PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

1,127 views
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

PENGERTIAN DAKWAH ISLAMIYAH

Kata دعوة secara generik diambil dari kata dasar  دعا – يدعو – دعاء – دعوة– دعا ية  yang mengandung makna; ajakan, panggilan, seruan, propaganda, bahkan berarti permohonan dengan penuh harap atau dalam bahasa indonesia biasa disebut berdo’a. (Muhiddin, 2002; 39-40)
Secara terminologi dakwah memiliki banyak arti sebagaimana diberikan para ulama’ yang diantaranya :
Asmuni Sukir (1983: 20) membagi arti dakwah menjadi dua bagian atau dua sudut pandang yakni pengertian dakwah yang bersifat pembinaan dan pengertian dakwah yang bersifat pengembangan. Dakwah yang bersifat pembinaan yaitu suatu usaha untuk mempertahankan, melestarikan, dan menyempurnakan umat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah dengan menjalankan syari’atnya. Sedangkan dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak umat manusia yang belum beriman kepada Allah agar menaati syari’ah (memeluk agama Islam) .
Andy Darmawan (2002 : 8) mengartikan dakwah sebagai kegiatan mempertemukan fitrah manusia dengan Islam atau menyadarkan orang tentang perlunya bertauhid dan perilaku yang baik.
Dari definisi-definisi diatas dapat diambil arti bahwa dakwah merupakan usaha untuk mengajak manusia untuk menjalankan ajaran-ajaran atau syari’at Islam, supaya manusia dapat hidup dengan bahagia di dunia dan di akhirat.
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

LANDASAN HUKUM DAKAWA

1.    Landasan Hukum Dakwah
Ada dua pandangan dari golongan ulama mengenai dasar hukum dakwah. Pada salah satu sisi ada yang beranggapan bahwa dasar hukum dakwah adalah fardlu ‘ain yang dikenakan terhadap setiap orang Islam. Dasar ini merujuk pada firman Allah surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (an-Nahl : 125)
Kata ادع merupakan jenis fiil amr dari kata dasar دع Hukum dari fiil amr sendiri adalah harus (wajib) dikerjakan. Oleh karena itu menurut firman ini hukum dari berdakwah adalah fardlu ain bagi seluruh umat Islam tanpa terkecuali (Farid Ma’ruf Noor, 1981 : 7).
Sedangkan hukum dakwah yang kedua adalah fardlu kifayah. Hukum ini tidak membebankan dakwah sebagai suatu kewajiban setiap umat Islam tetapi hanya dikenakan kepada sebagian dari golongan umat Islam saja. Apabila sebagian dari segolongan umat Islam telah melakukan dakwah Islam, maka sebagian lain dari golongan itu tidak wajib melakukan dakwah (Farid Ma’ruf Noor, 1981 : 8). Dasar hukum ini berpijak pada firman Allah dalam surat al-Imran 104 yaitu :
“Dan jadilah kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada berbuat baik dan mencegah atau melarang orang berbuat tidak baik dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Menanggapi dua hukum yang ada di atas, ada beberapa ulama yang menyatakan bahwa kedua hukum tersebut dapat berlaku. Apabila dalam suatu kaum tidak (atau belum) ada yang melakukan dakwah, maka setiap orang Islam yang menempati wilayah tersebut wajib melakukan dakwah sesuai dengan kemampuannya demi mencegah sesuatu yang munkar dan menciptakan suatu kebaikan. Namun apabila dalam suatu kaum tersebut sudah ada sekelompok umat yang telah faham dan melakukan dakwah Islam, maka hukum yang berlaku adalah hukum kedua dimana sebagian umat Islam yang lain dalam wilayah tersebut tidak terkena hukum wajib ain dalam berdakwah .
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

TUJUAN DAKWA

2.    Tujuan Dakwah
Tujuan merupakan landasan utama bagi suatu kegiatan atau tujuan juga merupakan pernyataan atau keinginan yang dijadikan pedoman atau pegangan untuk memilih hasil yang diinginkan. Bagi dakwah tujuan merupakan puncak dari dakwah itu sendiri. Agar kegiatan dakwah lebih mengena kepada sasaran dakwah yaitu mad’u maka penentuan atau perumusan tujuan dakwah yang baik harus memperhatikan kondisi masyarakat atau mad’u
Tujuan utama dakwah Islamiyah adalah menyeru manusia menuju jalan Allah. Proses menuju kepada jalan Allah ini kemudian berkembang dan ditempuh melalui berbagai cara sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. Dari penyesuaian inilah kemudian tercipta berbagai macam tujuan dakwah dengan muara mengarahkan manusia menuju kepada jalan Allah.
Muh. Ali Aziz (2004; 60) menyatakan bahwa dakwah bertujuan mengubah sikap dan mental tingkah laku manusia yang kurang baik menjadi lebih baik atau meningkatkan kualitas iman dan Islam seseorang secara sadar dan timbul dari kemauannya sendiri tanpa ada paksaan atau merasa terpaksa oleh siapa dan karena apa.
Sedangkan menurut Abdul Rosyad Saleh (1986; 21) tujuan utama dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridloi Allah.
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

UNSUR-UNSUR DAKWAH

3.    Unsur-Unsur Dakwah
Dalam proses pelaksanaan di lapangan ada lima unsur dasar dari dakwah yaitu:
a.      Da’i
Kata da’i merupakan isim fail dari kata da’a yang memiliki arti secara harfiah orang yang melakukan proses dakwah. Sedangkan secara istilah, da’i – sebagaimana pengertian istilah dari kata yang berasal dari bahasa arab lainnya – juga memiliki berbagai penjabaran makna yang bersandar pada arti dasar harfiahnya.secara istilah, da’ses dakwah. fiah rangidahnya, dan melaksanakan syariatnya.a mengarahkan manusia menuju kepada jalan allah.
Menurut Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz (2000; 27) da’i adalah orang yang berusaha untuk mengajak manusia – dengan perkataan dan perbuatannya – kepada Islam, menerapkan manhaj-nya, memeluk aqidahnya, dan melaksanakan syariatnya.
Pengertian yang hampir sama juga diberikan oleh Muh Ali Aziz (2004; 75) yang menyatakan bahwa da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat Islam seringkali menyamakan istilah da’i dengan mubaligh. (lih. juga Hamzah, 1981; 36)
Untuk menjadi da’i yang berhasil dalam dakwahnya, seorang muslim haruslah memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan dakwahnya. Ada beberapa syarat yang diajukan oleh para tokoh yang mengkaji tentang dakwah.
Ali Aziz (2004; 81) memberikan enam syarat bagi seorang da’i yang ingin sukses dalam dakwahnya yaitu :
1)        Mendalami al-Qur’an dan Sunnah dan sejarah kehidupan Rasul serta Khulafaur Rasyidin.
2)        Memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapinya.
3)        Berani dalam mengungkapkan kebenaran kapanpun dan dimanapun.
4)        Ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh nikmat materi yang sementara.
5)        Perkataan haruslah diimbangi dengan perbuatan.
6)        Jauh dari hal-hal yang menjatuhkan harga diri.
Sedangkan Hamka (1984; 228-232) memberikan delapan syarat yang harus ada dan dimiliki oleh seorang da’i, yaitu :
1)      Harus memiliki rasa dan niat yang ikhlas dalam berdakwah yaitu hanya mengharap ridla Allah dan demi mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
2)      Harus menguasai materi yang akan disampaikan kepada mad’u secara menyeluruh dan mendalam.
3)      Harus memiliki kepribadian yang kuat dan teguh.
4)      Memiliki pribadi yang menarik, seperti lembut tetapi bukan lemah, tawadlu dan merendahkan diri tetapi bukan rendah diri.
5)      Harus memahami al-Quran dan Sunnah.
6)      Harus menjauhi hal-hal yang dapat menciptakan pertentangan.
7)      Harus mampu memberikan tauladan kepada umat.
8)      Harus mampu meminimalisir kekurangan dan kelemahannya sehingga umat tidak bimbang dan ragu terhadapnya.
Berkenaan dengan kepribadian da’i, Asmuni Syukir (1983; 35-48) membedakannya menjadi dua bagian, yakni kepribadian yang bersifat rohaniah dan jasmaniah. Kepribadian rohaniah da’i meliputi sifat dan sikap yang harus dimiliki. Sifat-sifat itu adalah :
1)   Iman dan taqwa kepada Allah SWT.
2)   Tulus dan ikhlas serta tidak mementingkan kepentingan diri pribadi.
3)   Ramah dan penuh pengertian.
4)   Tawadlu’ (rendah diri).
5)   Sederhana dan jujur.
6)   Tidak memiliki sifat egoisme.
7)   Antusiasme (semangat).
8)   Sabar dan tawakkal.
9)   Memiliki jiwa toleran.
10)    Terbuka (demokratis).
11)    Tidak memiliki penyakit hati.
Sedangkan sikap-sikap yang harus ada yaitu :
1)   Berakhlak mulia.
2)   Hing ngarsa asung tuladha, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani (mampu menjadi tauladan di depan masyarakat, di tengah masyarakat harus mampu memberi semangat, bila di belakang masyarakat selalu memberi bimbingan-bimbingan/dorongan untuk meningkatkan amalan).
3)   Wirai dan berwibawa.
4)   Bertanggung jawab.
5)   Berpandangan luas.
6)   Pengetahuan yang cukup.
Kepribadian yang bersifat jasmaniah bagi seorang da’i meliputi :
1)      Sehat jasmani
2)      Berpakaian necis
Syarat-syarat di atas secara keseluruhan apabila diperhatikan dan dimiliki serta dilaksanakan oleh seorang da’i maka proses dakwah yang dilakukannya tentunya tidak akan menemui kesulitan dan menjadi sia-sia.
b.      Mad’u
Mad’u adalah obyek sasaran yang menerima pesan-pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i. Obyek dakwah adalah seluruh manusia baik secara individu maupun kelompok. (Hamzah, 1981; 32)
Obyek dakwah dapat terdiri dari berbagai macam jenis dan karakter. Mad’u dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan yaitu (Aziz, 2004; 91-92) :
1)   Dari segi sosiologis; masyarakat terasing, pedesaan, perkotaan, kota kecil, serta masyarakat di daerah marginal (terpinggirkan) dari kota besar).
2)   Dari struktur kelembagaan; golongan priyayi, abangan, dan santri.
3)   Dari segi usia; anak-anak, remaja, dan golongan orang tua.
4)   Dari segi profesi; golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri.
5)   Dari segi tingkat sosial ekonomi; golongan kaya, menengah, dan miskin.
6)   Dari segi jenis kelamin; golongan pria dan wanita.
7)   Dari segi khusus; masyarakat tuna susila, tuna wisma, tuna karya, narapidana, dan sebagainya.
8)   Dari segi derajat pemikiran; masyarakat yang berfikir kritis, masyarakat yang mudah dipengaruhi, dan masyarakat yang fanatik (taklid).
9)   Dari segi responsif; masyarakat aktif, pasif, dan antipati.
Untuk memperoleh kesuksesan dalam dakwahnya, seorang da’i harus benar-benar mengetahui dan paham tentang kondisi dan tingkat mad’u dipandang dari beberapa segi di atas.
c.       Materi
Materi dakwah adalah masalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i kepada mad’u. Materi dakwah adalah seluruh ajaran Islam tanpa terkecuali yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama yang meliputi aqidah, syari’ah, dan akhlak dengan berbagai macam cabang ilmu yang diperoleh darinya. (Bachtiar, 1997; 33-34)
Terbentuknya materi dakwah yang berkualitas tidak terlepas dari dua proses, yakni proses pemilihan materi dan proses penyampaian materi dakwah. Pelaksanaan kedua proses ini terkait dengan tingkat masyarakat (mad’u). Pemilihan materi dakwah harus berkaca pada kondisi dan kebutuhan rohani dan jasmani masyarakat yang sesuai dengan Islam sedangkan proses penyampaian materi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan maupun pemikiran masyarakat. Sehingga dalam penyampaiannya da’i diharapkan menggunakan bahasa yang “akrab” dan mudah dipahami oleh mad’u.
PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH (4)
d.      Metode
Metode atau cara yang digunakan oleh da’i untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah haruslah disesuaikan dengan kondisi masyarakat penerima dakwah. Jika hal ini tidak diperhatikan – da’i memaksakan suatu metode – dalam berdakwah, maka tujuan dakwah tidak akan tercapai secara maksimal.
Dalam salah satu surat al-Qur’an (an-Nahl : 125)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (an-Nahl : 125)
Ayat di atas menerangkan bahwa dakwah dapat dilakukan dengan tiga cara yakni dengan hikmah (kebijaksanaan), dengan pelajaran dan tauladan yang baik, serta berdiskusi dengan cara yang baik pula.
Dzikron Abdullah (1989; 25) menjabarkan metode dakwah dalam delapan jenis, yakni :
1)      Metode ceramah (lecturing method/telling method)
2)      Metode tanya jawab (questioning method/question answer period)
3)      Metode diskusi (discuss method)
4)      Metode propaganda (di’ayah).
5)      Metode keteladanan/demonstrasi (demonstration method).
6)      Metode infiltrasi (susupan atau selipan/infiltration method).
7)      Metode drama (role playing method).
8)      Metode home visit (silaturahmi).
e.       Media Dakwah
Wardi Bahtiar (1997; 35) mendefinisikan media dakwah sebagai peralatan yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah. Penentuan media ini haruslah obyektif (berdasar pada kebutuhan dan sarana yang telah ada dan terjangkau oleh da’i). Media dakwah dapat dibedakan berupa tulisan, lisan, lukisan, audio-visual, dan perbuatan atau akhlak. (lih. juga Hamzah, 1981; 47)
Kelima unsur dakwah ini memiliki kedudukan yang sama penting dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Jika salah satu dari kelima unsur di atas tidak terpenuhi maka bisa dipastikan proses dakwah tidak akan dapat berlangsung dengan baik.

One thought on “PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

  1. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al Isra’ [17] : 36)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *