PRINSIP, MOTIF, TUJUAN DAN KONFIGURASI KEBUTUHAN KONSUMEN KONVENSIONAL

180 views

PRINSIP KONSUMSI KONVENSIONAL

PRINSIP, MOTIF, TUJUAN DAN KONFIGURASI KEBUTUHAN KONSUMEN KONVENSIONAL
Berlandaskan pada sebuah paham Kapitalisme dalam tatanan ekonomi konvensional, setiap konsumen dikenalkan pada sebuah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada mereka untuk melaksanakan kegiatan ekonominya, baik sebagai seorang konsumen yang benar-benar membelibarang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, maupun seorang konsumen yang melakukan kegiatan mengkonsumsi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan mewahnya. Dalam sistem seperti ini setiap orang dapat mengatur nasibnya sendiri berdasarkan keinginan dan kemampuannya, setiap orang bebas bersaing dalam memenuhi kebutuhannya, dan bebas memuaskan keinginannya tanpa terikat oleh siapapun.
Pada kenyataannya, sifat keinginan manusia memang tidak pernah terbatas. Hal ini sudah menjadi tabiat alami setiap manusia di bumi yang terkadang menjadikan mereka mempunyai potensi untuk berbuat kerusakan, masalah keinginan manusia merupakan tema sentral dalam susunan paradigmanya. Disebutkan dalam pengertian ilmu ekonomi, sebagai ilmu yang membahas perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang tidak terbatas terhadap sumber daya alam yang terbatas.
Dari uraian-uraian sebelumnya, dapat kita pahami bahwa yang selalu menjadi pedoman seorang individu dalam aktivitasnya memuaskan keinginan untuk memenuhi kebutuhan adalah prinsip-prinsip daripada sistem ekonomi konvensional, diantaranya:
a.       Freedom, kebebasan ekonomi bermakna tidak adanya tekanan dari pihak tertentu terhadap inisiatif individu untuk menjalankan kegiatan ekonomi. Prinsip ini menjadikan individu berpikir rasional dan menganggap keagamaan tidak relevan untuk memahami dan mengatasi permasalahan-permasalahan socio-economi.
b.      Self Interest, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Pola pikir dan pola tindakan individu dalam prinsip lebih cenderung menonjolkan subjektivitas egoisnya yang tidak mempedulikan kepentingan orang lain, kecuali itu memberikan keuntungan. Individu tidak perlu pula peduli dengan kepentingan masyarakat atau kepentingan sosial, apalagi jika bertentangan dengan kepentingan pribadinya. Perhatian utama hanya ditujukan pada pencapaian kepuasan materi untuk kepentingan individu belaka, bahkan terkadang juga mengabaikan etika.
c.       Materialistis, prinsip ini menempatkan materi sebagai sumber kebahagiaan dan kepuasan yang mengantarkan setiap individu untuk bersikukuh mencenderungkan pencapaian kepuasan marginal, Padahal kepuasan marginal itu sendiri pada akhirnya tunduk terhadap hukum kepuasan yang semakin menurun. Kepuasan meterialistis dalam hal ini diukur menurut nilai kepuasan yang didapat dari setiap jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi.
PRINSIP, MOTIF, TUJUAN DAN KONFIGURASI KEBUTUHAN KONSUMEN KONVENSIONAL

MOTIF DAN TUJUAN KONSUMSI KONVENSIONAL

Dalam ilmu ekonomi konvensional, menurut Sulistyo disebutkan, bahwa perilaku konsumsi seseorang dipengaruhi oleh faktor internal di dalam diri manusia dan faktor eksternal dari luar diri manusia. Orang meminta barang dan jasa karena barang dan jasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersifat material. Tetapi di lain pihak perilaku konsumsi seseorang dapat diimbas dari luar yaitu melalui iklan-iklan yang gencar dipasang di berbagai media, hal ini dapat memengaruhi keputusan seseorang pada era modern untuk berkonsumsi. Banyak orang membeli barang dan jasa hanya karena tertarik oleh iklan dan sama sekali tidak ada kaitan dengan usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sebagaimana yang dikutip oleh Andi Bahri, Keynes pun mengemukakan bahwa perilaku konsumsi didorong motif yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri yang bersifat subyektif, yaitu keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.[1]Karena itu kata Sulistyo, pengaruh dari luar itu bersifat obyektif, sebab dapat memengaruhi perilaku konsumsi siapa pun juga. Kedua motif tersebut menggambarkan perilaku konsumsi seseorang ada yang didorong oleh faktor ekonomi, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup, dan ada yang didorong oleh faktor non ekonomi, yaitu lebih untuk pemenuhan keinginan hawa nafsu.[2]
Motif subyektif menggambarkan faktor ekonomi dan motif obyektif menggambarkan faktor non ekonomi, melainkan dipengaruhi oleh faktor psikis, sosiologis dan lain-lainnya. Selain itu kedua motif tersebut menggambarkan pula sebuah indikasi moralitas dan etika. Motif subyektif menggambarkan kualitas moral dan etika yang baik, sedangkan motif obyektif menggambarkan kualitas moral dan etika yang kurang baik.
Tujuan konsumsi bagi seorang konsumen adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup, menghabiskan nilai guna barang atau jasa, mencapai kemakmuran, dan untuk memperoleh kepuasan yang setinggi-tingginya. Selain dari pada itu, sejauh yang penulis ketahui di era modern saat ini mayoritas masyarakat telah terpengaruh oleh paham konsumerisme yang mengakibatkan mereka bersifat konsumtif. Sehingga konsumsi selain bertujuan memenuhi tingkat kepuasan maksimal, juga mengejar kemewahan, status sosial, prestise, dan status ekonomi ditengah-tengah masyarakat. Seorang konsumen ingin agarmendapat pujian dan pengakuan sosial dari seseorang atau publik sebagai seorang yang memiliki status sosial dan status ekonomi yang tinggi. Seorang konsumen biasanya menjadi sangat senangdan bangga ketika perilaku konsumsinya melebihi konsumenlainnya dalam kehidupan keseharian ditengah-tengahmasyarakat.
PRINSIP, MOTIF, TUJUAN DAN KONFIGURASI KEBUTUHAN KONSUMEN KONVENSIONAL
KONFIGURASI KEBUTUHAN KONSUMEN KONVENSIONAL
Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia terhadap benda atau jasa yang dapat memberikan kepuasan dan kemakmuran kepada manusia itu sendiri, baik kepuasan jasmani maupun kepuasan rohani. Sudah kita pahami sebelumnya bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sesuai dengan kodratnya manusia selalu merasa kurang dengan apa yang telah dimilikinya. Sebagai contoh: ketika seseorang belum memiliki rumah, maka ia menginginkan rumah. Namun ketika telah memiliki rumah, selanjutnya memikirkan bagaimana rumah itu memiliki perabot. Apakah cukup sampai di situ? Tentu saja tidak! Kenyataan menunjukkan bahwa, jika suatu kebutuhan terpenuhi maka kebutuhan lainnya akan muncul. Untuk sementara waktu seseorang tadi mungkin telah merasa puas telah memiliki rumah berikut dengan isi perabotnya. Namun, suatu ketika ia masih akan menginginkan mobil, villa, dan lain sebagainya yang jika disebutkan satu persatu tidak akan cukup karena terlalu banyak jenis kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.
Secara garis besar, jenis kebutuhan manusia dalam sudut pandang ekonomi konvensional dapat kita bagi menjadi empat kelompok, yaitu kebutuhan menurut tingkat intensitas, sifat, subjek, dan waktu kebutuhan.[3]
BACA JUGA  KARAKTERISTIK ACCOUN OFFICE



[1]Andi Bahri S., “Etika Konsumsi Dalam Perspektif Ekonomi Islam” dalam Hunafa: Jurnal Studia Islamika Vol. 11 No. 2, Desember 2014, hal. 357
[2]Sulistyo, Pengantar Ekonomi Makro, (Jakarta: Karunika Universitas Terbuka, 1986), hal. 124
[3]Syukron Maulana, “Konsep Kebutuhan dalam Perspektif Islam” dalam http://www.academia.edu/8866446/Konsep_Kebutuhan_Dalam_Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *