PERBEDAAN GENDER DAN SEJARAH PERBEDAAN GENDER

1,674 views
PERBEDAAN GENDER DAN SEJARAH PERBEDAAN GENDER
Perbedaan gender terjadi melalui proses yang sangat panjang, dimulai dengan pembagian kerja secara seksual yang sudah berlangsung ribuan tahun. Oleh karena kondisi biologis yang berbeda maka laki-laki dibedakan pekerjaannya dengan pekerjaan bagi perempuan. Banyak orang beranggapan dan percaya bahwa perempuan sewajarnya hidup di lingkungan rumah tangga. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang diberikan alam kepada perempuan.
Dalam bukunya Pembagian Kerja Secara Seksual (1985: 2) Arief Budiman menyatakan bahwa di negara barat pada dekade 1980-an telah berkembang pandangan yang sangat kuat mengenai perempuan di rumah tangga dan laki-laki di luar rumah, hanya menguntungkan laki-laki saja. Pembagian kerja yang menempatkan perempuan pada ranah rumah tangga untuk memasak dan mengurus anak membuat perempuan tidak berkembang secara manusiawi. Mereka menjadi sangat kerdil sepanjang hidupnya karena ruang gerak yang sangat terbatas, sedangkan laki-laki memperoleh ruang dan kesempatan yang lebih untuk bergerak dalam kehidupan di luar rumah dan mengembangkan dirinya secara optimal.
PERBEDAAN GENDER DAN SEJARAH PERBEDAAN GENDER
Perbedaan secara fisik yang kemudian ditarik kepada perbedaan secara sosial dan kultural melahirkan pula perdebatan mengenai perbedaan psikologis. Pertanyaannya, apakah perbedaan secara psikologis ini juga merupakan perbedaan yang terwariskan secara alamiah atau perbedaan ini hanyalah peran yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan?
Arief Budiman (1985:2) telah mencoba mendiskusikan perbedaan psikologis ini dengan mengetengahkan pandangan pengikut teori nature dan pandangan pengikut dari teori nurture. Pengikut teori nature berpandangan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan ini disebabkan oleh faktor biologis kedua jenis manusia ini. Pengikut teori nurture berpandangan bahwa perbedaan ini terbentuk karena proses belajar yang dilalui dalam lingkungan di mana mereka hidup. Namun, ada pula pandangan yang menengahi kedua pandangan yang bertolak belakang ini, yaitu pandangan yang mencoba mensintesiskan keduanya, yaitu teori yang menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh semacam interaksi antara faktor-faktor biologis dan sosio-kultural.
PERBEDAAN GENDER DAN SEJARAH PERBEDAAN GENDER
Terlepas dari perdebatan ekstrim kedua teori tersebut, Maria Mies (1986: 7475) menyebut pembagian kerja  seperti ini sangat bersifat patriarkatkarena didasarkan pada pemisahan struktur dan subordinasi manusia, yaitu laki-laki yang terpisah dari perempuan. Laki-laki secara total berada di luar rumah (outside the oikos) dan perempuan pada posisi subordinasi dan yang terpenting dalam masyarakat patriarkat, perempuan adalah ibu dari anak-anak mereka yang selalu berada di dalam rumah.
Fenomena seperti ini berlangsung terus baik pada masyarakat di negara Barat maupun di negara Timur, pembagian kerja atau tugas antara laki-laki dan perempuan menjadi melekat pada gambaran fisik keduanya, misalnya atribut fisik feminin, kulit halus, hidung mungil, bulu mata panjang dan lentik kemudian memperoleh tugas atau pekerjaan yang di-“syah”-kan oleh kebudayaan, yaitu pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, halus dan tidak banyak tantangan atau risiko. Hal ini berbeda dengan tugas atau pekerjaan laki-laki karena atribut maskulinitas, seperti badan yang tegap mengindikasikan orang yang disiplin, kuat, dan memiliki kontrol diri. Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Werner ditemukan hasil bahwa maskulinitas dapat dilihat pada laki-laki yang bekerja keras dan bermain keras, seperti kerja sebagai buruh kontraktor, petani atau cowboys. Para laki-laki cenderung bermain di luar rumah, seperti memancing, berkemah, berolahraga dan nongkrong di bar. Pekerjaan laki-laki di luar rumah ini kemudian lazim disebut pekerjaan di sektor publik.
PERBEDAAN GENDER DAN SEJARAH PERBEDAAN GENDER

Dalam bukunya Husbands and Wives (1960: 47:52) Blood dan Wolfe berpendapat bahwa ada dua pola pembagian kerja secara seksual yaitu pola tradisional dan pola kontemporer. Pertama, dalam konsep tradisional perempuan bekerja terpusat pada pekerjaan rumah tangga karena perempuan tidak sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan berat di luar, perempuan lebih sesuai untuk memelihara anak (sebagai child bearer), mengandung (pregnancy), melahirkan (childbirth), dan menyusui (breastfeeding), hal inilah yang membuat perempuan harus tinggal di rumah. Kedua, dalam konsep kontemporer, suami dan istri perlu kerja sama yang saling komplementer dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Blood dan Wolfe juga memaparkan bahwa hasil kajiannya di Detroit (AS) terdapat perbedaan masculine task dan feminine task. Tugas laki-laki adalah, memperbaiki rumah, membersihkan salju dan memperbaiki alat yang rusak, sedangkan perempuan mencuci, menyetrika, dan memasak. Memang nampaknya tugas-tugas perempuan secara langsung ditentukan oleh kondisi biologis atau mental, misalnya pekerjaan rumah tangga menjadi paket yang diasosiasikan dengan peran perempuan atau ibu.

Sejarah perjalanan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi sedemikian rupa dengan proses yang panjang dan terbentuknya perbedaan gender ini diakibatkan oleh pelbagai faktor. Bahkan konstruksi sosial ini diperkuat oleh ajaran keagamaan dan dapat pula dibentuk oleh negara. Di samping itu, konstruksi sosial mengenai gender ini tumbuh dan berkembang secara evolusional dan memengaruhi secara biologis baik pada laki-laki maupun pada perempuan, misalnya karena masyarakat telah mengkonstruksi gender kaum perempuan itu harus bersifat lemah lembut maka kaum perempuan terdidik dan tersosialisasi sesuai dengan sifat gender yang telah ditentukan oleh masyarakat. Sebaliknya, konstruksi sosial terhadap kaum laki-laki itu harus bersifat kuat, rasional, dan agresif maka kaum laki-laki terdidik dan tersosialisasi sesuai apa yang ditentukan masyarakat pula. Oleh karena proses ini berlangsung terus akhirnya konstruksi ini menjadi mapan dan sulit dibedakan apakah sifat-sifat perbedaan kedua gender ini adalah hasil bentukan masyarakat (konstruksi sosial) atau suatu kodrat biologis yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *