PENGERTIAN BUDAYA SECARA UMUM DAN PENGERTIAN BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

3,448 views

PENGERTIAN BUDAYA SECARA UMUM

PENGERTIAN BUDAYA SECARA UMUM DAN PENGERTIAN BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang artinya akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartika sebagai: “hal-hal yang bersangkut-paut dengan akal.” Dalam istilah “antropologi-budaya” pengertian “budaya” sama dengan “kebudayaan”. E.B. Taylor, Bapak dan pakar dunia Antropologi Budaya, mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh anggota-anggota suatu masyarakat.[1]
Mudji Sutrisno dalam bukunya (Teori-Teori Kebudayaan) mengartikan budaya sebagai kebiasaan-mungkin yang sudah mengakar lama hingga dianggap berasal dari suku atau struktur genetika seseorang.[2]Menurut Joko Tri prasetya dalam bukunya (Ilmu Budaya Dasar) mendefinisikan budaya sebagai sebuah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.[3]
Geet Hofstede dalam Culture’s Consequences mendefinisikan budaya ssebagai “Collective programming of the mind.” Atau collective mental program. Mental programing terdapat pada tiga level: (1) universal level of mental programming, yaitu sistem biologikal operasional manusia termasuk perilakunya yang bearsifat universal, seperti senyum dan tangis yang terjadi dimana-mana sepanjang sejarah, (2) collective level of mental programming, misalnya bahasa, dan (3) individual level of mental programming, misalnya kepentingan individual.[4]

PENGERTIAN BUDAYA PERSPEKTIF ISLAM

PENGERTIAN BUDAYA SECARA UMUM DAN PENGERTIAN BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Budaya adalah segala nilai, pemikiran, serta simbol yang mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, serta kebiasaan seseorang dan masyarakat. Contohnya adalah budaya tepat waktu. Rosulullah menjelaskan bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak boleh diabaikan. Rosulullah SAW memberi contoh bagaimana beliau menyikapi ketepatan waktu, kemudian diikuti oleh sahabat beliau.
Dalam sebuah hadits  riwayat Imam Baihaqi, Rosulullah SAW bersabda,
Artinya: “Siapkan lima sebelum (datangnya) lima. Masa hidupmu sebelum datang waktu matimu, masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” (HR Baihaqi dari Ibnu Abbas).[5]
Demikian pula Ibnu Umar dalam sebuah riwayat Imam Bukhari mengatakan,
Artinya: “Jika engkau pada waktu sore, maka jangan engkau menunggu waktu datangnya waktu pagi, dan jika engkau pada waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu datangnya waktu sore, dan pergunakanlah (beramallah) pada waktu sehatmu sebelum datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah (beramallah) pada waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu.” (HR. Bukhari) [6]
Kroeber dan Kluckhohn mengelompokkan definisi-definisi budaya menjadi 6 (enam) kelompok definisi yakni definisi yang bersifat deskriptif, historik, normatif, psikologik, struktural dan genetik.
1)      Definisi deskriptif, definisi yang masuk dalam kelompok ini cenderung menekan pada pandangan “budaya sebagai suatu totalitas yang komperhensif”. Oleh karenanya definisi ini mencoba membuat daftar semua aspek kehidupan dan aktivitas manusia sebagai suatu contoh tentang apa yang dimaksud dengan budaya.
2)      Definisi historis, definisi ini cenderung lebih menekankanpada akumulasi tradisi yang terjadi dari waktu ke waktu ketimbang mempertimbangkan totalitas atau fenomena budaya. Dalam definisi ini, oleh karenanya, sering digunakan istilah beritage– hubungan darah dan  beridity – keturunan untuk menunjukkan adanya kesinanmbungan historis kebudayaan.
3)      Definisi normatif, definisi ini menekankan pada pentingnya peran shared norms – kaidah-kaidah yang dipahami dan dijiwai bersama sebagai pengatur laku bagi sekelompok manusia (masyarakat). Berbeda dengan definisi deskriptif dan historis yang lebih mengamati fenomena budaya yang kasat mata, definisi normatif menuntut kita untuk menggali aktivitas-aktivitas yang lebih tersembunyi yang menjadi penyebab timbulnya budaya yang kasat mata tersebut. Oleh karenanya, dalam definisi ini sering digunakan istilah budaya eksplisit,  dan budaya implisit masing-masing untuk menunjukkan komponen budaya yang tampak dan komponen yang tersembunyi.
4)      Definisi psikologis, definisi ini menekankan pada berbagai macam atau karakterisitik psikologis seperti penyesuaian diri, pola pembelajar (learn) dengan kebiasaan sebagai ungkapan budaya. Kelompok definisi ini menjelaskan bagaimana sebuah kelompok belajar menyesuaikan diri dengan sesuatu yang sudah menjadi tradisi, bagaiman budaya dipelajari dan bagaiman proses pembelajaran tersebut menghasilkan kemapanan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada.
5)      Defini struktural, kelompok difinisi ini menekankan pada pentingnya pola, struktur atau organisasi budaya. Jadi pada dasarnya kelompok pada definisi ini merupakan perluasan dari kelompok pertama dengan membagi keseluruhan total budaya menjadi beberapa sub kelompok budaya yang masing-masing mempunyai ciri tersendiri meski masih saling berhubungan antara satu kelompok dengan kelompok lainya dalam membentuk tatanan yang ada. Dalam kelompok definisi ini isu sentralnya adalah budaya bukan sekedar daftar atau gugusan adat istiadat, tetapi merupakan suatu pola utuh yang memiliki kakhasan namun masih saling terkait.
6)      Definisi genetik, kelompok definisi ini menekankan pada pentingnya genesis atau keaslian budaya. Ada 3 (tiga) isu sentral yang berkembangan dalam kelompok definisi ini yaitu budaya lahir dari proses adaptif terhadap habitat sebuah kelompok, budaya lahir dari interaksi sosial dan budaya lahir karena proses kreatif yang menjadi ciri manusia.[7]
BACA JUGA  STANDAR KINERJA KARYAWAN



[1] Haryo S Martodirjdo, Pemahaman Lintas Budaya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004), hal. 20
[2] Mudji Sutrisno, Teori-Teori Kebudayaan, (Jakarta: YKPN, 2003), hal. 257
[3] Joko Tri prasetya, et. all., Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: MKDU, 2004), hal. 28
[4] Ibid., hal. 44
[5] Achmad Sobirin, Budaya Organisasi, (Yogyakarta: YKPN, 2007), hal. 50
[6] Ibid., hal. 51
[7] Ibid., hal. 58-59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *