POLIGAMI DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM

514 views

PENGERTIAN POLIGAMI

POLIGAMI DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM
Kata-kata poligami berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata polus yang berarti banyak dan gomus yang berarti perkawinan. Sedangkan Poligami dalam bahasa Indonesia adalah “seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu”.  M.Quraish Shihab berkomentar bahwa poligami adalah pintu darurat yang hanya bisa dibuka apabila ada keadaan yang daruruat dan sangat mendesak. Sedangkan menurut Ibn Katsir poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan berlaku hanya dalam kondisi-kondisi tertentu.
Jadi apabila ada seorang laki-laki yang mengawini perempuan lebih dari empat orang, maka poligaminya di anggap tidak sah oleh Islam dan undang-undang perkawinan kita.
Poligami merupakan salah satu tema penting yang mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sehingga tidak mengherankan jika Allah  meletakkannya pada awal surat An-Nisa’ dalam kitab-NYA yang mulia.

DASAR HUKUM POLIGAMI

POLIGAMI DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM
Adapun dalam Islam dalil yang digunakan sebagai dasar poligami adalah Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 3 yang berbunyi :
Artinya:
“ Dan jika kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila mana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.
Dalam membahas masalah poligami ini kita tidak bisa lepas dari masalah anak-anak yatim, karena dalam ayat yang digunakan sebagai dasar utama tentang masalah poligami ini didahului dengan menerangkan masalah anak-anak yatim, dan masalah anak yatim ini adalah berhubungan sebab akibat dengan  masalah poligami, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dalam bingkai redaksi surat An-Nisa’ ayat 3 dan ayat-ayat yang mendahuluinya.
Dalam An-Nisa’ ayat 3, ayat ini dimulai dengan menerangkan tentang masalah anak yatim. Kata al-yatim sendiri dalam bahasa Arab dan Qur’an berarti seorang anak yang belum mencapai usia baligh yang telah kehilangan ayahnya, sementara ibunya masih hidup. Pengertian yang seperti ini diambil dari dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 6 dan surat Al-Kahfi ayat 82. Dari sini maka kita berhadapan dengan masalah anak-anak yatim yang telah kehilangan ayahnya, dimana Allah memerintahkan pada kita semua untuk berbuat adil dan baik kepada mereka, serta menjaga dan memelihara harta mereka dan menyerahkanya kembali kepada mereka ketika mereka telah menginjak usia dewasa. Dalam hal ini, yakni kekhawatiran tidak terwujudnya keadilan kepada anak-anak yatim sesuai yang dimaksud (Firman Allah: “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim…), maka ayat di atas memperbolehkan poligami. Yakni dengan menikahi ibu-ibu mereka yang telah menjanda.
POLIGAMI DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM
Konteks ayat yang memperbolehkan poligami ini sesungguhnya lebih ditujukan pada upaya menyelamatkan anak-anak yatim sehingga bisa hidup layak. Dengan demikian mengawini ibu dari anak yatim bukanlah tujuan utama, sehingga isu krusial dalam Al-Quran tentang masalah polgami adalah keadilan terhadap anak-anak yatim dari ibu yang dikawininya.
Menurut Rasyid Ridha maksud dari ayat tersebut adalah untuk memberantas atau melarang budaya atau tradisi zaman jahiliyyah yang tidak manusiawi, yaitu wali anak yatim mengawini anak yatimnya tanpa memberi hak mahar dan hak-hak lainya, dan ia bermaksud untuk makan harta anak yatim tersebut dengan cara yang tidak sah, serta ia menghalangi anak yatimnya kawin dengan orang lain sehingga ia bisa leluasa menggunakan hartanya. Demikian pula tradisi zaman jahiliyyah yang mengawini istri banyak dengan perlakuan yang tidak adil dan tidak manusiawi juga dilarang oleh Islam dengan turunnya ayat ini.
POLIGAMI DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM
Menurut M.Quraish Shihab, penafsiran dalil poligami ini yang paling tepat adalah yang disandarkan pada keterangan keterangan nabi Muhammad SAW, ‘Aisyah ra. Lebih lanjut Imam Bukhori, Muslim, Abu Daud serta at-Turmudzi meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada istri nabi (‘Aisyah ra) tentang surat an-Nisa’ ayat 3 ini, beliau (‘Aisyah) menjawab bahwa ayat ini berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pemeliharaan seorang wali, dimana harta anak yatim tersebut bercampur dengan harta walinya, dan sang wali senang akan kecantikan dan harta sang yatim tersebut, maka sang wali ingin menikahinyatanpa memberinya mahar yang sesuai. Sayyidah ‘Aisyah ra lebih lanjut menjelaskan bahwa setelah ayat 3 ini turun para sahabat bertanya lagi kepada nabi tentang masalah perempuan, maka kemudian turunlah Q.S an-Nisa’ ayat 127 yang berbunyi:
Artinya:
Mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “ Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedangkan kamu enggan menikahi mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu)supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”
‘Aisyah ra kemudian melanjutkan keteranganya bahwa firman-Nya: sedangkan kamu enggan menikahi mereka (dalam surat An-Nisa’ ayat 127), bahwa itu adalah keengganan para wali untuk menikahi anak yatim yang sedikit harta dan kecantikannya.  Maka sebaliknya dalam ayat 3 surat an-Nisa’ ini, mereka dilarang menikahi anak-anak yatim yang mereka inginkan, karena harta dan kecantikanya. Tetapi enggan berlaku adil terhadap mereka.
Menurut al-Thobary, bagi laki-laki yang mempunyai keyakinan bahwa ia akan mampu berbuat adil ketika berpoligami, maka ia diperbolehkan berpoligami maksimal dengan empat orang wanita. Dan sebaliknya, laki-laki yang khawatir tidak akan dapat berlaku adil, maka ia cukup menikahi seorang wanita saja. Sedangkan menurut al-Jashash, ayat tersebut berkaitan dengan wanita yatim yang di nikahi oleh pengasuhnya. Pernikahan ini dilarang, ketika kecantikan dan harta yatim tersebut dijadikan alasan, karena di kahawatirkan wali tersebut memberlakukan wanita yatim yang ada dalam pengampuanya secara tidak adil, maka wali itu lebih baik menikahi wanita lain. Ayat ini juga berupaya menghapuskan kebisaaan orang Arab jahiliyyah, bahwa seorang wali itu berkuasa penuh terhadap wanita yatim yang diasuhnya, kalau ia cantik dan kaya maka akan dinikahinya sendiri, tetapi kalau wanita itu kaya tapi tidak cantik maka tidak dinikahinya dan laki-laki lain juga tidak boleh menikahinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *