PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

3,420 views
PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

1.    Pengertian Risywah

Istilah suap dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti uang sogok[1], sedang dalam bahasa Arab disebut dengan rasywah” atau “rasya”, secara bahasa bermakna “memasang tali, ngemong, mengambil hati.[2]Sedangkan dalam istilah, risywah diartikan dengan memberi sesuatu kepada pihak lain untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.[3]Sedangkan uang suap adalah uang yang diberikan kepada pengusaha atau pegawai supaya pengusaha atau pegawai tersebut menjatuhkan hukum yang menguntungkan penyuap atau supaya didahulukan urusannya atau ditunda karena ada suatu kepentingan dan seterusnya.[4]
Dalam kitab Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah yang dimaksud risywah (suap/sogok) adalah pemberian sesuatu dengan tujuan membatalkan suatu yang haq atau untuk membenarkan suatu yang batil. Dalam kitab Al-Misbah Al-Munir karya Al-Fayyumi rahimahullahmengatakan bahwa risywah (suap/sogok) secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau selainnya untuk memenangkan perkaranya memenuhi apa yang ia inginkan. Sedangkan dalam kitab An-Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnu Al-Atsir rahimahullahmengatakan bahwa risywah (suap/sogok) ialah sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang dibuat-buat (tidak semestinya).[5] Dan Menurut Kitab Lisanul ‘Arab dan Mu’jamul Washith risywah adalah “pemberian yang diberikan kepada seseorang agar mendapatkan kepentingan tertentu”.[6]
PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

2.    Unsur-Unsur Risywah

Unsur atau dalam istilah yang lain disebut dengan rukun, adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari sebuah tindakan. Dikarenakan unsur merupakan suatu tindakan yang tidak bisa lepas dan memberikan suatu kepastian hukum tertentu. Secara garis besar, unsur dalam suap memiliki kesamaan dengan akad hibah, karena suap adalah hibah yang didasarkan atas tujuan untuk suatu tindakkan yang dilarang oleh syari’, seperti membatalkan yang hak atau untuk membenarkan suatu yang batil. Selain itu, memakan harta risywah diidentikkan dengan memakan harta yang diharamkan Allah.[7]Adapun yang menjadi unsur-unsur dalam risywah adalah:
a.    Penerima suap (Almurtasyi) yaitu orang yang menerima sesuatu dari orang lain berupa harta atau uang maupun jasa supaya mereka melaksanakan permintaan penyuap, padahal tidak dibenarkan oleh syara’, baik berupa perbuatan atau justru tidak berbuat apa-apa.[8]Pada umumnya orang yang menerima suap adalah para pejabat yang memiliki keterkaitan terhadap masalah yang dihadapi oleh pemberi suap. Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan penerima suap adalah bukan para pejabat, seperti teman atau mungkin kepada orang yang berstatus dibawahnya. Seperti si A menyuap temannya sendiri yang bernama si B untuk tidak memberitahukan kepada orang tuanya si A kalau si A telah bolos sekolah, atau bisa juga seorang yang memiliki keinginan tertentu dengan memberikan sejumlah uang kepada masyarakat biasa agar masyarakat tersebut bersedia untuk memilihnya dalam pemilu yang akan datang.
b.    Pemberi suap (Al-rasyi) yaitu orang yang menyerahkan harta atau uang atau jasa untuk mencapai tujuannya.[9]Pemberi suap ini pada umumnya adalah mereka yang memiliki kepentingan terhadap penerima suap. Kepentingan-kepentingan tersebut bisa karena masalah hukum, untuk pemenangan pemilu dan lain-lain. Pemberi suap ini melakukan suap dikarenakan dia ingin menjadi pihak yang menang, sehingga cenderung melakukan segala cara untuk dapat menang.
c.    Suapan atau harta yang diberikan.[10]Harta yang dijadikan sebagai obyek suap beraneka ragam, mulai dari uang, mobil, rumah, motor dan lain-lain.
PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

3.    Hukum Risywah

Dalam hukum positif ataupun hukum Islam, secara umum risywahadalah suatu yang dilarang (haram). Dalam hukum positif, risywahdilarang karena akan merugikan orang lain, misalnya dalam perkara di pengadilan, salah satu pihak menyuap hakim dengan sejumlah uang yang cukup besar untuk dimenangkan kasusnya, maka ini menjadi haram karena hakim akan memberikan putusan yang tidak berdasar pada berita acara persidangan (BAP) yang ada dan akan menguntungkan pihak yang melakukan suap. Selain itu, tindakan risywahjuga merupakan dari tindak pidana korupsi, meskipun secara umum korupsi tidak hanya sebatas pada masalah risywah saja, melainkan juga berkenaan dengan penyalahgunaan wewenang (pengkhianatan) secara umum, termasuk di dalamnya penyalahgunaan wewenang yang ada unsur suapnya atau tidak ada unsur suapnya.[11]
Dalam Islam, tentunya hukum risywah tidak lepas dari dasar hukumnya, yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. Akan tetapi secara umum, hukum risywahmenurut Islam adalah haram, bahkan tidak hanya hartanya saja, akan tetapi juga perantara, pemberi risywah, penerima risywah juga akan dilaknat oleh Rasulullah SAW, berikut dalil-dalil yang menyatakan bahwa risywahadalah haram:
a.    Al-quran
“dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui” (Al-baqoroh, 188)[12]

“mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram (Seperti uang sogokan dan sebagainya)(Al-maidah, 42)[13]
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-maidah, 44)[14]
b.    Al-hadits
“Dari tsauban berkata : Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap, yang disuap, dan perantara suapan, yakni orang yang memberikan jalan atas keduanya”, (HR. Ahmad) [15]
PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

4.    Macam- Macam Risywah

Secara umum, jenis risywah dapat diklasifikasikan menurut niat pemberi riywah. Menurut niatnya, risywahterbagi tiga, yaitu:
a.    Risywah untuk membatilkan yang haq atau membenarkan yang batil
Risywah (suap) yang digunakan untuk membatilkan yang haq atau membenarkan yang batil adalah suatu tindakan yang sangat merugikan orang lain dan dosa. Karena haq itu kekal dan batil itu sirna.[16]Maksutnya adalah bahwa sesuatu yang haq (benar) adalah suatu kebenaran yang hakiki, sedangkan sesuatu yang batil adalah suatu yang dosa. Praktik suap ini haram hukumnya, karena mengalahkan pihak yang mestinya menang dan memenangkan pihak yang mestinya kalah.[17]
b.    Risywah untuk mempertahankan kebenaran atau mencegah kezaliman
Banyak alasan mengapa seseorang harus melakukan risywah, salah satunya adalah untuk mempertahankan kebenaran atau mencegah kebatilan serta kezaliman. Kalau terpaksa harus melalui jalan menyuap untuk maksud diatas, dosanya adalah untuk yang menerima suap.[18]Para Ulama’ telah bersepakat mengenai hukum risywah yang sedemikian ini, karena dilakukan untuk kebaikan dan untuk memperjuangkan hak yang mestinya diterima oleh pemberi risywah. Hal ini didasarkan pada kisah Ibnu Mas’ud, ketika ia ada di Habasyah, tiba-tiba ia dihadang oleh orang yang tidak dikenal, maka ia memberinya uang dua dinar, yang kemudian, ia diperbolehkan melanjutkan perjalanan.[19]
c.    Risywah untuk memperoleh jabatan atau pekerjaan
Jabatan atau pekerjaan yang seharusnya diperoleh berdasarkan atas keahlian diri, akan tetapi dalam praktiknya masih terdapat beberapa orang yang mendapatkannya dengan cara-cara yang salah. Salah satunya dengan memberi suap kepada pihak terkait atau kepada pejabat tertentu dengan tujuan untuk dinaikkan jabatannya atau untuk mendapatkan pekerjaan. Misalnya si A ingin menjadi guru di sekolah XXX dengan cara memberi uang kepada kepala sekolah sejumlah Rp. 10.000.000,-.
PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH
5.    Hal-Hal yang Identik dengan Risywah
Meskipun risywahadalah perbuatan yang dilarang oleh agama, akan tetapi ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang guna menyamarkan risywah tersebut. Berikut perbuatan-perbuatan yang identik dengan risywah:
a.    Hadiah
Hadiah adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain tanpa mengharapkan suatu bantuan dari orang yang diberi.[20] Dari pengertian tersebut jelas bahwa hadiah adalah perbuatan yang terbebas dari unsur-unsur risywah, akan tetapi pada saat-saat tertentu hadiah dapat dikategorikan sebagai risywah jika yang menerima adalah pejabat atau orang yang memiliki kekuasaan. Karena dikhawatirkan digunakan untuk memanfaatkan jabatannya atau kekuasaannya, karena hadiah yang diberikan kepada pejabat atau penguasa lebih sering diberikan oleh mereka yang memiliki kepentingan dengan penerima hadiah dikarenakan kedudukannya. Lebih lanjut, Ibnu Mas’ud berkata:
“termasuk harta haram jika kamu mengusahakan suatu kebutuhan untuk orang lain dan kamu berhasil memenuhinya lalu memberimu hadiah dan kamu menerimanya”.[21]
Lebih lanjut, Ali RA berkata:
“akan datang suatu masa yang menghalalkan yang haram dengan jalan hadiah”[22]
Dalam penyelenggaraan Negara, banyak praktik-praktik yang berhubungan dengan hadiah namun sebenarnya adalah risywah, misalnya: Memberikan uang tambahan diluar biaya resmi untuk mendapatkan kelancaran pelayanan, Memberikan sesuatu agar dimenangkan tendernya, Memberikan sesuatu agar diringankan kewajibannya,[23] dan lain-lain.



[2] Abdullah Bin Abdul Muhsin, Jariimatur-Rasyati Fisy-Syarii’atil Islamiyyati, terj. Muchotob Hamzah dan Subakir Saerozi, (Jakarta: Gema Insani, 2001), hal. 9
[3] Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Keuangan, (Jakarta: Jajawali Pers, 2009), Hal. 45
[4] Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (Surabaya: PT Bina Ilmu Surabaya, 2003), hal. 462
[6] Buletin Jurdil edisi Larangan Politik UangMoney Politik FA, 02 Februari 2012
[8] Abdullah Bin Abdul Muhsin, Jariimatur-Rasyati…, hal. 11
[9] Ibid., hal 11
[10] Ibid
[11]Masdar F. Mas’udi, et. all., Fiqh Korupsi Amaman VS Kekuasaan, (Mataram: Solidaritas Masyarakat Transparansi NTB, 2003), hal. 277
[12] Departemen Agama RI, Tafsir Quran…, hal. 23
[13] Ibid., hal. 91
[14] Ibid.
[15] Yusuf Qardhawi, Halal dan…, hal. 463
[16] Abdullah Bin Abdul Muhsin, Jariimatur-Rasyati…, hal. 11
[17] Muhammad Nurul Arifin, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia dalam Perspektif Fiqih Jinayah, (TK: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2009), hal. 119
[18] Ali Hasan, Manajemen Bisnis Syari’ah Kaya di Dunia Terhormat di Akhirat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 230
[19] Abdullah Bin Abdul Muhsin, Jariimatur-Rasyati…, hal. 18
[20] Ibid.,  hal. 25
[21] Ibid., hal. 36
[22] Ibid., hal. 35
[23] Masdar F. Mas’udi, et. all., Fiqh Korupsi…, hal 281
BACA JUGA  TERM-TERM MISKIN DI DALAM AL-QUR'AN

2 thoughts on “PENGERTIAN, UNSUR-UNSUR, HUKUM, MACAM-MACAM DAN HAL YANG IDENTIK DENGAN RISYWAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *