PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH

1,985 views
PENGERTIAN MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH

Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Secara teknis, al-Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (shohibul maal) menyediakan 100% modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian itu.[1]
Para Ulama Fiqh mendefinisikan Mudharabahatau Qiradh dengan Pemilik modal (investor) menyerahkan modalnya kepada pekerja (pedagang) untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungan dagang itu menjadi milik bersama dan dibagi menurut kesepakatan.[2]
Ada juga pendapat dalam istilah fikih muamalah, mudharabah adalah suatu bentuk perniagaan dimana si pemilik modal (shohibul maal) menyetorkan modalnya kepada pengusaha, yang selanjutnya disebut mudharib, untuk diniagakan dengan keuntungan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak sedangkan kerugian, jika ada, di tanggung pemilik modal.[3]
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembiayaan mudharabah adalah kerja sama antara pihak pertama pemberikan seluruh modal dan disebut sebagai shohibul malsedangkan pihak yang lain sebagai pengelola modal atau disebut dengan mudharib.
LANDASAN SYARIAH PEMBIAYAAN MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
Al-Quran
 “… dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT…………” (al-Muzzammil:20)
 “Apabila telah ditunaikan sholat maka bertebarlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah SWT……….”(al-Jumu’ah: 10)
Al-Hadits
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas Bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi aturan tersebut, yang bersangkutan akan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikan syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW, dan Rasul pun membolehkannya. “HR Thabrani”[4]
RUKUN PEMBIAYAAN MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
          Orang yang berakad:
a.    Pemilik modal/ Shahibul maal
b.   Pelaksana atau usahawan/ Mudharib
          Modal/ maal
          Kerja atau usaha/ dharabah
          Keuntungan bagi hasil
          Shighat/ ijab Qabul[5]
JENIS-JENIS PEMBIAYAAN MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
Secara Umum, Mudharabah terbagi atas dua jenis, yaitu mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah.
1)   Mudharabah Mutlaqah
Yang dimaksud dengan transaksi mudharabah mutlaqah adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cangkupnya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.[6]
Dapat dijelaskan pula yaitu akad penyimpanan dari anggota kepada BMT (Koperasi) dengan sistem bagi hasil, dimana BMT (Koperasi) tidak mendapat pembatasan apapun dalam penggunaanya dananya. BMT (Koperasi)  diberikan kebebasan untuk memanfaatkan dana simpanan untuk pengembangan usaha BMT (Koperasi). Atas dasar akad ini, BMT (Koperasi) akan berbagi hasil dengan anggota dengan kesepakatan nisbah diawal akad[7].
Jadi, yang dimaksud pembiayaan mudharabah mutlaqoh adalah bentuk kerja sama dimana shohibul maal tidak membatasi mudharib dalam mengelola modalnya. Mudharib mempunyai keleluasan untuk menggunakan dan mengembangkan modal tersebut.
2)   Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah Muqayyadah atau sering disebut juga dengan istilah restrited mudharabah/specified mudharabahadalah kebalikan dari mudharabah mutlaqah. Si mudharib dibatasi jenis usaha waktu dan tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderugan umum si shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.[8]
Dalam teori juga disebutkan bahwa pengertian dari mudharabah muqqyadah (terikat) yaitu akad perjanjian dari anggota kepada BMT (Koperasi)  dengan sistem bagi hasil, dimana BMT (Koperasi) dibatasi dalam penggunaan dananya. sejak awal disepakati, bahwa dana tersebut hanya dapat dialokasikan untuk pembiayaan proyek tertentu. Atas dasar akad ini, BMT tidak dapat melakukan penyimpangan dalam penggunaannya. kesepakatan besarnya bagi hasil dilakukan dimuka dengan nisbah tertentu. Sebagai contoh produk ini adalah, adanya program dari pemerintah untuk membiayai program khusus, seperti MAP (Modal Awal dan Pendanaan) hanya untuk UKM sentral saja, dll.[9]
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembiayaan mudharabah muqqayadahadalah kerjasama antara shohibul maal dan mudharib. Dimana shohibul maal memberikan batasan batasan penggunaan dana tersebut. Batasan-batasan tersebut misalnya jenis usaha yang dilakukan,
APLIKASI DALAM PERBANKAN
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
Mudharabah biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, mudharabah diterapkan pada:
1)      Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimasukkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, dan sebagainya.
2)      Deposito spesial (Spesial investment), dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah saja atau ijaroh saja.
Adapun pada sisi pembiayan, mudharabah diterapkan untuk:
1)        Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa
2)        Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqqayadah, dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang lebih ditetapkan oleh shahibul maal.[10]
MANFAAT MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
Transaksi pembiayaan dengan skema mudharabah ini, sangat strategis dalam upaya pengembangan ekonomi nasional. Manfaat dari kerja sama mudharabah  dapat dirasakan oleh kedua belah pihak secara adil. Kemanfaat mudharabah meliputi:
1)   Bagi Mudharib
a)      Mudharib tidak harus memiliki modal dalam bentuk uang atau barang. Mudharib cukup memiliki keahlian dan kepiawaian dalam berusaha dan dapat menguasahi peluang pasar saja sudah dapat berusaha. Ia tidak harus menyediakan modal.
b)      Mudharib tidak akan membayar bagi hasil jika usahanya mengalami kerugian. Berbeda dengan bunga, yang tidak memandang usaha anggota yang dibiayai menghasilkan pendapatkan. Bahkan jika metode atau perhitungan yang digunakan menggunakan pendekatan untung-rugi, maka jika usahanya merugi, Mudharib tidak akan membayar bagi hasil. [11]
2)   Bagi Shabibul maal (Koperasi)
a)      BMT (Koperasi) akan menikmati pendapatan bagi hasil seiring dengna meningkatnya pendapatan Mudharib. Kontrak mudharabah memungkinkan BMT (Koperasi) untuk mendapatkan bagi hasil yang lebih besar dibanding dengan proyeksinya. Kesepakatan nisbah diawal perjanjian akan menjadi dasar perhitungan bagi hasil setiap periode akuntansi usaha mudharib.
b)      BMT (Koperasi) tidak akan membayar biaya bagi hasil kepada anggota penabungnya, jika usaha yang dibiayai dengan akad mudharabah muqqayadah dalam kondisi merugi. BMT (Koperasi) hanya akan membayar bagi hasil, jika usaha yang dibiayai telah menghasilkan. Kondisi ini yag membuat BMT (Koperasi) tidak akan mengalami negative spread. Hubungan antara penabung dengan peminjam sangat ditentukan melalui mekanisme kemitraan mudharabah.[12]
RISIKO MUDHARABAH
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH
a)      Side Steaming, nasabah menggunakan itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak
b)      Lalai dan kesalahan yang disengaja
c)      Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur[13]

BACA JUGA  STANDAR KINERJA KARYAWAN
[1]Muhammad Syafii Antonia, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001), Hal. 95
[2] Shobirin (Calon Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat) Jurnal sistem pembiayaan mudharabah (bagi hasil) Antara perbankan syari’ah dengan literatur fikih
[3]Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Konsep Produk dan Implementasi Operasional Bank Syariah. (Jakarta: Djambatan, 2001), hal. 164
[4]Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah…, Hal. 96
[5]. Wiroso, Akuntansi Transaksi Syariah (Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia) Hal. 327
[6]Ibid., Hal. 97
[7]Muhammad Ridwan, Sistem dan Prosedur Pendirian BMT (Baitul Mal wat Tamwil), (Yogyakarta: Citra Media, 2006), hal. 40
[8]Muhammad Syafii Antonio, Bank syariah…, hal 97
[9]Muhammad Ridwan, Sistem dan Prosedur…, Hal. 40
[10]Andry Herdiansyah, Pengaruh Pembiayaan Modal Kerja terhadap Pendapatan Usaha Nasabah (Studi Pada Bank DKI Syariah Cabang Wahid Hasyim), (http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/7286/1/Andry%20Herdiansyah-FSH_NoRestriction.pdf), Hal. 22 diakses pada 11 Maret 2015
[11]Muhammad Ridwan, Sistem dan Prosedur…, hal. 48
[12]. Ibid., hal. 48
[13]Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah…, hal. 98 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *