PRIMBON DALAM PERNIKAHAN

190 views
PRIMBON DALAM PERNIKAHAN
Dalam suatu komunitas di masyarakat Jawa tidak semua orang bisa menentukan hari-hari baik untuk melangsungkan berbagai macam hajatan termasuk Pernikahan, namun hanya beberapa orang saja dalam suatu Desa atau Kelurahan itu yang dapat melakukannya. Biasanya orang yang dianggap tua atau yang dituakan yang dimintai pertolongan oleh seseorang yang ingin punya hajat, itupun ada dua golongan. Pertama, bagi orang-orang yang kejawennya sangat kuat mereka meyakini dan merasa lebih mantab terhadap hasil hitungan dari orang yang menggunakan sistem perhitungan Primbon Jawa murni atau asli Kejawen. Kedua, bagi orang-orang yang takut terhadap kemusyrikan dan keimanan terhadap Islamnya kuat mereka meyakini terhadap hitungan para Kyai yang konon katanya ada sebuah kitab yang menjelaskan tentang menentukan hari baik. Dalam ritual Pernikahan pun juga diadakan berbagai macam slametan agar diberi keselamatan dari berbagai Sengkala atau marabahaya.
Slametan atau selamatan kelahiran waktunya ditetapkan menurut peristiwa kelahiran, dan slamatan kematian ditetapkan menurut peristiwa kematian itu. Namun orang Jawa tidak menganggap peristiwa itu sebagai suatu kebetulan, peristiwa itu dianggap telah ditentukan oleh Tuhan, yang menetapkan secara pasti perjalanan hidup setiap orang.69 Ketika Bratasena, tokoh wayang itu, muncul di surga sesudah mati dengan sengaja dalam suatu kisah yang telah kita sebut dahulu, Batara Guru, raja sekalian dewa, menegur dia karena kelancangannya menghabiskan umur sebelum saat yang ditetapkan untuknya tiba, Dewa itu lalu mengirimnya kembali ke dunia manusia. Upacara khitanan dan perkawinan-seperti juga pergantian tempat tinggal dan semacamnya, tampaknya perlu ditetapkan dengan kehendak manusia. Tetapi disini pun penetapan secara sembarangan harus dihindari dan suatu tatanan Ontologis yang lebih luas ditetapkan dengan sistem ramalan numerologi yang disebut perhitungan atau petungan.
PRIMBON DALAM PERNIKAHAN

Dalam sistem perhitungan orang Jawa terdapat suatu konsep metafisis orang Jawa yang begitu Fundamental, yaitu: cocog, yang berarti sesuai, sebagaimana kesesuaian kunci dengan gembok, serta persesuaian seorang pria dengan wanita yang dinikahinya. Dalam menentukan hari baik untuk pernikahan ada hal-hal yang harus diketahui dan dipergunakan misalnya: neptu hari dan pasaran bulan Jawa calon pengantin berdua waktu lahir.
PRIMBON DALAM PERNIKAHAN
Dalam melakukan hajat pernikahan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya, kebanyakan orang Jawa dulu mendasarkan atas hari yang berjumlah 7 (Senin-Minggu) dan pasaran yang jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, masing-masing hari dan pasaran mempunyai “neptu”, yaitu “nilai” dengan angkanya sendiri-sendiri.

Perhitungan ini merupakan perhitungan antara neptu hari dan pekan (pasaran) kelahiran suami dan istri yang dimaksudkan untuk meramalkan nasib, rejeki, perjalanan rumah tangga, bencana (bala), dst.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *