PENGERTIAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

378 views
PENGERTIAN PERLINDUNGAN KONSUMEN
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Perlindungan berasal dari kata lindung yang memiliki arti mengayomi, mencegah, mempertahankan, dan membentengi. Perlindungan adalah suatu perbuatan atau usaha yang dilakukan untuk melindungi jaringan telekomunikasi dan sarana penunjang telekomunikasi. Perlindungan konsumen merupakan hal yang sangat perlu untuk terus dilakukan karena berkaitan dengan upaya mensejahterakan masyarakat dalam kaitan dengan semakin berkembangnya transaksi perdagangan pada zaman modern saat ini.
Perlindungan konsumen tidak hanya menjadi perhatian pemerintah Indonesia saja tetapi juga menjadi perhatian dari negara-negara lain. Hukum perlindungan konsumen di Republik China adalah hukum nasional tertentu yang secara khusus melindungi kepentingan dan keamanan konsumen akhir yang menggunakan barang atau jasa yang diberikan oleh operator pelaku usaha. Perlindungan konsumen ini merupakan proses untuk melindungi konsumen terhadap praktik promosi dari pelaku usaha atau penjual jika terjadi kerusakan atau produk yang cacat dan hal-hal yang dapat merugikan konsumen itu sendiri.
PERLINDUNGAN KONSUMEN - PENGERTIAN PERLINDUNGAN KONSUMEN
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara sejak 1993 (Ketetapan MPR No. II/MPR/1993) secara eksplisit dicantumkan kata “perlindungan konsumen”, sekalipun tidak diuraikan lebih jauh mengenai pengertian dan substansinya. Secara implisit memang segera dapat ditemukan dalam GBHN tersebut berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan konsumen, seperti keharusan menghasilkan/meningkatkan: (1) barang yang bermutu, (2) kualitas dan pemerataan pendidikan, (3) kualitas pelayanan kesehatan, (4) kualitas hunian dan lingkungan hidup, (5) sistem transportasi yang tertib, lancar, aman, dan nyaman, (6) kompetisi yang sehat, (7) kesadaran hukum. Semua itu merupakan bagian dari kepentingan konsumen pula.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata memang sama sekali tidak pernah disebut-sebut kata “konsumen”. Istilah lain yang sepadan dengan itu adalah seperti pembeli, penyewa, dan si berutang (debitur). Seperti dalam pasal 1504 (jo. Pasal-pasal 1322,1473, 1474,1491, 1504 s.d. 1511): Si penjual diwajibkan menanggung terhadap cacat tersembunyi pada barang yang dijual, yang membuat barang itu tak sanggup untuk pemakaian yang dimaksudkan itu, sehingga seandainya si pembeli mengetahui cacat itu, ia sama sekali tidak akan membeli barangnya, atau tidak akan membelinya selain dengan harga yang kurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *