PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

3,965 views
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

1.    Pengertian Hibah

Dalam bahasa Arab, hibah disebut dengan al-hibah, secara bahasa dari hubbub al-rib, yaitu: “perlewatan untuk melewatkan dari tangan kepada orang lain”.[1] Selain itu, hibah juga diartikan sebagai pemberian, hal ini karena didalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 38 telah menceritakan tentang permohonan dari Nabi Zakaria kepada Allah, sebagai berikut:

  

“di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.[2]
Hibah adalah memberikan suatu barang yang pada ghalibnya sah dijual atau piutang oleh orang ahli tabarru’ dengan tanpa ada pertukaran.[3]Menurut KUHPer, hibah adalah suatu perjanjian dengan mana penghibah diwaktu hidupnya dengan cuma-cuma dan tidak dapat ditarik kembali menyerahkan sesuatu benda guna keperluan penerima hibah yang menerima penyerahan itu.[4] Hibahyang berarti pemberian, maka pemberi harus benarbenar rela melepas harta yang telah dia berikan kepada orang lain dengan tanpa meminta atau sekedar mengharap imbalan dari orang lain dan tanpa sebab apapun. Jika seseorang memberikan sejumlah harta kepada orang lain dengan tujuan untuk memuliakannya maka hal itu disebut dengan hadiah.[5] Akan tetapi jika seseorang memberi dengan tanpa mengharap imbalan apapun selain ridlo dari Allah SWT maka itu disebut dengan sedekah atau shodaqoh.[6]
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

2.    Dasar Hukum Hibah

a.    Al-Quran
“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya” [7]

“memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya”[8]
b.    Al-Hadits
 “diriwayatkan dari Abu Hurarirah r.a bahwa Nabi SAW bersabda: sekiranya saya diundang untuk makan sepotong kaki binatang, pasti saya kabulkan undangan tersebut; begitu juga kalau sepotong kaki binatang dihadiahkan kepada saya, tentu akan saya terima”(HR. Bukhori)[9]
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

3.    Syarat Dan Rukun Hibah

Para imam madzhab sepakat, hibah menjadi sah hukumnya jika dilakukan dengan tiga perkara[10]:
a.    Shighat(ijab Qobul)
b.    Qabdhu(serah terima barang yang dihibahkan)
c.    Ada yang memberi dan diberi[11]
Dari ketiga rukun hibahtersebut, masing-masing rukun memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a.    Shighat(Ijab Qobul), disyaratkan bahwa:
1.    Kata-kata dalam ijab qobul harus jelas pengertiannya
2.    Harus bersesuaian antara ijab dan qobul
3.    Harus menggambarkan kesungguhan kemauan[12]
b.    Qabdhu(serah terima barang yang dihibahkan), disyaratkan bahwa:
1.    Benda tersebut benar-benar ada
2.    Benda tersebut mempunyai nilai
3.    Benda tersebut dapat dimiliki zatnya
4.    Benda tersebut dapat dipisahkan dan diserahkan kepada penerima hibah
c.    Ada yang memberi dan diberi, untuk pemberi hibah maka disyaratkan bahwa[13]:
a.    Barang yang dihibahkan adalah milik si pemberi hibah
b.    Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan
c.    Dewasa dan tidak kurang akal
d.   Tidak ada unsur paksaan
e.    Ada ketika hibah dilakukan

4.    Macam – Macam Hibah

a.    Hibah ‘Umra
Hibah ‘Umra merupakan salah satu warisan budaya orang-orang Arab Jahiliyah. Disebut demikian karena orang Jahiliyah jika memberikan sesuatu kepada orang lain, maka akan berkata kepadanya saya berikan ;umra ini kepadamu, artinya saya mubahkan untukmu selama umurmu dan hidupmu.[14]Hal ini disamakan dengan ariyah (pinjam meminjam).[15] Sehingga Qabdhu (obyek hibah) hanya berlaklu jika si penerima hibah masih hidup dan harus dikembalikan oleh ahli waris jika si penerima telah meninggal.
b.    Hibah Ruqba
Hibah ruqba adalah hibahyang akan memiliki kejelasan hukum jika pemberi atau penerima hibah telah meninggal salah satunya. Misalnya seorang yang memberikan hibah berkata, “jika engkau mati sebelumku, pemberian itu tetap kembalikan kepadaku.”[16]
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

5.    Etika Menolak atau Menerima Pemberian

Kebaikan maksud orang untuk memberikan sejumlah harta kepada orang lain harus diapresiaisi positif, karena sudah berniat baik kepada orang lain dan juga menjaga keharmonisan hidup sesama manusia. Selain itu, dia juga telah melaksanakan transfer harta kepada mereka yang membutuhkan, dan juga telah melakukan syiar Islam secara tidak langsung, dalam sebuah Haditsnya Rasulullah SAW bersabda:

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima pemberiah hadiah dan membalasnya (HR Bukhari)“.[17]
Umat Islam dilarang menyakiti baik secara fisik ataupun psikis orang lain baik kepada sesama Islam ataupun dengan non Muslim. Hal ini dikarenakan umat manusia tercipta untuk Saling tolong menolong dan bukan untuk salaing menyakiti. Firman Allah:
 

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”[18]
Meskipun pemberian orang lain tidak disukai oleh penerima, akan tetapi didasari dengan rasa ikhlas dari pemberi, secara umum penerima diharuskan untuk menerimanya. Karena dengan menerima harta pemberian dari orang lain, maka itu sudah membuat bahagia orang lain selaku pemberi dan praktis itu juga sudah memberikan sebuah rasa saling menghormati antar sesama manusia.
Dengan niat baik dan keikhlasan yang tinggi dari pemberi hibah dan dengan harapan akan diterima, akan tetapi kenyataan dan keinginan tidaklah selamanya memiliki kesamaan. Meski demikian, hal itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup bermasyarakat. Pemberi hibahhendaknya tidak merasa kecewa atau merasa direndahkan, karena setiap manusia memiliki keinginan yang berbeda-beda dan karakter yang berbeda-beda pula.
Selain itu, penerima yang menolak hibah, maka sebaiknya juga melakukan penolakan dengan cara yang halus dan sopan, karena dikhawatirkan jika ditolak dengan cara yang kasar akan menyinggung perasaan dari pemberi hibah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan kepada umat manusia mengenai tata cara untuk menolak pemberian dari orang lain dengan cara yang halus dan sopan, adapun cara-cara menolak pemberian dari orang lain menurut Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
a.    Hindari menolak pemberian atau permintaan dari orang lain
Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang artinya:
Diriwayatkan dari Annas r.a, dia berkata Nabi SAW bersabda: tidak pernah menolak hadiah berupa wewangian. (H.R. Al-Bukhori)[19]
b.    Niat baik dalam menolak
Jika memang terpaksa menolak orang lain, maka haruslah dilakukan dengan niat dan cara yang baik. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi berikut:
Dari Amirul Mu’minin yakni Abu Hafsh Umar bin Al Khotob RA. Dia berkata: aku telah mendengar Rosulullah SAW bersabda: sesungguhnya sahnya amalan-amalan itu hanya dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap seorang apa yang menjadi niatnya .” )H.R. Bukhori)[20]
c.    Menolak dengan sikap dan perkataan yang lembut
Seorang Muslim tidak boleh berlaku dan bersikap kasar terhadap saudaranya, tetapi harus bersikap lemah lembut, penuh cinta dan kasih yang tulus.[21]
d.   Niat baik dalam menolak
Jika memang terpaksa menolak orang lain, maka haruslah dilakukan dengan niat dan cara yang baik.
e.    Menyampaikan alasan dalam menolak
Jika memang harus menolak pemberian dari orang lain, maka harus disertai dengan alasan yang baik dan masuk akal. Karena yang sering menimbulkan perpecahan dalam umat Islam karena ditolak pemberian adalah jika penolakan dilakukan dengan cara yang kasar, bernada melecehkan dan tanpa alasan yang masuk akal.[22]
f.     Penolakan tidaklah bertentangan dengan syariat
Ketika ada permintaan atau pemberian yang mana itu melanggar syariat Islam maka harus ditolak, hal ini didasarkan pada firman Allah QS. Al-‘Ashar ayat 2-3, sebagai berikut:
“(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.[23]
g.    Memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara
Dengan memperhatikan lawan bicara, maka penolakan akan dapat dilaksanakan dengan mudah, akan tetapi jika tidak diperhatikan maka dikhawatirkan akan menimbulkan kesalah-pahaman terhadap pemberi tersebut. Selain itu, dengan tidak memperhatikan lawan bicara juga akan berakibat pada pemberi hibah akan memberi label buruk terhadap pihak yang menolaknya.
h.    Menghindari perdebatan
Islam telah melarang umatnya untuk berdebat, terlebih jika dilakukan untuk mempertahankan pendapat yang tidak benar. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Allah telah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 107):
dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,[24]
Akan tetapi jika perdebatan untuk membela yang benar tidak dapat terelakkan, maka harus dilakukan dengan cara yang halus, baik dan santun, hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 125) sebagai berikut:
serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[25]
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT RUKUN, MACAM-MACAM, ETIKA, DAN HUKUM MEMINTA KEMBALI HARTA YANG DIHIBAHKAN

6.    Hukum Meminta Kembali Harta Yang Dihibahkan

secara umum, harta yang telah diberikan masih tetap milik pemberi, jika calon penerima hibah belum menerima harta tersebut meskipun calon penerima telah meninggal sebelum menerima harta tersebut. Jika calon penerima meninggal sebelum menerima, maka pemberi berhak untuk menarik kembali harta yang telah dihibahkan, meskipun disisi lain ahli waris dari calon penerima tersebut juga boleh menerimanya.
Sehingga jika calon penerima sudah menerima harta hibah, maka hukum meminta kembali harta tersebut adalah haram. Dalam sabdanya Rasulullah SAW menyatakan bahwa:
 “dari Ibnu ‘Abbas R.A, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: tak ada perumpamaan yang palin jelek menurut kami kecuali perumpamaan orang yang meminta kembali benda-benda yang telah diberikannya seperti anjing yang muntah kemudian memakan kembali muntahannya itu”. (HR. Muslim)[26]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum menarik kembali harta yang telah dihibahkan adalah haram, selain itu juga memberikan efek negatif kepada penerima hibah, karena dia akan merasa dipermainkan akan menimbulkan permusuhan didalam anggota mesyarakat.



[1] Hendi Suhendi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Fiqh Muamalah, 2002), Hal. 209
[2] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 42
[3] Syeh Zainuddin bin Muhammad al Ghozaly al Malibary, Fathul Mu’in jilid 2, terj. Aliy As’ad, Fathul Mu’in, (Yogyakarta: Menara Kudus, Tanpa Tahun), hal. 324
[4] Kitab undang-undang perdata = burgerlijk wetboek : dengan tambahan undang-undang pokok agrarian dan undang-undang perkawinan, terj. R. Subekti dan R. tjitrosudibio, (Jakarta: pradnya paramita, 2006), hal. 436
[5] Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Islam), (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1994), hal. 326
[6] Ibid., hal. 326
[7] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 85
[8] Ibid., hal. 21
[9] Al-Imam Zainudun Ahmad bin Abd Al-Lathif Az-Zabidi, Mukhtshar Shahih Al-Bukhari Al-Musamma, terj. Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), hal. 432
[10] Syaikh al – Alamah Muhammad, Rahmah Al-Ummah fi Ikhtilafi Al-A’immah, terj. ‘Abdullah Zaki Alkaf, (Bandung: Hasyimi Press, 2004), hal. 309
[11] Sulaiman Rasyid, Fiqh Isla…, hal. 327
[12] Hendi Suhendi,  Fiqih…, hal. 47-48
[13] Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hal. 115-116
[14] Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih…, hal. 459
[15] Miftah Noor Rosyid, Analisis Terhadap Pendapat Imam Malik Tentang Kebolehan Hibah ‘Umra, (Semarang, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010), Hal. 20
[16] Hendi Suhendi,  Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 215
[17] Al-Imam Zainudun Ahmad bin Abd Al-Lathif Az-Zabidi, Mukhtshar Shahih…, hal. 536
[18] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 85
[19] Al-Imam Zainudun Ahmad bin Abd Al-Lathif Az-Zabidi, Mukhtshar Shahih…, hal. 536
[20] Imam Nawawi, Hadits Arba’in Nawawi, Terj. Abdul Murhaimin As’ad, (Surabaya: Ar-Rohmah, TT), Hal. 13-14
[21] Herryanto Al-Fandi, Etika…, Hal. 163
[22] Ibid…, hal. 164
[23] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 482      
[24] Ibid…, hal. 76
[25] Ibid…, hal. 224
[26]   Imam Al-Mundziri, Mukhtshar Shahih Muslim, terj.Achmad Zaidun, (Jakarta: Pustaka Amani, 1994), hal. 542
BACA JUGA  MANAJEMEN WAKAF TUNAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *