PENGERTIAN, LANDASAN FILOSOFIS PRILAKU KONSUMEN

293 views
PENGERTIAN, LANDASAN FILOSOFIS PRILAKU KONSUMEN

PENGERTIAN PRILAKU KONSUMEN

Dalam ilmu ekonomi konvensional ada banyak tokoh yang menjabarkan definisi perilaku konsumen itu dalam berbagai sudut pandang mereka. Namun, sebelum lebih jauh lagi kita bahas mengenai pengertian perilaku konsumen, alangkah baiknya kita pahami terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan konsumsi dan konsumen, karena kedua hal ini tidak pernah terlepas dan selalu terkait dengan perilaku konsumen itu sendiri.
Konsumsi dalam bahasa belanda consumptie, ialah kegiatan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda (barang dan jasa). Sedangkan dalam bahasa Latin, berasal dari kata consumption, yang berarti menggerogoti atau menghabiskan.
Menurut Chaney, konsumsi adalah seluruh tipe aktifitas sosial yang orang lakukan sehingga dapat dipakai untuk mencirikan dan mengenal mereka, selain apa yang mungkin mereka lakukan untuk hidup. Chaney menambahkan gagasan, bahwa konsumsi telah menjadi fokus utama kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari gagasan dari budaya konsumen.[1]
Menurut Braudrillard, konsumsi adalah sistem yang menjalankan urutan tanda-tanda dan penyatuan kelompok. Jadi konsumsi itu sekaligus sebagai moral (sebuah sistem ideologi) dan sistem komunikasi, struktur pertukaran. Dengan konsumsi sebagai moral, maka akan menjadi fungsi sosial yang memiliki organisasi terstruktur yang kemudian memaksa mereka mengikuti paksaan sosial yang tak disadari.
Definisi konsumsi menurut cara pandang Durkemian adalah sebuah perilaku aktif dan kolektif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral, dan sebuah institusi. Ia adalah keseluruhan nilai yaitu berimplikasi sebagai fungsi integrasi kelompok dan integrasi kontrol sosial.[2]
Dari beberapa definisi yang diungkapkan para tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa konsumsi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan manfaat suatu barang atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepuasan manusiawi secara langsung. Namun, terkadang ada beberapa macam barang seperti mesin-mesin maupun bahan mentah yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain biasanya disebut dengan konsumsi produktif. Sedangkan konsumsi yang langsung dapat memuaskan kebutuhan disebut konsumsi akhir.
PENGERTIAN, LANDASAN FILOSOFIS PRILAKU KONSUMEN
Secara esensial konsumsi dianggap sebagai maksud serta tujuan dari produksi, atau dengan kata lain produksi merupakan alat bagi konsumsi. Melalui kenyataan tersebut dapatlah diambil semacam pemahaman bahwa produksi itu diperlukan selama masih adanya konsumsi. Misalnya konsumsi itu berhenti sama sekali, dalam arti bila masyarakat tidak memerlukan konsumsi lagi maka produksi pun tidak diperlukan lagi. Akan tetapi logika ini tidak dapat berlaku sebaliknya, yakni tidak dapat dikatakan bahwa jika produksi berhenti maka konsumsi pun harus berhenti pula.[3]
Mengacu dari pada itu, tentunya bila ada aktifitas konsumsi maka pasti ada pelaku yang melakukan aktifitas tersebut, sehingga apabila dimaknai secara umum setiap orang yang melakukan aktivitas konsumsi itulah yang dinamakan dengan konsumen.
Dalam pasal 1 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dijelaskan bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.[4]
Menurut Kotler, konsumen didefinisikan sebagai berikut: Consumers are individuals and household for personal use, producers are individual and organizations buying for the purpose of producing (konsumen adalah individu dan kaum rumah tangga untuk tujuan penggunaan personal, sedangkan produsen adalah individu atau organisasi yang melakukan pembelian untuk tujuan produksi).[5]
Setelah kita pahami pengertian konsumsi dan konsumen, maka kita dapat beranjak dari sini untuk mengacu pada pemahaman tentang perilaku konsumen yang dalam bahasa Inggris disebut dengan consumer behavior. Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan konsumen yang langsung melekat dalam proses mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk barang atau jasa, termasuk proses-proses yang mendahului dan menyusul tindakan ini.
Sedangkan menurut Swastha dan Handoko perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan kegiatan-kegiatan tertentu.[6]
James F. Engel, mengartikan bahwa perilaku konsumen  adalah tindakan–tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomi termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.[7]
Menurut David L. Loudon dan Albert J. Della Bitta, perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam proses mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang–barang dan jasa.[8]
Sedangkan menurut Gerald Zaltman dan Melanie Wallendorf, perilaku konsumen  adalah tindakan–tindakan, proses, dan hubungan sosial yang dilakukan individu, kelompok, dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai suatu akibat dari pengalamannya dengan produk, pelayanan dan sumber-sumber lainnya.[9]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen yaitu tindakan-tindakan dan hubungan sosial yang dilakukan oleh konsumen perorangan, kelompok maupun organisasi untuk menilai, memperoleh dan menggunakan barang-barang serta jasa melalui proses pertukaran atau pembelian yang diawali dengan proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakan-tindakan tersebut.
PENGERTIAN, LANDASAN FILOSOFIS PRILAKU KONSUMEN

LANDASAN FILOSOFI PERILAKU KONSUMEN DALAM EKONOMI KONVENSIONAL

Tokoh yang paling berjasa dalam membangun teori-teori ilmu ekonomi konvensional adalah Adam Smith. Dengan membangun pondasi epistemologi ekonomi dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments ia menjelaskan bahwa kebebasan dan kemerdekaan manusia adalah sebagai ekspresi alamiah, atau lebih dikenal dengan from freedom to natural liberty. Kemerdekaan manusia dalam meraih kebebasan adalah tujuan yang paling utama, sebagaimana Aristoteles juga menyatakan bahwa meraih kebahagiaan dalam bingkai kebebasan adalah tujuan akhir dalam kehidupan manusia.[10]
Sebagaimana yang dikutip Muflih, bahwasanya kemerdekaan dalam pendapat Adam Smith merupakan pengembaraan rasional individu yang membentuk kekuatan nalar. Kemerdekaan dengan demikian mengasumsikan karakter kebahagiaan ala Aristoteles sebagai barang yang unggul. Baik dalam ide kebahagiaan Aristoteles maupun dalam ide kemerdekaan Smith, premis terjadinya hubungan antara kemerdekaan dengan kebebasan alamiah itu hanya dibentuk oleh rasional dan nalar individu. Adam Smith telah mencitrakan setiap individu manusia sebagai makhluk yang selalu terlibat dalam hegemoni pencarian kebebasan optimal yang luar biasa. Ini berarti bahwa manusia cenderung mementingkan diri sendiri (self-interest). Oleh karena itu, timbullah kaidah-kaidah tingkah laku produksi dan konsumsi yang berorientasi pada maksimalisasi kepuasan yang didasarkan pada paradigma utilitarian Jeremy Bentham.[11]
Upaya Jeremy Bentham menjadikan konsep utilitas yang tepat telah menetapkan konsumen untuk memilih satu barang diantara barang-barang lain, karena konsekuensi barang-barang yang satu lebih baik dari pada konsekuensi barang lainnya. Paradigma utilitarian ini juga menganjurkan agar terdapat suatu tujuan yang sama yang kepadanya diarahkan setiap tindakan, tujuan itu adalah kebahagiaan. Karena itu konsep utilitas agar lebih tepat, dengan memperhitungkan persoalan-persoalan dimana bertindak demi memperoleh utilitas yang tinggi tanpa memperoleh dis-utilitas, maka prinsip utilitas itu dapat dirumuskan dalam kata “semua tindakan sebaiknya diarahkan untuk mencapai kesenangan atau menghindari kesusahan”.[12]
Titik tolak segala tanggapan terhadap motivasi konsumen konvensional tidak lain adalah bersumber dari bangunan epistemologi hubungan tripartite antara kemerdekaan (freedom), kebebasan alamiah (natural liberty), dan hukum-hukum moral (moral laws) yang melahirkan sistem ekonomi kapitalis. Landasan filosofi dalam sistem ekonomi konvensional atau sering dikatakan dengan sistem ekonomi kapitalis diantaranya adalah materialisme dan sekularisme.
Dalam perspektif materialisme dan hedonisme, seluruh kegiatan manusia dilatarbelakangi dan diorientasikan kepada segala sesuatu yang bersifat material, sehingga manusia selalu dianggap serakah atau rakus terhadap materi karena ia akan merasa puas apabila kebutuhan materinya terpenuhi secara melimpah. Pemahaman terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan yang seperti ini seringkali meminimalkan keterkaitannya dengan unsur-unsur spiritual ruhaniah.[13]
Ilmu ekonomi konvensional sangat memegang teguh asumsi bahwa tindakan individu adalah rasional. Rasionaliti seringkali dikaitkan dengan tindakan manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya yaitu memaksimumkan kepuasan atau keuntungan senantiasa berdasarkan pada keperluan (need) dan keinginan-keinginan (want) yang digerakkan oleh akal sehat dan tidak akan bertindak secara sengaja membuat keputusan yang bisa merugikan kepuasan atau keuntungan mereka. Bahkan menurutnya, suatu sikap yang terkadang nampak tidak rasional akan tetapi seringkali memiliki landasan rasionaliti yang kuat.
Konsep rasionaliti muncul karena adanya keinginan-keinginan konsumen untuk memaksimalkan utilitas dan produsen ingin memaksimalkan keuntungan, berasaskan pada satu set constrain. Yang dimaksud constrain dalam ekonomi konvensional di sini adalah terbatasnya sumber-sumber dan pendapatan yang dimiliki oleh manusia dan alam, akan tetapi keinginan manusia pada dasarnya tidak terbatas. Berdasarkan pernyataan di atas maka manusia perlu membuat suatu pilihan yang rasional sehingga pilihan tersebut dapat memberikan kepuasan atau keuntungan yang maksimal.[14]
Rasionalisme ekonomi mentafsirkan perbuatan manusia itu sesuai dengan sifatnya yang homo economicus, di mana semua perbuatannya senantiasa berdasarkan pada perhitungan terperinci, yang ditujukan untuk mencapai kesuksesan ekonomi. Kesuksesan ekonomi dimaknai sebagai menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Mengejar kekayaan, baik dalam bentuk uang maupun barang ialah tujuan utama dalam kehidupan ini.
Menurut ilmu ekonomi konvensional, sesuai dengan pahamnya tentang rational economics man, tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri sendiri denganmengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan, unsur waktu dianggap terbatas hanya di dunia saja tanpa memikirkan hari akhirat.
Sedangkan di sisi lain, landasan filosofi sistem ekonomi kapitalis yaitu sekularisme, paham yang memisahkan hal-hal bersifat spiritual dan material (agama dan dunia) secara dikotomis. Segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia adalah urusan manusia itu sendiri, sedangkan agama hanyalah mengurusi hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Implikasi dari ini adalah menempatkan manusia sebagai pusat dari segala hal kehidupan (antrophosentris) yaitu manusialah yang berhak menentukan kehidupannya sendiri.[15]
BACA JUGA  PRINSIP, MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI DALAM ISLAM



[1]Meltri Hutahean, “Konsep Konsumsi, Konsumen, Konsumtif, Konsumerisme” dalam Meltri-elia.blogspot.com/2011/10/konsep-konsumsi.html
[2]Riko Pranata, “Definisi Konsumsi Menurut Para Ahli” dalam http://pengabdianqu.blogspot.com/2013/05/makalah-konsumsi-defenisi-konsumsi.html
[3]Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 163
[4]Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Visimedia, 2007), hal. 3
[5]Ade Maman Suherman, Aspek Hukum dalam Ekonomi Global, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 99
[6]Swastha dan Handoko, Analiis Perilaku Konumen Terhadap produk Tabungan Perbankan, (Solo: PT Aksara Solopos, 2000), hal. 10
[7]James F. Engel, et. al, Perilaku Konsumen (Judul Asli Consumer Behavior), terj. F.X Budiyanto, (Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1994), hal. 3
[8]Bilson Simamora, Panduan Riset Perilaku Konsumen, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 2
[9]Ikhsan Fakhruddin, “Perilaku Konsumen Dalam Ekonomi Konvensional Dan Ekonomi Islam” dalam http://ikhsan-blogs.blogspot.com/2014/04/perilaku-konsumen-dalam-ekonomi.html
[10]Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen…, hal. 73
[11]Ibid., hal. 75
[12]Save M. Dagun, Pengantar Filsafat Ekonomi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), hal. 37
[13]M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi (The Future of Economics: An Islamic Perspective), terj. Ikhwan Abidin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 3
[14]Nur Kholis, “Konsep Rasionaliti” dalam http://nurkholis77.staff.uii.ac.id/hello-world/
[15]M.B.Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta: EKONISIA, 2003), hal. 353
BACA JUGA  JENIS PEMBIAYAAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *