POLIGAMI DALAM PANDANGAN HADITS

516 views
POLIGAMI DALAM PANDANGAN HADITS
Tak banyak teks hadits yang menerangkan tentang masalah poligami ini. Yang paling terkenal adalah hadits yang di riwayatkan oleh imam Ahmad dan at-Tirmidzi yang berbunyi:
                        Artinya:
Diceritakan dari Salim dari ayahnya, Bahwa sesungguhnya Ghilan ibn Salamah ketika masuk Islam ia mempunyai sepuluh orang istri, dan ketika masuk Islam oleh Rosul ia di perintahkan memilih dari istri-istrinya tersebut empat orang saja ( HR. Ahmad dan at-Turmudzi)
Hadits inilah yang digunakan sebagian besar ulama’ untuk mendasari pendapat mereka tentang kebolehan berpoligami dan maksimal berpoligami adalah dengan empat orang wanita saja.
Pada umumnya, para fuqoha  dalam membahas masalah poligami hanya menyoroti aspek hukum kebolehan poligami saja tanpa ada upaya untuk mengkritisi kembali hakekat di balik hukum boleh tersebut, baik secara histories, sosiologis maupun antropologis. Oleh karena itu dalam perkembanganya, pnafsiran ayat poligami sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab fiqh klasik banyak digugat karena dianggap bisa gender.
Secara sosiologis, poligami dalam Islam merupakan lompatan kebijakan sekaligus sebagai koreksi islam dari syari’at sebelumnya dan tradisi masyarakat Arab yang memboloehkan menikah dengan perempuan tanpa batas. Faktor historis, membuktikan bahwa pada masa Rosululloh SAW  ada seorang sahabat yang bernama Ghailan al Tsaqofi yang mempunyai sepuluh istri, kemudian Rosululloh SAW menyuruhnya untuk mengambil empat orang istri dari sepuluh istri tersebut. Riwayat ini membuktikan bahwa poligami merupakan sebuah respon sosioligis dan antropologis Al-Quran terhadap budaya masyarakat Arab.
POLIGAMI DALAM PANDANGAN HADITS
Dalam menghadapi dan menyikapi persoalan tersebut ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.                  Perlu kiranya untuk melihat apa sebab-sebab yang melatar belakangi ayat (QS an-Nisa’ ayat 3) tersebut (asbab al-nuzul). Diantara sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut adalah, bahwa ketika Rosululloh SAW diutus, kaum Qurays masih tetap menjalankan tradisi mereka sebelumnya, termasuk kawin lebih dari empat orang.
2.                  Ayat tersebut (QS an-Nisa’ ayat 3) harus dikaitkan dengan misi kerasulan. Artinya, nabi Muhammad SAW sebagai rasul mendapat perintah dari tuhan untuk mengubah budaya “kawin banyak” yang bisanya dilakukan secara bertahap. Karena begitu besar bahaya yang ditimbulkan, selain menelantarkan anak yatim serta anak yang menjadi tanggung jawabnya, poligami juga menyebabkan terlantarnya istri tertua. Akan tetapi nabi tidak mungkin melarang secara total poligami yang telah mebudaya di tengah masyarakat jahiliyyah. Karena akan menyebabkab terjadinya keguncangan di tengah-tengah masyarakat. Langkah awal yang ditempuh adalah dengan membatasi kawin hanya sampai empat saja.
3.                  Hadits tentang “Ambil empat saja dan ceraikan yang lain” harus di artikan bukan sebagai anjuran untuk kawin empat. Kalau benar anjuran, pasti banyak sahabat yang melakukan polgami. Kenyataanya mereka banyak yang tidak melakukan poligami. Perintah ini hanya di tujukan pada orang-orang yang telah melakukan poligami. Mereka yang memiliki satu istri atau belum kawin tidak termasuk dalam ssabda ini, bahkan ada indikasi kalau nabi Muhammad SAW melarangnya.
Sedangkan tentang masalah poligami rosululloh SAW, yang sekarang banyak digunakan sebagai dasar pembolehan poligami lebih dari empat adalah salah, karena pada dasarnya dalam setiap pernikahan yang beliau lakukan selalu ada hal-hal kebaikan yang mendasarinya dan bukan karena didasarkan atas nafsu belaka.
POLIGAMI DALAM PANDANGAN HADITS
Untuk bisa memahami makna yang terkandung dibalik poligami Rosululloh ini, umat seharusnya melihat persoalannya secara utuh dan holistik.
Yang pertama, kita harus paham, Rosululloh diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang pada seluruh alam, hal ini diterangkan pada surat Al-Anbiya’ Ayat 107.
Artinya
Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Yang kedua, Rosululloh diutus untuk memberi contoh dan keteladanan akhlak yang mulia kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana yang diterangkan Al-Quran surat Al-Ahzab Ayat 21, yang berbunyi :
Artinya
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu,( yaitu) bagi orang yang mengharap rohmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Yang ketiga, Rosululloh diutus untuk melindungi dan mengangkat maratabat kaum wanita, anak-anak yatim, para budak dan kaum tertindas lainya. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ Ayat 127
Artinya
Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah:  kepadamu dalam Al-Quran tentang para wanita yatim yang kamu tidak berikan kepada mereka apa yang tidak ditetapkan untuk mereka, sedangkan kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apasaja yang kamu kerjakan, maka sesumgguhnya Allah maha Mengetahui.
Yang keempat, Rosululloh menyuruh ummatnya untuk ummatnya untuk berumah tangga. Bukan hanya menyalurkan fitrah seksnya, melainkan juga untuk membentuk keluarga yang sejahtera, bahagia, dan menumbuhkan generasi Islami yang kuat dimasa yang akan dating. Menciptakan ummat teladan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dalam surat An-Nisa’ Ayat 9, yang berbunyi
Artinya
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapka perkataan yang benar.
Yang kelima, berbagai ayat yang diwahyukan kepada Rosululloh perlu dicontohkan dan diteladankan secara nyata, agar menjadi jelas maknanya. Maka, kita melihat alasan-alasan dibalik poligami itu sebenarnya adalah manifestasi aturan Allah dalam Al-Quran.
POLIGAMI DALAM PANDANGAN HADITS
Dengan pembahasan holistic semacam ini kita bisa memahami praktek poligami rosululloh secara lebih proposional dan lebih jauh bahwa poligami yang dilakukan Rosululloh ataupun poligami yang melebihi empat orang istri adalah suatu hal yang bersifat khususiyah yang hanya diperuntukkan bagi nabi saja tidak pada ummatnya. Adapun istri-istri nabi itu adalah:
1.      Khodijah binti Khuwailid
diakwini nabi Muhammad sebelum beliau menjadi Rosul saat beliau mberumur 25 tahun. Ketika itu Siti Khodijah sudah janda berusia 40 tahun. Dengan istri pertamnya ini Rosululloh mempunyai enam orang anak. Khodijah meninggal pada usia 68 tahun, setelah berumah tangga selam 28 tahun. Adapun alasan nabi mengawini Khodijah adalah kebahagiaan dan kemuliaan akhlaknya bukan karena kecantikannya. Selama berumah tangga dengan Khodijah itu, Rosululloh tidak berpoligami.
2.      Saudah binti Zam’ah
Dikawini Rosululloh setelah Khodijah wafat, demikian pula Saudah ditinggal mati suaminya Sakram bin Muamr. Sakram dan Saudah adalah sahabat Rosul yang ikut hijrah ke Madinah. Beliau kasihan karena Saudah hidup sebatangkara dan dikucilkan keluarganya yang kafir, akibat ia masuk Islam.
3.      Aisyah binti Abu Bakar
Ia adalah anak sahabat Rosululloh (Abu Bakar), dialah sahabat Rosululloh yang paling terpercaya dan sangat berjasa sejak awal perjuangan Islam. Ia adalah kholifah pertama setelah Rosululloh. Maka, salah satu motif perkawinan dengan Aisyah adalah mengikat persaudaraan dengan Abu Bakar agar lebih kukuh dalam perjuangan.
4.      Hafsah binti Umarbin Khottab
Sama dengan Aisyah, Hafsah adalah anak sahabat dekat Rosululloh, yaitu Umar. Dialah kholifah kedua yang menggantikan Abu Bakar. Rosul mengikat kekeluargaan lebih erat dengan Umar dengan cara mengawini anaknya.
5.      Zainab binti Khuzaimah
Ia adalah janda beberapa kali sebelum menikah dengan Rosululloh. Suaminya yang terakhir adalah Ubaidah ibn Harits, yang gugur diperang Badar dalam membela Islam. Rosul merasa kasihan kepadanya, dan menjadikan sebagai istri. Zainab dikenal sebagai wanita yang sangat welas asih kepada orang-orang miskin.
6.      Hindun binti Abu Umayyah
Bia dikenal sebagai Ummu Salamah. Suami sebelumnya adalah Abu Salamah. Alasan beliau mengawininya adalah, karena Hindun menjanda dengan empat orang anak dan juga karena ia dikenal sebagai pejuang wanita diperang Uhud.
7.      Juawairiyah binti Harits
Juwairiyah adalah tawanan perang, ia berasal dari bani Mustalih. Pada zaman itu seorang tawanan perang tidak memiliki harga dihadapan tentara yang menawannya. Maka Rosululloh memberikan pelajaran kepada tentara Islam untuk menghargai mereka yang menjadi tawanan perangnya. Terutama pada para wanita, Rosululloh memininangnya menjadi istri yang sangat dihormati oleh kaum muslimin.
8.      Zainab binti Jahsyi
Zaenab adalah sepupu nabi ia dikawinkan nabi dengan anak angkatnya yang bernama Zaid ibnu Haritsah. Padahal, semula Zaed itu adalah seorang budak. Tapi begitu Rosululloh mengangkat derajatnya menjadi anak angkatnya. Bahkan dikawinka dengan sepupunya, akan tetapi mereka tidak cocok. Dan akhirnya, Zaenab diceraikan oleh Zaid. Nabi kasihan kepada Zaenab dan kemudian mengawininya. Perkawinan ini sekaligus menjadi penetapan hokum. Bahwa mengawin bekas istri anak angkat diperbolehkan dalam Islam.
9.      Raihanah binti Zaid
Adalah salah seorang budak Rosululloh, ada juga yang mengatakan diperoleh dari tawanan perang. Ia berasal dari bani khuroisyah. Rosul memerdekakannya dan menikahinya. Dikabarkan pernah bercerai tapi kemudian rujik kembali. Motifnya adalah mengangkat martabat seorang budak dan menghapus perbudakan.
10.  Romlah binti Abu Sofyan
Dikenal juga dengan nama Ummu Habibah, karena anaknya bernama Habibah. Ia merupakan sahabat nabi dan bercerai dengan suaminya karena suaminya masuk Kristen. Sedangkan ia tetap bertahan pada agama Islam, Rosul sangat menghargainya. Maka nabi kemudian mengawininya agar menguatkan imannya dalam Islam.
11.  Shafiyyah binti Huyay
Shafiyyah adalah tawanan perang. Ia anak pembesar yahudi dikhaibar, yang ditawan oleh seorang tentara Islam, Rosul kemudian membebaskanya dengan cara menebusnya, kemudian dijadikan istri beliau. Hal itu dilakukan guna pelajaran untuk menghargai seorang tawanan perang, beliau juga berusaha menghikangkan kebencian yang bersifat rasisme antara ummat Islam dengan ummat Yahudi.
12.  Maemunah binti Harits
Perkawian Rosul dengan Maemunah terajadi pada saat umrah kedua Rosul, yaitu unrotul khoda’. Maemunah adalaha seorang wanita yang sholeh dan berakhlak mulia. Sehingga Siti Aisyah pun pernah memuji dia sebagai wanita yang paling bertaqwa siantara istri-istri nabi. Perkawinan nabi dengan Maemunah juga dilandasi rasa terimakasih nabi kepada kaum Maemunah yang berbondong-bondong masuk Islam.

Jadi, dari pemaparan tentang poligami Rosul diatas, jelaslah bahwa poligami yang dilakukan Rosul adalah untuk penyebaran agama Islam dan juga sebagai tuntunan bagi ummatnya. Dari itu, tidaklah pas apabila ada sebagian golongan ummat Islam yang berpoligami (baik yang maksimal 4 atau 18) dengan dalih bahwa poligami itu adalah suatu sunnah rosul yang patut untuk diikuti dan dilaksanakan. Karena sudahlah jelas bahwa, poligami yang istrinya lebih dari empat orang itu adalah bersifat Khususiyahdan hanya diperuntukkan bagi nabi saja, sedangkan ummatnya tidak boleh melakukan poligami yang melebihi empat orang istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *