PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI

381 views
PENGERTIAN WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa Imam Nawawi pernah membahas hukum wakaf tunai (dirham dan dinar) bersama sahabat-sahabatnya. Padahal jika kita tengok, Imam Nawawi adalah ulama’ yang hidup direntang tahun 1234-1278 Masehi (631-676 H). 
Wakaf tunai atau wakaf uang (waqf naqd) sebagaimana dijelaskan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah;
هُوَ وَقْفٌ قَاَم بِهِ شَخْصٌ اَوْ مَجْمُوعةٌ مِنَ الَاشْخَاِص اَو اْلُمَؤَسَسَةِ عَلَي سَورْةَ النُقُوْدِ
Artinya:
Wakaf yang diserahkan oleh seseorang, organisasi atau badan usaha dengan berbentuk uang tunai.[1]
a.       Hukum Wakaf Tunai
Pada pembahasan yang terdahulu talah dijelaskan bahwa ulama’ tidak mendapati secara mantuq (terucap) tentang pengistilahan hukum wakaf dalam al-Qur’an dan hadist. Namun begitu ulama’ sudah sepakat akan dibolehkannya wakaf. Meskipun disana ada perbedaan pendapat tentang kebolehan wakaf benda bergerak, termasuk di dalamnya adalah uang.
Sebagaimana terdapat perbedaan pendapat tentang wakaf benda tidak bergerak, dalam wakaf tunai juga terjadi perbedaan pendapat. Demikian akan peneliti paparkan beberapa pendapat mengenai wakaf uang:
1.      Pendapat para ulama’ dan madzhab
Pendapat pertama menyatakan tidak sahnya wakaf uang. Penganut pendapat ini adalah Ibnu Syasy, Ibn Hajib dari golongan malikiyyah, dan ini sekalikus pendapat yang paling sahih dalam madzhab Syafi’i, dan yang paling terkenal dalam kalangan madzhab Hambali. Dan keputusan itu adalah sekaligus keputusan madzhab Hanafi yang melarang wakaf benda bergerak.
Pendapat kedua:Bolehnya wakaf uang akan tetapi makruh. Pendapat ini adalah salah satu dari pendapat ulama’ malikiyyah.
Pendapat ketiga: Boleh. Dan pendapat ini dianut oleh madzhab Maliki, salah satu pendapat dari kalangan ulama’ syafi’iyah, Ibnu Taimiyyah.[2]
2.      Ketetapan Majma’ Fiqh Al-islami (dewan fiqh sedunia) nomor 140 pasal 2 ayat 1
Wakaf tunai hukumnya boleh secara syariat, karena tujuan dari wakaf adalah menahan harta dan menyalurkan manfaat yang dihasilkannya. Dan karena pada hakikatnya uang tidak berdiri sendiri, ia adalah kertas hutang bagi harta yang lain.[3]
3.    Keputusan MUI tanggal 11 Mei tahun 2002 tentang wakaf uang.
Majelis Ulama’ Indonesia pada tanggal 11 Mei tahun 2002 memfatwakan akan bolehnya wakaf uang dan atau yang sebanding dengannya berupa surat berharga, obligasi, saham dan lain-lain.
Dari pemaparan pendapat diatas dapat disimpulkan, bahwa wakaf tunaihukumnya boleh. Terlebih karena alasan hilangnya asset wakaf (tunai) disebabkan karena termasuk alat tukar yang habis jika di belanjakan bukanlah alasan yang tepat.
SEJARAH WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Untuk memberi pemahaman yang lebih mendalam, serta membangun keyakinan akan legitimasi wakaf tunai dalam sejarah islam, berikut ini akan disajikan kajian sejarah wakaf uang.
Muhyar Fanani menjelaskan, bahwa orang yang pertama kali mengenalkan wakaf uang adalah imam Zufar pada abad 8 Masehi. Ia adalah seorang yang bermadzhab hambali. Model yang digunakan dalam penggalangan dana oleh imam Zufar ini adalah mobilisasi dana yang peruntukaanya untuk akad mudharobah. Keuntungan dari hasil mudharobah inilah yang nanti akan disalurkan untuk program social.
Kegiatan ini disaksikan oleh imam Bukhari. Beliau bahkan mengisahkan bahwa konsep dana yang dilakukan oleh imam Zufar ini dengan cara meyalurkan uang dinar dan dirham dengan berdagang. Dan keuntungan dari  perdagangan itulah yang nantinya digunakan untuk wakaf.
Kegiatan wakaf tunai ini juga dilakukan sejak daulah Turki Usmani dan mamluk. Hanya saja, pengelolaan wakaf tunai terorganisir rapi ketika turki usmani sudah benar-benar matang.[4]
RUKUN DAN SYARAT WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Pada dasarnya tidak ada yang berbeda antara wakaf tunai dan non tunai dari segi pedoman dasar bahwa assetnya harus tetap dan hanya manfaatnya saja yang diperkenankan untuk diambil. Namun begitu, ada beberapa syarat yang memang harus dipenuhi dalam sarat wakaf tunai ini. 
Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) dalam keputusannya tentang wakaf uang mensyaratkan beberapa hal yang menjadi aspek keabsahan wakaf uang tunai. Syarat-syarat tersebut adalah:
a.    Wakaf uang (cash waqf) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau suatu badan hukum dalam bentuk uang tunai.
b.    Termasuk ke dalam pengertian uang tunai adalah surat-surat berharga.
c.    Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).
d.   Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i.
e.    Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.
BENTUK WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Terdapat beberapa masalah ketika paradigma lama wakaf masih dipertahankan sampai sekarang, mengingat bahwa peran wakaf dalam menyelesaiakan masalah-masalah perekonomian sangatlah urgen. Karena itu munculnya gagasan wakaf tunai dan sekaligus sertifikat wakaf tunai mempunyai tujuan strategis bagi mobilisasi dana wakaf dimasa modern seperti sekarang.
Adapun bentuk dari wakaf tunai ini adalah sertifikat yang berisi dengan nominal tertentu mulai dari pecahan Rp. 5000, Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 100.000 rupiah sampai tak terhingga disesuaikan dengan tujuan penggunaan wakaf tunai tersebut.
Mustafa Edwin Nasution pernah mencoba membuat gambaran kasar tentang bentuk wakaf tunai mulai dari pecahan 5000 sampai dengan 100.000 dengan rasio perkiraan pendapatan 10 juta masyarakat muslim menengah Indonesia berpenghasilan antara 500.000 sampai dengan 10.000.000, maka akan terbentuk mobilisasi dana wakaf sebagaimana berikut:
Tabel 2.1
Tabel Gambaran Bentuk Wakaf Tunai
Tingkat penghasilan/bulan
Jumlah muslim
Tarif Wakaf/bulan
Potensi wakaf tunai /bulan
Potensi wakaf tunai/tahun
Rp. 500.000
4 juta
Rp. 5000
Rp. 20 milyar
Rp. 240 milyar
Rp 1-2 juta
3 juta
Rp. 10.000
Rp. 30 milyar
Rp. 360 milyar
Rp. 2-5 juta
2 juta
Rp. 50.000
Rp.100 milyar
Rp. 1,2 Trilyun
Rp. 5-10 juta
1 juta
Rp. 100.000
Rp.100 milyar
Rp. 1.2 trilyun
Total
Rp. 3 trilyun
Dengan demikian, peluang kita dengan rasio diatas setidaknya akan bisa menghimpun dana wakaf sebesar 3 trilyun per tahun.[5] Rasio diatas juga bisa diterapakan di kabupaten atau daerah tertentu sebagai outlook potensi pengembangan wakaf tunai di setiap daerah berdasarkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) masing-masing.
TUJUAN WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Telah dibahas diatas bahwa menurut kesejarahannya wakaf tunai sudah sejak abad 8 masehi. Hanya saja pada waktu itu belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus wakaf tunai dan belum ada mobilisasi wakaf tunai secara besar-besaran. Mobilisasi wakaf tunai digalang secara besar-besaran dilakukan ketika pemerintahan (daulah) turki ustmani.[6]
Adapun tujuan dibentuknya wakaf tunai ini, sebagaimana disebutkan Syafi’i Antonio adalah sebagai berikut:
1.      Wakaf uang jumlahnya bisa berfariasi, sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas pun bisa memberikan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi tuan tanah (hartawan) terlebih dahulu.
2.      Melalui wakaf uang, aset-aset wakaf yang berupa tanah-tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau di olah untuk lahan pertanian.
3.      Wakaf tunai juga bisa digunakan untuk membantu sebagian lembaga-lembaga islam yang kembang kempis dan menggaji civitas akademika ala kadarnya.
4.      Umat islam bisa lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan tanpa harus terlalu tergantung pada anggaran pendidikan negara.[7]
KEGUNAAN WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Secara fleksibilitas wakaf tunai tentu lebih fleksibel jika dibandingkan dengan wakaf properti atau benda tidak bergerak lain. Selain juga bahwa wakaf tunai adalah wakaf harta likuid. Oleh karena sifatnya yang fleksibel dan likuid tersebut maka wakaf tunai mempunyai kegunaan bermacam-macam. Namun secara garis besar penggunaan wakaf tunai terbagi menjadi dua: pertama, untuk pembelian asset wakaf non produktif, seperti untuk membeli bahan material bangunan, persediaan kantor sebagiamana yang terjadi di Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malang dalam pembangunan asrama putri Ar-rohmah,[8]wakaf tunai untuk pembangunan Sekolah Dasar (SD) di BMH Tulungagung,[9]wakaf tunai LMI dalam pembangunan rumah tahfidz,[10]pembangunan insfratruktur dan ekonomi di Lembaga Global Wakaf.[11]Kedua, dipergunakan untuk keperluan pengembangan wakaf yang bersifat produktif. Dan wakaf dalam bentuk kedua inilah yang kemudian dikembangkan sedimikaian rupa, sehingga dalam kasus di negara Bangladesh bermetamorfosis menjadi Bank Islam untuk Sosial (Social Islamic Bank Limited).
Dari beberapa bentuk pengembangan produktif wakaf tunai tersebut, Walid Huwaimil ‘Aujan menjelaskan sebagai berikut:
1.      Wakaf Tunai untuk keperluan Qardhul hasan
Wakaf tunai ini dialakukan dengan cara mengagalang dana dari masyarakat yang peruntukannya nanti untuk dijadikan sebagai pembiayaan modal kebajikan (qard hasan) bagi maukuf alaih (sasaran wakaf).
2.      Wakaf Tunai Untuk Kegiatan Kerjasama Mudharobah
Yaitu dengan cara menggalang dana wakaf tunai yang kemudian di investasikan kepada usaha ri’il, dimana nanti keuntungannya yang didapatkan (setelah dibagi hasil) akan disalurkan kepada sasaran wakaf (maukuf alaih)
3.      Wakaf Tunai untuk Kegiatan kerjasama Berbasis Sukarela (Al-ibtho’)
Yaitu penggalangan dana wakaf  tunai yang kemudian diinvestasikan pada dunia usaha dengan keseluruhan keuntungan (yang didapat) untuk disalurkan pada sasaran wakaf (maukuf alaih). Artinya pengelola usaha bekerja tanpa mendapat bagian keuntungan dari kegiatan kerjasama (charity).
4.      Wakaf Tunai untuk Kegiatan Pembiayaan istishna’
Yaitu dengan cara menggalang dana wakaf tunai kemudian  digunakan sebagai saldo usaha jasa pengadaan barang dengan akad istishna’. Termasuk dalam akad ini adalah akad salamdan murabahah.[12]
            Sementara itu, Qorhdhagi menambakan bahwa wakaf tunai juga bisa digalang untuk tujuan pembelian obligasi dan syukuksyariah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh majma’ fiqh islam nomor 62/11/6.[13]
MANFAAT WAKAF TUNAI
PENGERTIAN, HUKUM, SEJARAH, RUKUN SYARAT, TUJUAN, KEGUANAAN, MANFAAT DAN RESIKO WAKAF TUNAI
Ketika Rasulullah Muhammad shollallahu alaihi wasallam pertama kali hijrah, wakaf pertama yang disaksikan sejarah Islam adalah tanah dan bangunan yang dibangun oleh kaum muslim berbentuk masjid quba’. Masjid inilah yang dibangun pertama kali dalam Islam. Dimasjid inilah masyarakat muslimin kala itu melakukan aktifitas ibadah sebelum akhirnya meneruskan hijrah ke madinah.
Setelah kejadian itu, beruntun masyarakat Islam mulai berbondong-bondong melakukan wakaf. Mulai dari wakaf yang berbentuk benda bergerak ataupun benda tidak bergerak. Manfaat yang diharapkan  pun bermacam-macam, ada yang digunakan untuk keluarganya sendiri (waqf ahly) dan banyak yang diperuntukkan untuk kesejahteraan umum (waqf khoiry).
Sama dengan tujuan wakaf sebagaimana umumnya, wakaf tunai dibuat untuk tujuan  kesejahteraan keluarga dan kesejahteraan sosial. Caranya, setiap donatur dipersilahkan memilih skim yang diinginkan, kemudian menyalurkan donasinya kepada lembaga yang menjadi pengelola wakaf tunai tersebut. Dengan dasar itulah nantinya lembaga wakaf tunai akan mengelola donasi tersebut.
Sementara itu, sebagai pengembangan dari wakaf untuk jaminan keluarga dan sosial, Social Islamic Bank Limited (SIBL) dalam praktek pengelolaan wakaf tunai mempunyai banyak sasaran sebagaimana yang bisa dilihat dalam tabel berikut:
Praktek Pengelolaan Wakaf Tunai di SIBL Bangladesh
Pemberdayaan Keluarga
Pendidikan dan kebudayaan
Kesehatan dan Sanitasi
Pelayanan Sosial
Pengentasan kemiskinan
Pendidikan bagi yatim piatu
Pemeliharaan kesehatan lingkunngan
Penyelesaian perkara
Pengembangan pendidikan
Bantuan hukum kepada wanita
Rehabilitassi cacat
Pendidikan olah raga
Penyediaan air bersih
Menyelenggarakan perikahan masal
Rehabilitasi pengemis
Pelaksanaan kegiatan dakwah
Pembangunan rumah sakit dan klinik
Transportasi umum dan perkebunan
beasiswa
Kegiatan mencegah kerusuhan
Rehabilitasi wanita papa
Kursus ketrampilan
Riset dibidang kesehatan
Bantuan umum
Pendidikan bidang yang kurang dimnati
Pembangunan masjid
Bantuan kepadda penduduk kumuh
Pendanaan lembaga pendidikan
Pendidikan anak-anak miskin
RESIKO YANG DIHADAPI WAKAF TUNAI DAN PENANGANANNYA.
Wakaf dalam bentuk apapun mempunyai masalahnya sendiri. Jika wakaf itu berbentuk tanah, maka wakaf tersebut cenderung habis karena pajak dan perawatan ketika tidak dikembangakan. Kemudian wakaf pohon dan tanaman juga bisa mati, dan wakaf binatang pun demikian. Pun  apa yang terjadi dengan wakaf uang, ia bisa berkurang karena penurunan nilai ataupun karena kerugian usaha.
Walid Humail Aujan menjelaskan, ada beberapa masalah yang akan dihadapai oleh distribusi wakaf tunai dengan bentuk sebagaimana disebut diatas, dan beberapa kiat penanganan yang bisa di lakukan dalam menghadapainya:
1.      Resiko macet dan hilang
Pada  wakaf tunai dimana pendistribusiannya dengan skim qord hasan dan atau kerja sama (mudorobah dan musyarakah) terdapat resiko uang tidak kembali baik sebagian ataupun keseluruhan. Karena itu, untuk mengantisipasinya bisa diminta jaminan atau penjamin yang betanggung jawab mengganti ketika terjadi kemacetan (NPF).
2.      Resiko penurunan nilai (redenominasi)
Pada dasarnya uang memang selalu menghadapi penurunan nilai, hal itu terjadi sejalan dengan tingkat inflasi yang dialami oleh setiap negara. Karena itu, untuk mensiasatinya, nadzir atau mawali (wali amanah) bisa menyalurkan uang wakaf tunai tersebut dalam bentuk satuan koin emas. Karena nilai emas cenderung lebih aman dari inflasi jika dibandingkan dengan nilai uang kertas.  Dan penyaluran wakaf ini nantinya juga harus dikembalikan dalam bentuk emas kepada nadzir.
b.      Penyelenggara Wakaf Tunai di Indonesia
Untuk memudahkan para calon wakif untuk ikut serta mendonasikan program wakaf tunai, BWI menunjuk 5 (lima) LKS penerima wakaf uang sebagaimana yang telah ditentukan oleh menteri agama. 5 LKS tersebut adalah Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, Bank DKI Syariah dan Bank Mega Syariah.[14]
Sementara itu dari ORMAS dan Lembaga Amil Zakat swasta yang menerima wakaf tunai adalah Dompet Dhuafa’, PKPU, Rumah zakat, BMH, dan LMI.[15]
BACA JUGA  JENIS HARTA YANG WAJIB ZAKAT



[1]Fatwa MUI 11 Mei 2002
[2]Dibyan Muhammad Dibyan, Fi Waqf an-Nuqud  dalam www.alukah.net/web/dbian/0/53279/
[3] Tim Majma’ Fiqh al-Islamy,  Qararat 140, (Maktabah Syamilah Versi 3.48),  hal. 260 
[4]Muhyar Fanani, Wakaf Uang Untuk Kesejahteraan Ummat (Semarang: Artikel Tidak Diterbitkan), hal. 3
[5] Mustofa Edwin Nasution, Wakaf Tunai: Stretegi untuk Menyejahterakan dan Melepaskan Ketergantungan Ekonomi (Depok, CIBER bekerja sama dengan PKTTI-UI, 2001),  hal. 75
[6] Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai (Jakarta, DIRJEN BIMAS Islam, tahun 2006),  hal. 14
[7]Ibid., hal.103
[8]Maysaroh, Manajemen Dana Wakaf Tunai untuk Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Malang: Skripsi tidak diterbitkan, 2010)
[9]Wawancara dengan Ageng Santosa (staff  marketing  BMH Tulungagung)
[10]Nina Indah febriana, Pengelolaan Dana Wakaf Uang: Study Kasus LMI Tulungagung (Skripsi Tidak Diterbitkan:  2012)
[11]Global Wakaf, Wakaf tunai Global Wakaf, dalam www.globalwakaf.com/extra/wakaf-tunai-nominal-bebas/
[12]Walid Huwaimal Auwjan, Waqfu An-Nuqud Washyiaghil Ististmari Fiihi, hal. 55
[13]Qorhdhagi, Ististmar al-waqf wa Thuruq al-Qadimah wa al-Haditsah, (Maktabah Misykah al-Islamiyah), hal. 12
[14]Official Website BWI, Ketentuan Wakaf Uang dan LKS PWU dalam www.bwi.or.id/index.php/ar/berita-mainmenu-109/582-ketentuan-wakaf-uang-dan-lks-pwu
[15]NU Online, Ormas Islam Bisa Menjadi Nadzir Wakaf dalam www.nu.or.id/ormas-islam-bisa-menerima-wakaf-uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *