PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN

5,673 views
PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN
Nikah secara bahasa adalah :

“Bersenggama atau bercampur”

Dalam pengertian majaz orang menyebut nikah sebagai akad, karena akad merupakan sebab diperbolehkannya bersenggama.
Nikah atau yang biasa orang Indonesia menyebutnya dengan kata kawin atau perkawinan dalam bahasa Arab disebut dengan al-nikah yang bermakna al-wathi‟ dan al-dammu wa al-tadakhul. Terkadang juga disebut dengan al-dammu wa al-jam‟u, atau ‟ibarat „an alwath‟ wa al-„aqd yang bermakna bersetubuh, berkumpul dan akad. Sebenarnya kata nikah itu sendiri berasal dari bahasa arab nikaahun yang merupakan bentuk masdar atau kata asal dari kata kerja (نكح ) nakaha. Sinonim dari kata nakaha adalah taawwaja yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai pernikahan/perkawinan. Kata nikah sering kita pergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia. Kata nikah menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi). Kata “nikah” sendiri sering dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus), juga untuk arti akad nikah.
Terlepas dari makna etimologis, terdapat beberapa definisi lebih luas pernikahan dalam konteks hubungan biologis yang akan diuraikan di bawah ini:
Definisi Menurut istilah Hukum Islam (Syar‟i):
Para ulama berbeda pendapat tentang nikah dari makna ushuli atau syar‟i, pendapat tersebut dibagi menjadi tiga. Pendapat pertama menyatakan bahwa nikah arti khakikatnya adalah watha‟ (bersenggama), sedangkan dalam pengertian majaz nikah adalah akad. Pendapat kedua mengatakan bahwa nikah makna khakikatnya adalah akad, sedangkan makna majaznya adalah watha‟. Pengertian ini adalah kebalikan dari pengertian menurut lughawi. Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna nikah secara khakikat adalah musytarak (gabungan) dari pengertian akad dan watha”.
Menurut Imam Madzhab (ala al-Madzahib al-Arba‟ah)

Menurut mazhab Syafi‟i nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan watha‟ dengan lafadz nikah atau tazwij atau yang semakna dengan keduanya. Golongan Malikiyah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk membolehkan watha‟, bersenang-senang dan menikmati apa yang ada pada diri seorang wanita yang boleh menikah dengannya. Golongan Hanabilah mendefinisikan nikah sebagai akad yang menggunakan lafadz nikah atau tazwij agar diperbolehkan mengambil manfaat dan bersenang-senang dengan wanita. Golongan Hanafiyah mendefinisikan nikah sebagai akad yang berfaidah untuk memiliki, bersenang-senang dengan sengaja. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa para ulama zaman dahulu memandang nikah hanya dari satu sisi saja, yaitu kebolehan hokum antara seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk berhubungan yang semula dilarang.
Para Mujtahi sepakat bahwa Nikah adalah suatu ikatan yang dianjurkan syariat. Orang yang sudah berkeinginan untuk menikah dan khawatir terjerumus ke dalam perbuatan zina, sangat dianjurkan untuk melaksanakan nikah, Pernikahan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua makhluknya, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.
Menurut Wahbah al-Zuhaily:
“Akad yang membolehkan terjadinya al-istimta(persetubuhan) dengan seorang wanita, atau melakukan wathi‟, dan berkumpul selama wanita tersebut bukan wanita yang diharamkan baik dengan sebab keturunan, atau sepersusuan”.
Definisi lain yang diberikan Wahbah al-Zuhaily adalah: “Akad yang telah ditetapkan oleh Syari‟ agar seseorang laki-laki dapat mengambil manfaat untuk melakukan istimta‟ dengan seorang wanita atau sebaliknya”.
Menurut al-Malibari:
Perkawinan sebagai akad yang mengandung kebolehan (ibahat) melakukan persetubuhan yang menggunakan kata nikah atau tazwij.
Menurut Abu Zahrah:
Dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, mendefinisikan nikah sebagai akad yang menimbulkan akibat hukum berupa halalnya melakukan persetubuhan antara laki-laki dengan perempuan, saling tolong-menolong serta menimbulkan hak dan kewajiban di antara keduanya.
Menurut Imam Taqiyuddin:
Dalam kitabnya Kifayat al-Akhyar mendefinisikan nikah sebagai “ibarat tentang akad yang masyhur yang terdiri dari rukun dan syarat, dan yang dimaksud dengan akad adalah al-wat‟ (bersetubuh).
Dari beberapa definisi ulama fikih yang telah dipaparkan di atas di atas sebagian besar menjelaskan bahwa pernikahan syarat akan nuansa biologis. Definisi pernikahan menjadi terasa sempit, karena sebagian besar ulama tersebut mendefinisikan pernikahan sebagai al-wat‟ yaitu hanya dilihat sebagai sebuah akad yang akan berakibat hukum menyebabkan kehalalan melakukan persetubuhan.
PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN

Tujuan Pernikahan

Dalam pernikahan mempunyai banyak tujuan diantaranya sebagai berikut:
1.    Mendapatkan dan melangsungkan keturunan
Untuk mendapatkan anak keturunan yang sah untuk melanjutkan generasi yang akan datang, seperti tercantum pada surat An-Nisa ayat 1:

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya)* Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain)*, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
2.    Untuk mendapatkan keluarga bahagia yang penuh ketenangan hidup dan rasa kasih sayang. Seperti tercantum dalam Surat Ar-Rum ayat 21:

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir
3.    Memenuhi hajat manusia untuk menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya
4.    Memenuhi panggilan agama,memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan.
5.    Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak dan kewajiban, juga bersungguh-sungguh mencari harta kekayaan yang halal
6.    Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tenteram atas dasar cinta dan kasih saying
7.    Memperoleh kebahagiaan dan ketentraman. Dalam kehidupan berkeluarga perlu adanya ketentraman, kebahagiaan, dan ketenagan lahir batin
8.    Mengikuti sunah Rosul.
9.    Menjalankan Perintah Alloh SWT karena Alloh menyuruh kepada kita untuk menikah apabila telah mampu.
10.    Untuk berdakwah
Sedangkan menurut referensi yang lain tujuan perkawinan ada 3 antara lain yaitu:
1.    Suami istri saling bantu-membantu serta saling lengkap -melengkapi.
2.    Masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya dan untuk pengembangan kepribadian itu suami-istri harus saling bantu.
3.    Tujuan akhir yang ingin dikejar oleh keluarga bahagia yang sejahtera spiritual dan material.
PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN

Dasar Hukum Pernikahan

  1. Dasar Hukum Pernikahan dalam Alqu‟an antar lain yaitu:
Surat An –Nur ayat 32:

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian)* diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Surat Ar-Rad ayat: 38

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).
Surat Yaasiin: 36

Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
  1. Dasar Hukum Pernikahan dalam Al-hadits antar lain yaitu:
Sabda Nabi diriwayatkan oleh Jama‟ah ahli hadits dan Imam Muslim:

Hadits no. 994:“….dan aku mengawini wanita- wanita, barang siapa yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk umatku.”
Sabda Nabi Muhammad saw.:

Hadits no. 993: Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “hai para pemuda, barang siapa yang sanggup diantaramu untuk kawin (menikah), maka kawinlah (menikahlah), kerena sesungguhnya kawin (menikah) itu dapat mengurangi pandangan (yang liar) dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.
Mengenai hukum melakukan pernikahan segolongan fuqoha‟ yakni jumhur ulama (mayoritas ulama‟) berpendapat bahwa nikah itu hukumnya sunnat. Namun untuk golongan Zahiriyah berpendapat bahwa nikah itu wajib. Para ulama Malikiyah mutaakhirin berpendapat bahwa nikah itu wajib untuk sebagian orang, sunnat untuk sebagian orang lainnya dan mubah untuk segolongan yang lain.
Perbedaan pendapat ini menurut pendapat Ibnu Rusyd yang dikutip oleh Abdul Rahman Ghozali disebabkan karena adanya multi tafsir mengenai bentuk kalimat perintah dalam ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah ini, harus diartikan wajib, sunnah ataukah mungkin mubah.

Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

“kawinlah kamu, karena sesungguhnya dengan kamu kawin, aku akan berlomba-lomba dengan umat-umat yang lain…”
Bagi para fuqoha yang berpendapat seperti di atas, pendapatnya didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan. Qiyas seperti inilah yang disebut Qiyas Mursal, yakni suatu qiyas yang tidak mempunyai dasar penyandaran.
Ulama Syafi‟iyah berpendapat bahwa hukum asal nikah adalah mubah, disamping ada yang sunnat, wajib, haram dan yang makruh.111 Pendapat dari ulama Syafi‟iyah itu didasarkan pada pertimbangan kondisi orang yang melaksanakan serta tujuan melaksanakannya maka melakukan perkawinan (pernikahan) itu dapat dikenakan hukum wajib, sunah, haram, makruh, ataupun mubah untuk penjelasannya sebagai berikut:
a.    Melakukan pernikahan yang hukumnya Wajib.
Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menikah dan dikawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina seandainya tidak menikah maka hukumnya wajib. bagi orang yang mampu memberi nafkah dan dia takut akan tergoda pada kejahatan (zina).
b.    Melakukan pernikahan yang hukumnya Sunnah
Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menikah dan tetapi kalau tidak menikah tidak dikawatirkan akan berbuat zina maka hukumnya Sunnah. bagi orang yang berkehendak serta mampu memberi nafkah dan lain-lainnya.
c.    Melakukan pernikahan yang hukumnya Haram
Bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai kemampuan serta tanggung jawab untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam rumah tangga sehingga jika menikah akan terlantarlah dirinya dan istrinya maka hukumnya Haram. Bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya
d.   Melakukan pernikahan yang hukumnya Makruh.
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pernikahan juga cukup kemampuan untuk menahan diri sehingga tidak memungkinkan dirinya tergelincir pada perbuatan zina sekiranya tidak kawin. Hanya saja orang ini tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi kewajiban suami istri dengan baik. bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
e.    Melakukan pernikahan yang hukumnya Mubah
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pernikahan tetapi apabila tidak melakukannya tidak khawatir berbuat zina dan apabila melakukannya juga tidak akan menelantarkan istri, hanya untuk memenuhi kesenangan bukan dengan tujuan menjaga kehormatan agama dan membina keluarga sejahtera.

PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN

Rukun dan Syarat Pernikahan

1.    Rukun Pernikahan
Rukun adalah sesuatu yang harus ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu. Rukun pernikahan menurut Malikiah ada lima yakni wali, Mahar, calon suami isteri, dan Shighat, sedangkan menurut Imam Syafi‟i rukun dalam pernikahan juga ada lima yakni suami, istri, wali, dua orang saksi, dan shighat.115 Di indonesia dalam menentukan rukun dalam pernikahan pendapat dari imam syafi‟i lah yang dianut, berikut penjabaran satu persatu yang terdapat dalam rukun nikah.
a.         Calon suami dan calon istri
Para ulama‟ madhab sepakat bahwa berakal sehat dan baligh merupakan syarat dalam pernikahan, kecuali jika dilakukan oleh wali mempelai, kedua mempelai disyaratkan terlepas dari keadan-keadaan yang membuat mereka dilarang untuk menikah, baik karena hubungan keluarga maupun hubungan lainnya yang bersifat permanen maupun sementara, orang yang melakukan akat tersebut juga harus pasti dan tentu orangnya, sehingga dipandang tidak sah jika akad nikah dalam kalimat yang berbunyi “saya mengawinkan kamu dengan salah seorang di antara kedua wanita ini,” dan saya nikahkan diri saya dengan salah salah satu di antara kedua laki-laki ini” tanpa ada ketentuan yang mana di antara keduanya itu yang dinikahi.
Selanjutnya mengenai ketentuan baligh kedua calon mempelai, para ulama‟ madhab sepakat bahwa haid dan hamil merupakan bukti balighnya-nya seorang perempuan, hamil terjadi karena terjadi pembuahan ovum oleh sperma, sedangkan haid kedudukannya sama dengan mengeluarkan sperma bagi laki-laki. Syafi‟i dan Hambali menyatakan usia baligh untuk anak laki-laki dan perempuan adalah lima belas tahun, sedangkan maliki menetapkannya tujuh belas tahun, sementara itu Hanafi menetapkan usia baligh bagi anak laki-laki adalah delapan belas tahun.
b.         Wali
Perwalian dalam perkawinan adalah suatu kekuasaan atau wewenang syari‟ atas segolongan manusia, yang dilimpahkan kepada orang yang sempurna, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai itu, demi kemaslakhatannya sendiri.
Sedangkan Abdurrahman Al Jaziry mengatakan tentang wali dalam Al Fiqh ‘ala Mazaahib Al Arba’ah :

“Wali dalam nikah adalah yang padanya terletak sahnya akad nikah, maka tidak sah nikahnya tanpa adanya (wali)”.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil suatu pengertian bahwa wali dalam pernikahan adalah orang yang melakukan akad nikah mewakili pihak mempelai wanita, karena wali merupakan syarat sah nikah, dan akad nikah yang dilakukan tanpa wali dinyatakan tidak sah. Sesuai dengan hadits di bawa ini.
Dari „Aisyah r.a bahwa Rasulallah s.a.w bersabda : “wanita manapun yang menikah dengan tiada izin walinya, maka perkawinannya itu batal, maka kalau lelaki itu sudah menyetubuhinya, niscaya bagi wanita tersebut berhak mas kawin, dengan yang diterima kehalalan oleh lelaki itu dari farajnya
Menurut pendapat fuqaha: tidak sah pernikahan melainkan oleh orang yang sudah diperbolehkan mengendalikan urusannya. Hanafi berpendapat sah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang mumayyiz dan safih (belum dapat mengendalikan urusannya) jika dibenarkan oleh walinya. Pernikahan tidak sah kecuali ada wali laki-laki, oleh karena itu jika seorang perempuan mengakadkan dirinya sendiri untuk menikah maka pernikahannya tidak sah. Demikian menurut pendapat Syafi‟i dan Hambali. Hanafi berpendapat perempuan boleh menikahkan dirinya jika ia telah dibolehkan menggunakan hartanya. Sedangkan pendapat Maliki jika perempuan itu memiliki kemulyaan (bangsawan) dan cantik serta digemari banyak orang maka pernuikahannya tidak sah kecuali ada wali. Sedangkan jika keadaannya tidak demikian maka ia boleh dinikahi orang lain yang bukan kerabat dengan kerelaan dirinya. Dawud berpendapat jika perempuan tersebut seorang gadis maka pernikahannya tidak sah tanpa wali. Tapi jika seorang perempuan tersebut seorang janda maka sah pernikahannya meski tanpa wali.
c.         Saksi
Pernikahan tidak sah kecuali ada saksi, demikian menurut pendapat Syafi‟i, Hanafi dan Hambali mereka sepakat bahwa pernikahan itu tidak sah tanpa adanya saksi, tetapi Maliki berpendapat pernikahan tetap sah meskipun tidak ada saksi, namun maliki menjawab adanya pengumuman pernikahan pernikahan, dengan demikian jika terjadi sebuah akad nikah secara rahasia dan disyaratkan tidak diumumkan maka pernikahan tersebut batal. Mengenai pengumuman, dalam hal ini menurut Hanafi, Syafi‟i dan Hambali sarat tidak diumumkan tidak merusak pernikahan tersebut asalkan akad nikah disaksikan oleh dua orang saksi, pernikahan yang disaksikan oleh seorang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, atau oleh saksi yang fasik, maka hukumnya sah. Demikian menurut pendapat Hanafi. Menurut pendapat syafi‟i dan Hambali pernikahan tidak sah jika tidak disaksikan oleh dua orang saksi laki-laki yang adil.
Sebagaimana dengan wali maka perkawinan dalam pelaksanaannya harus dihadiri oleh saksi-saksi. Para ahli Fiqh sepakat bahwa pelaksanaan aqad nikah harus dihadiri oleh saksi- saksi, karena kehadiran saksi-saksi itu merupakan rukun atau hakikiat dalam perkawinan itu sendiri.
Imam al-Jaziri dalam kitabnya, Fiqih Madzahib al-Arba‟ah menyebutkan lima syarat untuk menjadi saksi yakni sebagai berikut
1)   Berakal, orang gila tidak boleh jadi saksi.
2)   Baligh, anak kecil tidak boleh jadi saksi.
3)   Merdeka, hamba sahaya tidak boleh jadi saksi.
4)   Islam.
5)   Saksi mendengar ucapan dua orang yang berakad secara bersamaan, maka tidak sah kesaksian orang tidur yang tidak mendengar ucapan ijab qabul dua orang yang berakad.
Berbagai pendapat mengenai laki-laki atau perempuan yang boleh menjadi saksi dalam pernikahan diantaranya adalah Golongan Syafi‟i dan Hambali mensyaratkan saksi harus laki-laki. Akad nikah dengan saksi seorang laki-laki dan dua perempuan tidak sah, sebagaimana riwayat Abu Ubaid dari Zuhri, katanya: “Telah berlaku contoh dari Rasulullah SAW bahwa tidak boleh perempuan menjadi saksi dalam urusan pidana, nikah dan talak. Akad nikah bukanlah satu perjanjian kebendaan, bukan pula dimaksudkan untuk kebendaan dan biasanya yang menghadiri adalah laki-laki. Karena itu tidak sah akad nikah dengan saksi dua orang perempuan, seperti halnya dalam urusan pidana tidak dapat diterima kesaksiannya dua orang perempuan. Tetapi golongan Hanafi tidak mengharuskan syarat ini.” Mereka berpendapat bahwa kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua perempuan sudah sah.
d.        Ijab dan Kabul
Para ulama‟ madhab sepakat bahwa pernikahan baru dianggap sah jika dilakukan dengan akad, yang mencakup ijab dan qabul antara wanita yang dilamar dengan lelaki yang melamarnya, atau antara pihak yang menggantikannya seperti wakil dan wali, dan dianggap tidak sahnya semata mata berdasarkan suka sama suka tanpa adanya akad.
Pernikahan tidak sah kecuali dengan menggunakan lafad tazwij atau nikah. Demikian menurut Syafi‟i dah Hambali, hanafi berpendapat pernikahan adalah sah dengan lafad yang menunjukan pada pemberi hak milik yang kekal selama hidup. Maliki berpendapat pernikahan adalah sah dengan menggunakan selain lafad tajwid atau nikah asalkan disebutkan maharnya. Apabila seseorang mengatakan zawwajtu binti min fulan (aku nikahkan anak perempuanku dengan si fulan), kemudian sampai berita tersebut kepada orang yang telah disebutkan namanya, lalu orang itu menjawab qabiltu an-nikah ( ku terima pernikahan itu), maka pernikahan tersebut tidak sah, demikian pendapat umumnya para Fukaha. Kalau orang tersebut mengatakan, Zawwajtuka binti (aku nikahkan anakku denganmu), lalu orang itu menjawab, qabiltu (aku terima), maka Syafi‟i berpendapat pernikahan tersebut tidak sah hingga orang tersebut mengatakan, qabiltu nikahaha atau qabiltu tajwijah (aku terima pernikahannya).
Selanjutnya para madhab sepakat bahwa orang yang bisu cukup dengan memberikan isyarat secara jelas yang menunjukan maksud nikah, manakala dia tidak pandai menulis. Kalau dia pandai menulis maka sebaliknya dipadukan antara akad dalam bentuk tulisan dan isyarat.
Untuk terwujudnya akad yang mempunyai akibat-akibat hukum pada suami-isteri haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.    Kedua belah pihak sudah tamyiz jika salah satu pihak ada yang gila atau masih kecil dan belum tamyiz (dapat membedakan benar dan salah), maka pernikahannya tidak sah.
2.    Ijab qabulnya dalam satu majelis, yaitu ketika mengucapkan ijab qabul tidak boleh diselingi dengan kata-kata lain, atau menurut adat dianggap ada penyelingan yang menghalangi peristiwa ijab qabul.
3.    Hendaklah ucapan qabul tidak menyalahi ucapan ijab kecuali kalau lebih baik dari ucapan ijabnya sendiri yang menunjukan pernyataan persetujuan yang lebih jelas.
Pihak-pihak yang melakukan akad harus dapat mendengarkan pernyataan masing-masing dengan kalimat yang maksudnya menyatakan terjadinya pelaksanaan akad nikah, karena yang dipertimbangkan di sini adalah maksud dan niat, bukan mengerti setiap kata-kata yang dinyatakan dalam ijab dan qabul.
4.    Syarat Pernikahan
Syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu.
Pada garis besarnya syarat -syarat pernikahan itu ada 2:
a.    Calon mempelai perempuan halal dinikahi oleh laki-laki yang ingin menjadikannya istri. jadi perempuan itu bukan merupakan orang yang haram dinikahi, baik untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya.
b.    Akad nikahnya dihadiri para saksi Secara rinci akan dijelaskan sebagai berikut:
Syarat-syarat pengantin laki-laki:
a.    Beragama Islam
b.    Laki-laki
c.    Dapat memberikan persetujuan (tidak bodoh)
d.   Terang (jelas) bahwa calon suami laki-laki
e.    Orangnya diketahui dan tertentu
f.     Calon suami halal menikah dengan calon istri
g.    Calon mempelai laki-laki tahu/kenal pada calon istri halal baginya
h.    Tidak terpaksa
i.      Tidak sedang melaksanakan ihrom
j.      Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan calon istri 130
Syarat-syarat calon pengantin perempuan:
a.    Beragama Islam atau ahli kitab
b.    Perempuan
c.    Dapat Dimintai Persetujuan
d.   Terang (jelas) bahwa dia perempuan
e.    Perempuan itu tentu orangnya
f.     Halal bagi calon suami
g.    Perempuan itu tidak dalam ikatan pernikahan dan masa idah
h.    Tidak dipaksa
i.      Tidak sedang melaksanakan ihrom haji atau umroh131
Syarat-syarat wali:
a.    Berakal sehat
b.    Baligh
c.    Merdeka (tidak gila, tidak bodoh, bukan budak)
d.   Muslim
e.    Orang merdeka
Syarat-syarat saksi:
a.    Berakal, bukan orang gila
b.    Dewasa /Baligh (bukan anak-anak)
c.    Merdeka
d.   Islam
e.    Kedua orang saksi itu mendengar
f.     Menghadiri ijab Kabul
g.    Dapat mengerti maksud akad
Syarat-syarat ijab kabul:
a.    Adanya pernyataan menikahkan dari wali
b.    Adanya pernyataan penerimaam dari calon mempelai pria
c.    Memakai kata-kata nikah atau semacamnya
d.   Antara ijab dan qobul bersambungan
e.    Antara ijab dan qobul jelas maksudnya
f.     Orang yang terkait ijab tidak sedang melaksanakan ihrom haji/umroh
g.    Majelis ijab dan qobul itu harus dihadiri oleh minimal 4 orang, yaitu calon mempelai pria atau yang mewakilinya, wali dari mempelai wanita atau yang mewakilinya, dan 2 orang saksi.
Pernikahan sebagaimana disyaratkan oleh Hukum Islam dapat diwujudkan dengan baik dan sempurna jika pernikahan tersebut sejak proses pendahuluannya (muqaddimat al-zawaj) berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh agama. Diantara proses yang akan dilalui itu adalah peminangan atau disebut dengan khitbah.
Khitbah diartikan dengan suatu langkah pendahuluan untuk melangsungkan pernikahan. Para fuqoha mendefinisikannya dengan, menyatakan keinginan pihak laki-laki kepada pihak wanita tertentu untuk menikahinya dan pihak wanita menyebarluaskan berita peminangan ini.
Dalam kitab fikih, khitbah diterjemahkan dengan pernyataan keinginan untuk menikah terhadap seorang wanita yang telah jelas “izhar al-rughbat fi al-zawaj bimraatin mu‟ayyanat” atau memberitahukan keinginan untuk menikah kepada walinya. Pernyataan itu sebagai bentuk ungkapan dan pernyataan keinginan meminang yang boleh disampaikan dengan bahasa yang jelas dan tegas (sarih) dan dapat juga dilakukan dengan sindiran (kiyanah).
Jadi dalam ajaran islam telah dianjurkan untuk saling mengenal sebelum dilakukannya akad nikah. Mengenal disini maksudnya bukan sekedar mengetahui tetapi juga memahami dan mengerti akan kepribadian masing-masing. Jadi dalam proses khitbah tidak hanya melihat masalah fisik saja, tetapi juga dilihat dari segi ketakwaan, keluhuran budi pekerti, kelembutan dan ketulusannya. Hal ini dipandang penting karena kedua mempelai akan mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan dan membentuk keluarga yang semula dimaksudkan “kekal” tanpa adanya perceraian. Realitas yang ada dimasyarakat menunjukkan perceraian sering kali terjadi karena tidak adanya saling pengertian, saling memahami dan menghargai masing-masing pihak.
PENGERTIAN, TUJUAN, HUKUM, SYARAT, RUKUN DAN HIKMAH PERNIKAHAN

Hikmah Pernikahan

Dengan pernikahan akan banyak hikmah yang diperoleh seseorang, diantaranya adalah terdapatnya teman hidup yang dulunya hanya sendiri. Bagi masyarakat Jawa jika mempunyai anak yang telah cukup umur namun belum menikah dirasa membebani fikiran, sebab mereka takut jika anaknya tidak laku kawin. Namun, jika anaknya telah menikah para orang tua di Jawa merasa senang karena kewajiban orang tua terhadap anak telah selesai.
Islam menganjurkan dan menggemirakan pernikahan sebagaimana tersebut karena ia mempunyai pengaruh yang baik bagi pelakunya sendiri, masyarakat, dan seluruh umat manusia. Hikmah dalam pelaksanaan pernikahan adalah sebagai berikut:
  1. Sesungguhnya naluri seks merupakan naluri yang paling kuat dan keras yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak dapat memuaskannya maka banyaklah manusia yang mengalami kegoncangan dan kacau serta menerobos jalan yang jahat, dan pernikahanlah jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks ini. Dengan menikah badan menjadi segar, jiwa menjadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram, dan perasaan tenang menikmati barang yang halal. Keadaan seperti inilah yang diisyaratkan oleh firman allah surat ar-Rum ayat 21:

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

  1. Menikah merupakan jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasab yang oleh islam sanat diperhatika sekali. Banyaknya jumlah keturunan mempunyai kebaikan umum dan khusus, sehingga beberapa bangsa ada yang berkeinginan keras untuk memperbanyak jumlah rakyatnya dengan memberikan perangsang-perangsangan melalui pemberian upah bagi orang yang anaknya banyak, bahkan dahulu ada pepatah “anak banyak berarti suatu kemegahan”. Semboyan ini hingga sekarang tetap berlaku dan belum pernah ada yang membatalkannya.
  2. Masih dalam fiqhus sunnah hikmah yang ke tiga yakni Naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak. Kemudian akan tumbuh pula perasaan ramah, cinta, dan akur yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan kemanusiaan seseorang
  3. Masih dalam fiqhus sunnah hikmah yang ke empat Kesadaran atas tanggung jawab terhadap isteri dan anak-anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang, ia akan lebih cekatanbekerja karena dorongan tanggung jawab dan kewajibannya, sehingga ia akan banyak bekerja dan mencari penghasilan yang dapat memperbesar jumlah kekayaan dan memperbanyak produksi. Juga dapat mendorong usah mengeksploitasi kekayaan alam yang dikaruniakan allah bagi kepentingan hidup manusia.
  4. Masih dalam fiqhus sunnah hikmah yang ke lima yakni Pembagian tugas, di mana yang satu mengurus dan mengatur urusan rumah tangga, sedangkan yang lain bekerja diluar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami-isteri dan menangani tugas-tugasnya. Perempuan bertugas mengatur dan mengurusi rumah tangga, memelihara dan mendidik anak, serta menciptakan suasana yang sehat untuk suaminya beristirahat guna melepaskan lelah dan memperoleh kesegaran badan kembali. Sementara itu, suami bekerja dan berusaha mendapatkan penghasilan untuk belanja dan keperluan rumah tangga. Dengan pembagian yang adil seperti ini masing-masing pasangan menunaikan tugasnya yang alami sesuai dengan keridhaan Ilahi, dihormati oleh umat manusia, dan membuahkan hasil yang menguntungkan.
  5. Masih dalam fiqhus sunnah hikmah yang ke enam, Dengan pernikahan dapat membuahkan di antaranya tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antar keluarga dan memperkuat hubungan kemasyaratan yang memang oleh islam direstui, ditopang, dan ditunjang. Karena masyarakat yang saling menunjang lagi saling menyayangi akan menjadi masyarakat yang kuat lagi bahagia.
BACA JUGA  PANDANGAN HUKUM POSITIF TERHADAP MINUMAN BERALKOHOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *