PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD

542 views
PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD

1.    Pengertian Akad.

Akadmerupakan bagian dari macam-macam tasharruf, yang dimaksud dengan tasharruf adalah :

segala yang keluar dari seorang manusia dengan kehendaknya dan syara’ menetapkan hukum haknya.[1]
Tasharruf terbagi menjadi dua macam, yaitu tasharruf yang dilakukan dengan usaha atau dengan anggota badannya yang lain dengan tanpa mengucapkan (secara isyarat) dan tasharruf yang dilakukan dengan lisan.
Istilah akad memiliki kesamaan maksud dengan perjanjian ((عهد, persetujuan dua buah perjanjian atau lebih dan perikatan [2](عقد), sedangkan menurut bahasa, istilah al-aqad, memiliki arti sebagai ikatan dan tali pengikat.[3]
Sedangkan menurut istilah akad diartikan dengan pertemuan ijab dan qabul sebagai pernyataan kehendak dua pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum pada obyeknya.[4]

PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD

2.    Syarat dan rukun akad

Syarat merupakan bagian yang penting keberadaanya dalam sebuah kegiatan. Meskipun syarat bukan bukan bagian dari dalam sebuah kegiatan dalam, akan tetapi jika syarat ini tidak terpenuhi salah satu saja, maka kegiatan yang dilakukan akan menjadi tidak sah atau batal demi hukum. Atas alasan inilah mengapa syarat menjadi suatu yang harus dilaksanakan ketika akan memulai atau setelah selesai melakukan sebuah pekerjaan.
Rukun adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan atau menjadi unsur dalam sebuah kegiatan. Sehingga rukun menempatkan dirinya sebagai suatu bagian yang harus ada dalam sebuah kegiatan ketika kegiatan tersebut dilaksanakan. Sehingga dalam pelaksanaannya, ketika rukun ini tidak dilaksanakan maka secara otomatis tindakan yang dilakukan tersebut akan tidak sah atau batal demi hukum.
Begitu juga dengan akad, meskipun secara kasat mata pelaksanaan akad dapat dilakukan dengan mudah, akan tetapi juga terdapat syarat-syarat  yang melekat dan harus dilaksanakan sebelum atau sesudah akad tersebut selesai dilaksanakan dan rukun yang harus dilaksanakan ketika perbutan tersebut dilaksanakan. Adapun yang menjadi  rukun dari akad adalah sebagai berikut:
a.    Al-‘Aqidainatau para pihak yang melakukan akad
b.    Nahallul ‘aqad atau obyek akad, yaitu sesuatu yang hendak diakadkan
c.    Sighat ‘akadatau pernyataan kalimat akad yang lazimnya dilaksanakan melalui pernyataan ijab dan pernyataan qobul[5]
d.   Maudhu’ Al – Aqad atau tujuan akad[6]
Dari keempat rukun akad tersebut, maka masing-masing rukun diharuskan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.    Al-‘Aqidainatau para pihak yang melaksanakan akad. Pihak-pihak yang melakukan akad, disyaratkan sebagai berikut:
1.    Mukallaf  Kedua orang yang melakukan akad cakap bertindak[7]
2.    Aqil(berakal)
3.    Tamyis atau dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
4.    Mukhtar atau masing-masing pihak harus lepas dari paksaan atau tekanan[8]
b.    Nahallul ‘aqad atau obyek akad dapat menerima hukumnya. Adapun syarat dari obyek akad adalah sebagai berikut:
1.    Halal menurut syara’, halal secara syara’adalah bahwa harta tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal,[9] artinya harta yang dijadikan sebagai obyek akad adalah harta yang halal, baik dari cara mendapatkannya ataupun juga dari dzat benda itu sendiri.
2.    Bermanfaat (bukan merusak atau digunakan untuk merusak)
c.    Sighat ‘akad(ijab qobul). Ijab adalah permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam mengadakan akad, sedangkan qobul adalah perkataan yang keluar dari pihak yang berakad pula, yang diucapkan setelah adanya ijab. Adapun yang disyaratkan dalam ijab qobul adalah :
1.    Kata-kata dalam ijab qobul harus jelas pengertiannya
2.    Bersesuaian antara ijab dan qobul
3.    Harus menggambarkan kesungguhan kemauan[10]
d.   Maudhu’ AlAqad atau tujuan akad. Tujuan akad disyaratkan harus jelas dan diakui oleh syara’[11]. Sehingga meskipun akadnya itu diperuntukkan sesuatu yang jelas, akan tetapi melanggar syara’ maka bisa dipastikan akad tersebut tidak sah, seperti menjual anggur kepada pabrik minuman keras, menjual ayam untuk aduan dan lain-lain.
Selain syarat-syarat dari setiap rukun akad tersebut diatas, syarat akad secara umum adalah sebagai berikut:
1.    Tidak menyalahi hukum syariah yang disepakati adanya
2.    Harus sama ridlo dan ada pilihan (khiyar)
3.    Harus jelas dan gamblang[12]
4.    Adanya causa yang halal[13]
PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD
3.    Macam-Macam Akad
Pada dasarnya akad terbagi menjadi tiga macam, yaitu akad munjis, akad mu’allaq dan akad nudhaf.[14] Dalam perkembangannya akad masih dapat dibagi menjadi beberapa macam menurut klasifikasi tertentu, berikut penjelasan terhadap macam-macam akad tersebut:
a.    Akad Munjizyaitu akad yang dilaksanakan langsung pada saat selesainya akad.
b.    Akad Muallaqyaitu akad yang dalam pelaksanaannya terdapat syaratsyarat yang telah ditentukan dalam akad.
c.    Akad Nudhafyaitu akad yang dalam pelaksanaannya terdapat syarat-syarat mengenai penangguhan pelaksanaannya.
Selain tiga jenis akad tersebut, akad masih diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a.    Menurut disyariatkan atau tidak
1.    Akad musara’ah atau akad yang dibenarkan oleh syara’ (seperti gadai dan jual beli).
2.    Akad mamnu’ah atau akad yang dilarang oleh syara’ (seperti menjual ikan dalam kolam).[15]
b.    Menurut keabsahannya
1.    Akad ghoiru shohihadalah akad yang mana kedua belah pihak memiliki hak untuk membatalkan dengan cara fasakh tanpa harus menunggu kerelaan pihak lain.[16] Dengan demikian bahwa akad ghoiru shohih adalah akad yang sebagian unsurnya atau sebagian rukunnya tidak terpenuhi.[17] Sehingga akad ini adalah akad yang rusak dan karena rukunnya tidak terpenuhi maka akad ini adalah akad yang tidak sah atau batal demi hukum.
2.    Akad shohih adalah akad yang memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku pada setiap unsur akad.[18]
c.    Menurut sifat bendanya
1.    Akad ainiyah atau akad yang harus disempurnakan dengan penyerahan harta benda obyek akad (seperti rahn, hibah, ‘ariyah, wadhi’ah).
2.    Akad ghoiri ainiyah adalah akad yang kesempurnaannya hanya didasarkan pada kesempurnaan bentuk akadnya saja dan tidak mengharuskan adanya penyerahan.[19]
d.   Menurut cara melakukan
1.    Akad yang harus dilakukan dengan upacara-upacara tertentu (seperti pernikahan).
2.    Akad ridho’iyah atau akad yang dilakukan tanpa upacara-upacara tertentu.[20]
e.    Menurut berlaku tidaknya akad
1.    Akad nafidzadalah akad yang bebas atau terlepas dari penghalang-penghalang akad.[21] Sehingga akad nafidz ini adalah akad yang memiliki peluang sangat besar untuk dapat dilaksanakan pada waktu itu juga atau pada waktu-waktu lain yang telah disepakati.
2.    Akad mauqufadalah akad-akad yang bertalian dengan persetujuan-persetujuan.[22] Atau akad yang dilakukan oleh seseorang yang mampu bertindak atas kehendak hukum, tetapi dia tidak memiliki kekuasaan untuk melangsungkan dan melaksanakan.[23]
f.     Menurut lazim dan dapat dibatalkan[24]
1.    Akad lazim atau akad yang tidak dapat dibatalkan oleh salah satu pihak tanpa persetujuan pihak yang lainnya (seperti perceraian).
2.    Akad ghoiru lazim atau akad yang dapat dibatalkan oleh salah satu pihak tanpa persetujuan dari pihak yang lainnya.
g.    Menurut tukar menukar hakin[25]
1.    Akad mu’awadhah atau akad yang berlaku atas dasar timbal balik.
2.    Akad tabarru’at atau akad yang berlaku atas dasar pemberian dan pertolongan.
h.    Menurut tujuannya.
1.    Akad yang bertujuan untuk memilki (tamlik), akad yang bertujuan untuk mengadakan usaha.
2.    Akad yang bertujuan untuk menyerahkan kekuasaan (wakalah).
i.      Menurut masa pelaksanaan akad[26]
1.    Akad fauriyahatau akad yang dalam pelaksanaannya tidak memerlukan waktu yang lama.
2.    Akad istimrar atau akad yang dalam pelaksanannya membutuhkan waktu yang lama.
j.      Menurut ashliyah dan thabiiyahnya[27]
1.    Akad ashliyahatau akad yang berrdiri sendiri tanpa memerlukan adanya sesuatu dari yang lain (seperti jual beli).
2.    Akad thabiyahadalah akad yang memerlukan adanya akad yang lain (seperti rahn, tidak akan dilakukan rahn jika tidak ada hutang).
PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD
4.    Azas-Azas Akad
Azas atau dasar yang menjadi sumber rujukan dalam sebuah kegiatan, yang mana azas ini menjadi sebuah dasar kebenaran yang menjadi pokok utama dalam berfikir. Seperti azas yang dikenal dalam Islam, maka semua tindakan akan didasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadits. Sehingga jika dalam tindakan sehari hari terdapat perbuatan yang tidak sesuai dengan keduanya, maka perbuatan tersebut adalah perbuatan yang melanggar hukum. Begitu pula dalam akad, azas yang dijadikan sebagai patokan adalah hukum yang berlaku pada saat ini, baik itu hukum positif ataupun hukum agama.
Sedangkan yang menjadi sumber dari azas akad menurut Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Akan tetapi tidak semua ayat dan hadits dapat dijadikan sebuah dasar dalam penetapan dasar-dasar akad. Berikut azasazas akad dalam Islam:
a.    Azas Ilahiah, hal ini dirujuk pada QS Al-Hadid ayat 4, sebagai berikut:

      

dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”[28]
b.    Azas kebebasan berkontrak
Azas kebebasan berkontrak adalah azas yang memberikan kebebasan para pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian, pelaksanaan dan persyaratan umum serta menentukan bentuk perjanjian (tertulis atau tidak tertulis).[29] Islam memberikan kebebasan kepada para pihak untuk melakukan suatu perikatan. Bentuk dan isi perikatan tersebut ditentukan oleh para pihak. Apabila telah disepakati bentuk dan isinya, maka perikatan itu mengikat para pihak yang menyepakatinya dan harus dilaksanakan segala hak dan kewajibannya.[30] Tentunya azas kebebasan berkontrak ini tidak memberikan pembenaran kepada siapapun untuk melakukan akad yang secara syara’ dilarang, seperti melakukan akad dengan tujuan untuk mencuri, membunuh dan lain-lain.
c.    Azas persamaan dan kesetaraan (Al – Musawah)
Azas persamaan dan kesetaraan atau azas keseimbangan adalah suatu azas yang menghendaki kedua belah pihak untuk melakukan perjanjian.[31]Hal ini disebabkan karena setiap manusia tercipta berbeda-beda dan memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Manusia tercipta untuk saling melengkapi. Dalam akad, pasti memuat hak dan kewajiban dari para pihak yang melakukan akad, namun hak dan kewajiban yang dibebankan tidak boleh melebihi kemampuan dari pelaku akad, hal ini tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 71 sebagai berikut:

    

“dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki”[32]
d.   Azas keadilan
Keadilan adalah keseimbangan antara berbagai potensi individu, baik moral ataupun materiil, antara individu dengan masyarakat dan antara masyarakat yang satu dengan lainnya yang lainnya berlandaskan pada syariah Islam.[33]
e.    Azas kerelaan
Setiap akad yang dilakukan, maka harus terdapat kerelaan antar pihak yang melakukan akad. Karena jika sebuah akad dilakukan atas dasar kerelaan, maka selain akad menjadi sah, juga untuk menunjukkan iktikad baik bagi kedua belah pihak, sehingga hak dan kewajiban dari masing-masing pelaku akad dapat terlaksana dengan baik.
f.     Azas kejujuran
Sifat jujur dalam kehidupan memang menjadi salah satu hal pokok. Karena dengan kejujuran ini akan memberikan sebuah kepercayaan dan legalitas sebuah akad akan dapat dipertanggung jawabkan dengan baik. Bahkan dalam QS Al-Ahzab ayat 70, disebutkan bahwa:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar”[34]
g.    Azas tertulis
Azas tertulis adalah sebuah azas yang menanjurkan kepada siapa saja yang melakukan akad untuk mencatat semua isi dari akad-akad yang dan disepakati oleh para pihak yang melakukan akad. Hal ini dilaksanakan agar jika pada suatu saat terjadi wanprestasi atau ingkar janji, maka akan dapat dibuktikan dan diketahui kebenaran yang sesungguhnya.
PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD
5.    Hak dan Kewajiban Subyek Akad
Subyek hukum adalah mereka yang memiliki kecakapan untuk menjadi subyek hukum, yaitu sebagai pendukung hak dan kewajiban.[35] Sehingga pihak-pihak yang melakukan akad harus saling memenuhi prestasinya. Jika salah satu pihak tidak memenuhi prestasinya, maka akan berakibat timbulnya ketidakseimbangan hak dan kewajiban dan akan  merugikan pihak lain.
Seperti seorang pembeli yang hendak membeli air mineral pada sebuah toko, maka kewajibannya adalah memberikan sejumlah uang yang seharga dengan air mineral tersebut dan selain itu ia juga berhak untuk mendapatkan air mineral yang ia inginkan, sedangkan yang menjadi kewajiban dari penjual adalah menyerahkan air mineral yang dibeli oleh pembeli dan hak dari penjual adalah menerima sejumlah uang seharga air mineral tersebut.
Hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari akad adalah sebuah keharusan yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berakad. Sehingga masing-masing pihak akan sama-sama diuntungkan dan tidak ada satupun yang dirugikan atau merasa ditipu. Hal ini sangat penting adanya karena manusia yang hidup secara sosial dan harus saling melenggkapi kebutuhan satu sama lainnya.
PENGERTIAN, SYARAT RUKUM, MACAM-MACAM, AZAS-AZAS, HAK DAN KEWAJIBAN DAN BERAKHIRNYA SEBUAH AKAD
6.    Berakhirnya Akad
Akad yang dilaksanakan setelah terjadi kesepakatan oleh para pihak yang melakukan akad. Akan tetapi dalam masalah pengakhiran suatu akad, tidak selamanya dilaksanakan setelah akad tersebut selesai dilaksanakan, dengan kata lain jika sebuah akad telah selesai dilaksanakan maka akad tersebut akas berakhir dengan sendirinya. Dengan demikian maka sebenarnya, berakhirnya suatu akad dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu ketika sebelum akad tersebut selesai dilaksanakan dan ketika akad tersebut telah selesai dilaksanakan. Berakhirnya akad ketika sebelum akad tersebut selesai disebabkan karena adanya kesepakatan yang disebabkan oleh adanya urbun, karena tidak dilaksanakan dan karena mustahil untuk dilaksanakan.
1.    Karena adanya kesepakatan (Al-iqolah)
Apabila suatu akad telah memenuhi rukun dan syaratnya sesuai dengan ketentuan hukum, maka akad tersebut menjadi mengikat.[36]Sehingga akad tersebut tidak dapat dibatalkan oleh para pihak yang melakukan kesepakatan secara sepihak. Dengan demikian, maka jika ada keinginan untuk membatalkan, maka harus didasari dengan kesepakatan para pihak yang telah melakukan akad. Jika kedua pihak sepakat untuk membatalkan, maka akad tersebut akan batal dan jika tidak, maka akad tersebut harus tetap dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan.
2.    Karena urbun (uang muka)
Urbun terjadi karena adanya tindakan hukum para pihak yang memberikan kemungkinan kepada masing-masing untuk memutuskan akad yang bersangkutan secara sepihak dengan memikul suatu kerugian tertentu.[37]Urbun sendiri merupakan suatu bentuk kompensasi dalam pembatalan akad dari pembayar urbun kepada pihak kedua (penerima urbun) dan jika pihak kedua (penerima urbun) yang membatalkan akad, maka dia berkewajiban untuk mengembalikan urbun tersebut.
3.    Karena tidak dilaksanakan
Secara umum, para pihak yang melakukan akadakan mandapatkan hak dan kewajiban yang mengikat pada masing-masing pihak. Akan tetapi jika kenyataanyan tidak demikian (tidak dilaksanakan) maka akad tersebut akan batal atau akan berakhir dengan sendirinya.
4.    karena mustahil untuk dilaksanakan
Apabila tidak dilaksanakannya perikatan oleh satu pihak disebabkan oleh alasan eksternal, maka akad batal dengan sendirinya tanpa perlu putusan hakim karena akad mustahil untuk dilaksanakan.[38]Sebagai contoh dalam akad kerjasama bagi hasil, pihak shohibul mal memberikan dana untuk beternak sapi sejumlah Rp. 10.000.000,- kepada pengusaha, bagi hasil yang diinginkan oleh pemberi modal  adalah sebesar Rp. 15.000.000,- per bulan. Pengusaha tidak akan dapat melaksanakannya karena beternak sapi akan dapat dipanen +dua tahun sekali, sehingga menjadi mustahil jika setiap bulan harus membayar bagi hasil sebesar Rp. 15.000.000,-.



[1] Hendi Suhendi,  Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 43
[2] Ibid., hal. 45
[3] Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Muamalah Sistem Transaksi Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hal. 15
[4] Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 68
[5] Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Konstektual. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 78
[6] Ibid., hal. 86
[7] Ibid., hal. 81
[8] Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hal. 16-17
[9] Didin Hafidudin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 20
[10] Hendi Suhendi,  Fiqih Muamalah…, hal. 47 – 48
[11] M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 108
[12] Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hal. 3
[13] Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hal.165
[14] Qomarul Huda,Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Teras, 2011), hal. 33
[15] Ibid., hal. 36
[16] Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Muamalah…, hal. 22
[17] Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah…, hal. 104
[18] Ibid., hal. 103
[19] Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah…, hal. 108
[20] Qomarul Huda, Fiqh Muamalah…, hal. 36
[21] Hendi Suhendi,  Fiqih Muamalah…, hal. 53
[22] Qomarul Huda, Fiqh Muamalah…, hal. 37
[23]  M. Ali Hasan, Berbagai Macam…, hal. 110
[24] Veitzal Rivai, Islamic Transaction Law In Business dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 10-11
[25] Qomarul Huda, Fiqh Muamalah…, hal. 38
[26] Ibid., hal. 39
[27] Hendi Suhendi,  Fiqih Muamalah…, hal. 55
[28] Departemen Agama RI, Tafsir Quran Karim, terj. Mahmud Yunus, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 2000), hal. 805
[29] Salim, PengantarHukum…, 158                                 
[30] Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum…, hal 31
[31] Salim, Pengantar Hukum…, hal. 159
[32] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 219
[33] Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum…, hal 34
[34] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 626
[35] Salim, Pengantar Hukum…, hal. 24
[36] Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 341-342
[37] Ibid., hal. 347
[38] Ibid., hal. 359
BACA JUGA  PENGERTIAN, LANDASAN FILOSOFIS PRILAKU KONSUMEN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *