PERAN GENDER DALAM KEHIDUPAN

1,619 views
PERAN GENDER DALAM KEHIDUPAN
Masih ingat pengertian peran (role)? Peran adalah aspek dinamis dari status, di mana status cenderung menunjukkan posisi sedangkan peran lebih memperlihatkan penampilan, tetapi telah menjadi hal yang biasa kata „peran‟ diartikan sekaligus baik untuk posisi maupun penampilan. Telah kita ketahui bahwa „peran‟ dapat diberikan, diwariskan atau diusahakan. Dalam perbincangan mengenai peran gender pun demikian, ada yang beranggapan bahwa peran laki-laki dan peran perempuan itu terwariskan sesuai statusnya secara biologis sehingga karena perempuan secara fisik lebih lemah maka “seharusnya” berperan di sektor domestik di dalam rumah yang secara fisik akan terlindungi. Sebaliknya, peran laki-laki otomatis “terwariskan” oleh statusnya secara biologis yang kuat dan perkasa sehingga lebih tepat bila berperan di luar rumah di sektor publik. Nampak bahwa, peran gender ini merupakan konstruksi sosial dan budaya dari masyarakat, yaitu peran yang dideterminasi oleh nilai, norma dan aturan yang ada di dalam masyarakat.
Seperti yang dipaparkan Julia Cleves Mosse dalam bukunya Gender dan Pembangunan (1996: 39) bahwa bagi perempuan di seluruh dunia, pekerjaan rumah tangga, apa pun bentuknya merupakan bagian penting dari peran gendernya. Peran gender ini merupakan aktivitas di mana kaum perempuan terutama jika memiliki anak akan mencurahkan segenap energi dan perhatiannya sebagai ibu. Kembali persoalan ini muncul karena peran menjadi ibu itu alamiah ataukah konstruksi sosial?

PERAN GENDER DALAM KEHIDUPAN
Secara alamiah seperti yang telah dibahas di atas perempuan telah dilengkapi dengan organ yang berfungsi untuk melahirkan anak artinya hanya kaum perempuan saja yang dapat mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya. Nampak bahwa secara akal sehat menjadi ibu itu adalah alamiah. Tetapi menurut Julia Cleves Mosse (1896: 39) istilah “ibu” adalah istilah sosial seperti halnya mama, mae, mutter, moeder, amma, mere, madre, matka, makuahine, mamae, ema, aiti, mor, ame, itu semua adalah frase kata untuk ibu dan ini adalah milik bahasa, sebuah konstruksi manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa mengandung, melahirkan dan menyusui adalah aktivitas alamiah bagi kaum ibu, tetapi bagaimana dengan peran menjadi ibu rumah tangga?
Istilah ibu rumah tangga (housewife) adalah istilah yang sudah berumur satu setengah abad lebih. Menurut pengamatan Mosse (1996: 43) ibu rumah tangga mulai diperhitungkan tatkala proses industrialisasi menempatkan kaum laki-laki melakukan imitasi pada kelompok kaya aristokrat yang memiliki ibu rumah tangga yang tidak perlu bekerja di luar rumah tetapi dapat mewakili status dan harta kekayaan suaminya. Industrialisasi bermakna bahwa rumah tangga yang sebelumnya sebagai tempat proses produksi akhirnya bergeser sebagai konsumsi artinya pabrik-pabrik memproduksi dan rumah tangga sebagai konsumen yang membeli produk di toko. Mosse juga menjelaskan bahwa di Eropa berkurangnya jumlah pembantu dari rumah tangga kelas menengah setelah Perang Dunia (PD) pertama membuat kaum perempuan harus melakukan pekerjaan di dalam rumahnya sendiri dan menjadi “ibu rumah tangga” yang didomestikasikan, suatu kecenderungan yang berlangsung terus hingga tahun 1950-an. Kemudian sekitar tahun 1960-an muncul model ibu rumah tangga modern di mana ibu atau istri mengurus rumah, mengasuh anak dengan ketersediaan uang tunai yang diberikan suami sebagai pencari nafkah. Hal ini berlanjut hingga membuahkan pemikiran yang memperkuat konstruksi bahwa kaum perempuan memiliki tanggung jawab dalam ranah domestik yaitu rumah tangga.
PERAN GENDER DALAM KEHIDUPAN
Pendapat di atas sejalan dengan pendapat Zaretsky (1976) bahwa pada masyarakat kapitalis, sektor masyarakat dikaitkan dengan sistem pasar, di mana sektor rumah tangga merupakan sektor pribadi yang tidak dicampuri sistem pasar. Oleh karena itu, perempuan yang bekerja di sektor rumah tangga tidak mempunyai nilai pasar, sedangkan laki-laki di sektor nonrumah tangga jelas mempunyai nilai tukar sehingga baik secara ekonomis maupun psikologis perempuan tergantung pada laki-laki karena hanya melalui lembaga keluargalah mereka terlindungi. Di satu sisi laki-laki memantapkan kekuasaannya di dalam keluarga.
Dari realita yang berlangsung sepanjang masa ini, Hotler (1920) sebagai sosiolog melihat secara esensial seperangkat preferensi, ganjaran, rasa, dan tujuan di mana orang belajar sebagai laki-laki atau perempuan. Banyak literatur yang menyatakan bahwa mereka belajar menjadi laki-laki atau perempuan dari orang tua mereka ketika kanak-kanak sampai dewasa.
PERAN GENDER DALAM KEHIDUPAN
Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya faktor yang memengaruhi terdapat sedikit pergeseran peran antara laki-laki dengan peran perempuan walau warna patriarkat masih nampak. Seperti yang dipaparkan Scanzoni dan Szinovac dalam bukunya Family Decision Making; A Development Sex Role Model (1984) bahwa peran gender dibagi ke dalam empat preferensi yang bermuara dari keluarga, yaitu preferensi untuk peran istri, preferensi untuk peran suami, preferensi untuk peran ibu dan preferensi untuk peran bapak.
Menurut Scanzoni dan Szinovac, preferensi untuk peran istri terdiri dari (1) tugas utama seorang istri adalah memelihara dan memperhatikan suaminya; (2) bila istrinya bekerja seyogianya tidak mencoba untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara yang sama yang dilakukan laki-laki; (3) istri yang bekerja seyogianya menyerahkan pekerjaannya ketika hal itu tidak membuat senang suaminya; (4) pekerjaan istri justru yang penting adalah menyenangkan suaminya tatkala ia bekerja; (5) istri seyogianya melakukan rencana yang panjang dalam cara yang sama yang dilakukan suaminya.
Preferensi berikutnya adalah preferensi untuk peran suami, ditunjukkan dengan ukuran bahwa (1) jika pekerjaan istri kadang-kadang memerlukan waktu sampai malam maka seyogianya tidak mengganggu suaminya; (2) jika istri memperoleh lebih banyak uang dari suaminya maka sebaiknya tidak mengganggu suami; (3) jika istri kerja ia harus membagi secara setara pekerjaan rumah tangga (seperti memasak, membersihkan dan mencuci); (4) laki-laki yang menikah mempunyai tanggung jawab terhadap pekerjaannya; (5) suami mesti menjadi kepala keluarga.
Preferensi yang lain adalah preferensi untuk peran ibu, ini ditunjukkan dengan ukuran bahwa (1) ia (istri) harus sadar bahwa ganjaran dan kepuasan yang terbesar sebagai seorang ibu datang melalui anak-anaknya; (2) seorang ibu dari anak-anak prasekolah sebaiknya bekerja hanya jika keluarganya benar-benar membutuhkan uang yang lebih banyak; (3) ibu yang bekerja sebaiknya menyerahkan pekerjaannya ketika hal itu membuat kesulitan bagi anak-anaknya; (4) karena ada sejumlah pusat-pusat penitipan dan perawatan anak maka ibu-ibu dari anak-anak prasekolah dapat pergi bekerja; (5) jika menjadi seorang ibu tidak membuat puas dirinya maka ia pergi bekerja, (6) ibu dari anak-anak prasekolah sebaiknya tidak bekerja karena hal itu menimbulkan hal yang tidak baik bagi anak-anaknya; (7) ibu dari anak-anak prasekolah sebaiknya bekerja hanya beberapa jam saja dalam satu minggu.
Preferensi yang terakhir adalah preferensi peran ayah, yang ditunjukkan dengan ukuran sebagai berikut (1) ayah seharusnya menjadi pendorong finansial utama bagi anaknya; (2) ayah harus menyisihkan banyak waktunya seperti juga ibunya untuk menjaga anak-anaknya; (3) ayah mempunyai lebih banyak tanggung jawab daripada ibu untuk menghukum anak-anaknya; (4) jika ia mau, ayah dapat menghentikan pekerjaannya dan menjadi orang tua sepenuhnya; (5) ayah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada ibu dalam mempersiapkan anak laki-lakinya dalam berkeluarga kelak; (6) ayah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada ibu dalam mendidik anak laki-lakinya bagaimana bekerja keras dan menghadapi dunia; (7) ayah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada ibu untuk membuat peraturan bagi anak-anaknya.

Lalu bagaimana fenomena tersebut dalam masyarakat Indonesia? Pada empat dekade yang lalu kondisi masyarakat di negara barat tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia pada kelas menengah ke bawah kini, masih nampak kehidupan perempuan yang berputar di sekitar kehidupan rumah tangga. Tujuan kaum perempuan seolah-olah hanya untuk menikah dan membangun keluarga, setelah itu hampir sepanjang kehidupan perempuan dilewatkan dalam rumah tangga. Tentu saja kondisi seperti ini banyak mengakibatkan perempuan menjadi sangat tergantung secara ekonomis kepada laki-laki karena pekerjaan di dalam rumah tangga tidak menghasilkan uang atau gaji di samping itu preferensi peran yang berlaku di dalam masyarakat menempatkan laki-laki pada posisi selalu dominan, determinan dan memiliki kesempatan lebih untuk memilih apa yang dikehendakinya. Hal ini berlangsung dari generasi satu ke generasi berikutnya melalui proses sosialisasi dalam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *