PRINSIP, MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI DALAM ISLAM

8,666 views

PRINSIP KONSUMSI ISLAM

PRINSIP, MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI DALAM ISLAM
Berbeda dengan ekonomi konvensional yang mengasumsikan manusia sebagai rational economic man, Islam mengajarkan pola konsumsi yang moderat, tidak berlebihan tidak juga keterlaluan, lebih lanjut lagi al-Qur’an melarang terjadinya perbuatan tabzirdan mubadzir. Kebutuhan konsumen yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap pendapatannya, tetapi juga memberi insentif untuk meningkatkannya. Hal ini berarti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah penting dan hanya para ahli ekonomi yang mempertunjukkan kemampuannya memahami dan menjelaskan prinsip konsumsi secara Islami.
Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata dan pola konsumsi modern. Islam berusaha mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini dan menciptakan energi agar manusia selalu mengejar cita-cita spiritualnya. Menurut Abdul Mannan, perintah Islam mengenai konsumsi dikendalikan lima prinsip yaitu:[1]
a.       Prinsip Keadilan, Islam memiliki berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi, maka berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman. Demi menjunjung tinggi kepantasan atau kebaikan, seorang konsumen muslim selalu memelihara hak-hak individu lain yang berhak menerima,serta menghindarkan diri dari segala bentuk diskriminasi. Salah satu manifestasi keadilan menurut al-Qur’an adalah kesejahteraan, karena keadilan akan mengantarkan manusia kepada ketaqwaan dan ketaqwaan akan menghasilkan kesejahteraan bagi manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raaf ayat 29yang :
ö
Katakanlah, Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan[2]
b.      Prinsip Kebersihan, makanan harus baik dan halal untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga dapat merusak jasmani dan rohani manusia. Dengan kata lain kehalalan merupakan salah satu batasan bagi konsumen untuk memaksimalkan utilitas konsumsinya dalam kerangka ekonomi Islam, sehingga pemanfaatan komoditas secara bebas tidak dapat dipenuhi. Hal ini ditekankan untuk mengantisipasi adanya keburukan yang ditimbulkan dari barang tersebut. Firman Allah dalam QS. Al-Maa’idah ayat 88 :
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.[3]
c.       Prinsip Kesederhanaan. Prinsip ini mengatur perilaku manusia baik mengenai makan, minum, pakaian, atau kediaman agar tidak berlebihan. Sederhana dalam konsumsi mempunyai arti jalan tengah yang memberi keseimbangan di antara dua cara hidup yang ekstrim, yaitu paham materialistis yang menghanyutkan manusia dalam kehidupan mewah (israf), bermegah-megahan, serta mementingkan hawa nafsu dan paham zuhud yang menolak kesenangan duniawi.[4]Larangan bertindak mubadzir dalam ajaran Islam menegaskan bahwa konsumen dianjurkan untuk tidak boros dan tidak kikir, dapat mengendalikan hawa nafsu, selalu merasa cukup dan puas (qana’ah), dermawan, serta berperilaku mulia. Batasan ini mengandung asumsi bahwa setiap individu pada dasarnya berhak mendapatkan kehidupan yang menyenangkan dan melebihi dari keperluannya. Sedangkan dalam memenuhi kebutuhan akan barang mewah, seseorang harus memperhatikan keadaan masyarakat sekelilingnya. Firman Allah dalam QS. al-A’raaf ayat 31
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.[5]
d.      Prinsip kemurahan hati, dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika memakan makanan dan meminum minuman yang halal yang disediakan Allah karena kemurahan-Nya. Selama konsumsi tersebut dimaksudkan untuk kelangsungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan menjamin persesuaian bagi setiap perintah Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Maidah ayat 96:
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.[6]
e.       Prinsip moralitas. Manusia merupakan makhluk yang berkehendak bebas (free will), namun kehendak bebas itu tidak berarti terlepas dari nilai moral sebab-akibat.[7]Konsumen konvensional menempatkan moralitas yang dianut hanya pada prinsip-prinsip utilitas, persetujuan, dan konsensus. Sedang dalam Islam, moral konsumen diformulasikan pada nilai-nilai absolut ketuhanan.
Melalui kelima prinsip tersebut, ekonomi Islam membentuk manusia menjadi islamic man. Islamic man dalam mengkonsumsi suatu barang tidak semata-mata bertujuan memaksimumkan kepuasan, tetapi selalu memperhatikan apakah barang itu halal atau haram, israf atau tidak, tabzir atau tidak, memudharatkan masyarakat atau tidak, dan lain sebagainya.[8]Ketakwaannya kepada Allah dan kepercayaannya kepada hari kiamat membuatnya senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Islamic man tidak materialistik, ia senantiasa memperhatikan anjuran syariat untuk berbuat kebajikan untuk masyarakat. Oleh karena itu ia baik hati, suka menolong, dan peduli kepada masyarakat sekitar. Ia ikhlas mengorbankan kesenangannya untuk menyenangkan orang lain. Motifnya dalam berbuat kebajikan kepada orang lain, baik dalam bentuk berderma, bersedekah, menyantuni anak yatim, maupun mengeluarkan zakat harta, dan sebagainya, tidak dilandasi motif ekonomi tetapi semata-mata berharap keridhaan Allah SWT.
MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI DALAM ISLAM
PRINSIP, MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI DALAM ISLAM
Sebagaimana dalam ilmu ekonomi konvensional, bahwa motif perilaku konsumsi dikenal dua macam, yaitu motif internal (dari diri manusia) dan motif ekstenal (dari luar diri manusia), demikian juga dalam Islam terdapat apa yang disebut dengan motif internal dan eksternal dalam konsumsi.
Adapun motif internal yang dimaksud adalah motif yang tumbuh dalam diri seorang muslim dalam bentuk ingin selalu hidup sehat dan kuat. Motif ini didasarkan pada Hadis Nabi saw. berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلِّ خَيْرًا ، احرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّ رَاللَّهُ وَمَاشَاءَ فَعَلَ ، فَإِنْ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ). رَوَاهُ(NÎ=ó¡ãB [9]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda ‘Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing–masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.(HR. Muslim)
Sedangkan motif eksternal yang dimaksud adalah sebuah motif dari luar diri manusia dalam bentuk ingin memenuhi kebutuhan akan kenyamanan dari pelakunya dan secara sosiologis ingin mendapatkan penilaian positif dari orang lain atau publik. Motif ini merupakan motif yang secara syar’i termasuk absah dan positif.[10]
Seperti dirasakan dan disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa hidup sehat dan kuat mutlak harus ditopang oleh perilaku konsumsi, baik perilaku konsumsi yang berkaitan sandang, pangan ataupun papan. Bahkan perilaku konsumsi itu telah diatur dalam Islam sedemikian rupa guna mencapai tingkat kesehatan dan kekuatan yang optimal. Demikian juga halnya kehidupan yang ditopang oleh fasilitas yang baik atau bagus, akan mendatangkan perilaku hidup yang baik dan bagus pula, baik perilaku itu bersifat perilaku keagamaan maupun bersifat perilaku keduniaan.
Dalam pandangan Islam, perilaku konsumsi mempunyai tujuan yang berbeda dengan tujuan perilaku konsumsi dalam pandangan ekonomi konvensional yang hanya ingin berburu kepuasan materi dengan berorientasi pada gengsi dan gaya hidup yang asal beda (conspicuous consumption), sehingga mengesampingkan sisi kebutuhan rohaniah.[11]Tetapi tujuan konsumsi Islam mencakup berbagai aspek, seperti kesejahteraan, kehidupan yang baik menurut syara’, yang memberikan nilai yang sangat tinggi bagi persaudaraan dan keadilan sosial ekonomi baik dalam kebutuhan materi maupun rohani dari seluruh umat manusia. Hal ini secara terperinci dapat diuraikan melalui tujuan-tujuan konsumsi dalam pandangan Islam sebagai berikut:
Adapun tujuan material dari perilaku konsumsi dalam pandangan Islam dapat dipahami dari ayat-ayat berikut ini:[12]
Mendatangkan kesehatan fisik, yang sekali lagi tertuang dalam QS. al-Maidah ayat 88 sebagaimana disebutkan pada prinsip kebersihan di atas.
Memberikan kenyamanan hidup serta menjaga dan menutup aurat, yang ditegaskan dalam QS. al-A’raaf ayat 26:
ûHai anak Adam, Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.[13]
Sedangkan tujuan spiritual dari perilaku konsumsi dalam pandangan Islam antara lain sebagai berikut:
Pertama, pembentukan jiwa bersyukur atas karunia Allah. Dalam pandangan seorang konsumen muslim, setiap perilaku konsumsi yang dilakukannya merupakan realisasi rasa syukur kepada Allah. Hal itu karena tiga faktor yaitu: dikaruniakan-Nya kemampuan untuk mencari bahan konsumsi seperti makanan; dikaruniakan-Nya bahan konsumsi yang melimpah; dan energi yang didapat sesudah menkonsumsi berbagai bahan makanan, semata-mata dipergunakan untuk mempertebal rasa syukurnya kepada Allah. Bahwa seorang konsumen muslim dalam setiap perilaku konsumsinya harus terserap dalam dirinya nilai-nilai syukur.
Kedua, pembentukan ketebalan iman untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Seorang konsumen muslim yang telah mengonsumsi berbagai barang konsumsi sekaligus mampu merasakannya sebagai nikmat karunia Allah, akan berkontribusi besar dalam mengaksesnya untuk senantiasa menunaikan ibadah dengan berlandaskan atas syukur akan nikmat karunia Allah. Ibadah yang dilakukan berulang-ulang dengan berdasarkan atas rasa syukur akan nikmat karunia Allah, secara otomatis akan membentuk pelakunya menjadi ahli ibadah dengan tingkat kualitas pengamalan ibadah yang paling tinggi nilainya di mata Allah. Allah mengisyaratkan, bahwa dalam melakukan ibadah-ibadah kepadanya, hendaknya didasarkan atas rasa syukur akan nikmat karunia-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 172.
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.[14]


BACA JUGA  PENGERTIAN PERSEPSI, PROSES TERJADINYA PERSEPSI DAN FAKTOR YANG SANGAT MEMPENGARUHI PERSEPSI

[1]Muhammad Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1997), hal. 45
[2]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 225
[3]Ibid., hal. 176
[4]Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, (Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf, 1995), hal. 19
[5]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 225
[6]Ibid., hal. 178
[7]Muhammad, Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2004), hal. 171
[8]Yusuf Qardhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 148
[9] Syaikh Islami Muhyiddin, Riyadush Shalihin Imam Nawawi, (Pekalongan: Maktabah Wa Matba’ah Raja Murah, t.t), hal. 65
[10]AlFitri, “Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan” dalam Majalah Empirika Vol. XI No. 01, Februari 2007, hal.1
[11]Dede Nurohman, Memahami Dasar-Dasar Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hal. 97
[12]Andi Bahri S., “Etika Konsumsi Dalam Perspektif Ekonomi Islam”, hal. 363
[13]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, hal. 224
[14]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *