaan modal kerja sedangkan peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usahanya. Jenis usaha yang dimungkinkan untuk diberikan pembiayaan adalah usaha-usaha kecil seperti pertanian, industri rumah tangga, dan perdagangan.
d)     Pembiayaan Musyarakah (MSA). Pembiayaan dengan akad syirkah adalah penyertaan BMT sebagai pemilik modal dalam suatu usaha yang mana antara resiko dan keuntungan ditanggung bersama secara berimbang dengan porsi penyertaan.
e)      Pembiayaan al-Qordhul Hasan. Pembiayaan dengan akad ibadah. Pembiayaan Qordhul Hasan adalah perjanjian pembiayaan antara BMT dengan anggotanya. Hanya anggota yang dianggap layak yang dapat diberi pinjaman ini. Kegiatan yang dimungkinkan untuk diberikan pembiayaan ini adalah anggota yang terdesak dalam melakukan kewajiban-kewajiban non usaha atau pengusaha yang menginginkan usahanya bangkit kembali yang oleh karena
ketidak mampunya untuk melunasi kewajiban usahanya.[3]
BACA JUGA  PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH



[1] Syarifudin Arif, Manajemen Keuangan Syariah, (STAIN Tulungagung:  2011), hal. 105 
[2] Ibid., hal.106
[3] Muhammad, Lembaga-Lembaga Keuangan Umat Kontemporer eds. 1 Cet. 1, (Yogyakarta: UII Press, 2000), hal. 117  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *