PENGERTIAN SELOKO ADAT

1,526 views
PENGERTIAN SELOKO ADAT
Kata seloko (dalam dialek Jambi) identik dengan kata seloka dalam bahasa Indonesia. Dalam teori sastra seloko dikenal sebagai salah satu bentuk sastra lisan, yaitu suatu bentuk kebudayaan daerah yang diwariskan secara turun temurun. Bentuk satra lisan tersebut berkaitan erat dengan tradisi suatu masyarakat. Salah satu hubungannya adalah berupa ditampilkannya sastra lisan itu dalam upacara atau acara-acara tradisional masyarakat yang bersangkutan (Bakar, Djamil, dkk, 19881:25). Hubungan lain ialah bahwa sastra lisan itu juga bersumber dan sekaligus mengandung adat dan kebiasaan, tingkah laku dan kepercayaan masyarakat pemakainya.
Junaidi T. Noor (2013:17) lebih spesifik mengemukakan, seloko bagi orang Melayu (termasuk Jambi) memiliki makna yang dalam, makna yang jauh lebih penting dari hanya sebagai sebuah “keistimewaan” semata. Seloko :
1.    Mengandung pesan atau nasihat yang bernilai etik dan moral
2.    Sebagai alat kontrol sosial-kemasyarakatan, bahkan politik serta penjaga keserasian dengan alam
3.    sebagai pandangan hidup (weltanschauung, way of life)
4.    dan sebagai tuntunan hidup.
Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, atau nasihat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih. Seloko adat Jambi juga merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi juga merupakan sarana masyarakatnya dalam merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan dan tujuan dari sebuah kebudayaan.
Dalam pembacaan seloko, penyeloko biasanya menggunakan pantun atau sejenisnya yang diiringi dengan rima dan metrum yang mantap sehingga tidak jarang menarik perhatian bagi sebagian orang yang mendengarkan. Namun demikian, tidak semua orang bisa memahami maksud seloko tersebut karena dalam pemilihan diksi cendrung manggunakan majas perbandingan atau perumpamaan. Hal senada juga dikemukakan oleh H. Junaidi T. Noor (2013: 30), seloko bagi masyarakat Ras Melayu sudah tidak asing lagi. Seloko merupakan tradisi lisan yang terwariskan dari kakek ke bapak, dari bapak ke bisa ke aku atau yang lain atau bisa terhenti atau tersamar karena jarang didengar, jarang diungkapkan diruang publik atau antar lingkungan keluarga. Masyarakat awam hanya dapat mendengar seloko dalam upacara adat terutama dalam prosesi adat perkawinan. Dalam acara itu mulai dari runutan prosesi perkawinan sampai pengantaran ke pelaminan ada dilantunkan seloko itu. Itu pun berlaku dan didengar pada upacara adat penuh.
Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, amanat petuah, atau nasehat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan Seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih.
Seloko adat Jambi tidak hanya sekedar peribahasa, pepatah-petitih atau pantun-pantun, lebih dalam lagi seloko adat Jambi merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi sebagai suatu filsafat yang dirumuskan secara eksplisit dalam peribahasa, pepatah-petatah atau pantun-pantun tetapi masih bersifat implisit yang tersembunyi dalam fenomena kehidupan masyarakat Jambi. Seloko adat Jambi adalah sarana masyarakatnya merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan, dan tujuan dari sebuah kebudayaan.

Seloko adat Jambi sebagai ekspresi bermakna ganda yaitu tidak terbatas pada struktur naratif yang tersurat tetapi pada dimensi-dimensi yang tersirat. Teks-teks seloko adat Jambi tidak hanya dimengerti secara harfiah tetapi hams ditafsirkan secara simbolik dan metafisik. Tujuannya adalah untuk mencari makna yang hendak disampaikan lewat teks tersebut berupa konsepsi filosofis (konsepsi paling dasariah mengenai hakikat manusia, dunia, dan Tuhan). Dengan kata lain di dalam makna harfiah atau literal, primer yang secara langsung ditunjukkan. Bersamaan dengan itu ditunjukkan pula makna lain yang tidak langsung, sekunder, kiasan dan hanya dapat dipahami berdasarkan makna yang pertama. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *