PRINSIP PEMASARAN SYARI’AH

536 views

Prinsip-Prinsip Pemasaran Syari’ah

PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH'AH
Menurut prinsip syariah, kegiatan pemasaran harus dilandasi semangat beribadah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan golongan apalagi kepentingan sendiri.
Islam agama yang sangat luar biasa. Islam agama yang lengkap, yang berarti mengurusi semua hal dalam hidup manusia. Islam agama yang mampu menyeimbangkan dunia dan akhirat; antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan sesama manusia). Ajaran Islam lengkap karena Islam agama terakhir sehingga harus mampu memecahkan berbagai masalah besar manusia.[1]
Adapun prinsip-prinsip pemasaran syari’ah ada 4 macam yaitu:
1.      Ikhtiar
Ikhtiar adalah sesuatu bentuk usaha untuk mengadakan perubahan yang dilakukan seseorang secara maksimal dengan segenap kemampuan, daya, dan upaya yang dimilikinya dengan harapan menghasilkan ridha Allah SWT.[2]
Jadi dalam melakukan suatu usaha kalau inggin berhasil harus dilakukan dengan sungguh-sungguh serta berdo’a karena sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum kalau tidak mereka sendiri yang merubahnya. Maka apabila berusaha dengan sungguh-sungguh Insyaallah akan mendapat rezeki.
Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita untuk mendapat kesuksesan, tak ada seorang pun yang menginginkan kegagalan. Hal ini karena Allah menganugerahkan kehendak kepada manusia. Jika kehendak tersebut mampu dikelola dengan baik, manusia akan menemukan kesuksesannya.[3]
tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/¾Ï&Î!qߙu‘ur tbr߉Îg»pgéBur’ÎûÈ@‹Î6y™«!$# óOä3Ï9ºuqøBrÎ/ öNä3Å¡àÿRr&ur 4 ö/ä3Ï9ºsŒ ׎öyzö/ä3©9 bÎ) ÷LäêZä. tbqçHs>÷ès? ÇÊÊÈ
Artinya: “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS.Ash-Shaff: 11).[4]
Dalam prinsip ikhtiar dalam prinsip pemasaran Syari’ah ada larangan berputus asa yakni Allah telah mencontohkan kisah Nabi  Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa.

PRINSIP PEMASARAN SYARI - PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH'AH
Nabi Ya’qub yang terus berdo’a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.
Kisah itu digambarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 87:
Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS: Yusuf: 87).[5]
Tak ada cara lain, mari kita palingkan semua pada Islam. Berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik dan yang diridhoi Allah SWT.
Jadi dalam prinsip pemasaran syari’ah dalam setiap usaha ataupun melakukan hal apapun haruslah dengan bersungguh-sungguh supaya mendapatkan hasil yang maksimal atau mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Dalam menjalankan usaha rental studio musik pemilik usaha tersebut haruslah menjalankan bidang usaha dengan cara yang sungguh-sungguh dalam mengelola bidang usahanya seperti apa yang telah dianjurkan oleh Allah SWT.
2.      Manfaat
Manfaat artinya berguna bagi si pengguna produk atau jasa. Bermanfaat jika dirasakan oleh pemakai. Produk atau jasa yang dihasilkan akan bermanfaat mana kala konsumen merasakan adanya peningkatan nilai lebih dari sebelumnya. Konsumen turut merasakan keuntungan dan keberkahannya.
Jadi pengertian secara luas manfaat dalam prinsip-prinsip pemasaran syariah adalah barang ataupun jasa yang dijual oleh pemilik jasa / usaha itu berguna bagi yang pertama ialah pemilik usaha dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Dan yang kedua yaitu barang atau pun jasa yang digunakan oleh konsumen itu sangatlah bermanfaat atau pun mengandung unsur-unsur manfaat yang baik.[6]

BACA JUGA  PENGERTIAN, FAKTOR DAN MODEL PENDEKATAN ANALISIS SWOT
PRINSIP PEMASARAN SYARI - PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH'AH


 Dalam melakukan prinsip-prinsip pemasaran dalam Islam harus mengandung nilai-nilai iman seperti dalam melakukan suatu usaha harus dengan sungguh-sungguh supaya mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang dingginkan dan menghasilkan suatu produk yang manfaat yang baik bagi penguna jasa usaha maupun pihak yang menjalankan usaha supaya konsumen sangatlah merasa mendapatkan apa yang mereka harapkan.
Jadi dalam prinsip prinsip manfaat dalam pemasaran syari’ah yakni dalam setiap bidang usaha menghasilkan suatu manfaat yang baik bagi produsen ataupun dari konsumen, dalam bidang usaha rental studio musik haruslah mempunyai unsur nilai-nilai yang positif baik dari pengelola usaha maupun dari konsumen itu sendiri, bermanfaat bagi pemilik usaha rental studio musik guna untuk memenuhi serta meningkatkan kebutuhan ekonomi keluarga, selain itu pula haruslah bermanfaat bagi konsumen pengguna jasa rental guna untuk menambah wawasan serta pengetahuan dalam bidang seni musik serta menambah skill dalam memainkan alat musik.
3.      Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya, sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah SAW dikenal sebagai seseorang yang professional yang jujur dengan sebutan al-amin yang artinya dapat dipercaya. Dimana Rasulullah SAW merintis dari modal kejujuran yang diakui tidak hanya  oleh mitera kerja, relasi, bahkan oleh para kompetitornya. Dengan demikian kejujuran bukan saja merupakan tuntunan dalam berbisnis tetapi juga mengandung nilai ibadah.[7]
Amanah secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan.
Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.
Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya.[8]
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa amanah adalah menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa.

PRINSIP PEMASARAN SYARI - PRINSIP PEMASARAN SYARI'AH'AH
Amanah merupakan hak bagi mukallaf yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikan nya karena menyampaikan amanah kepada orang yang berhak memilikinya adalah suatu kewajiban.
Ahmad Musthafa Al-Maraghi sebagaimana yang dikutip Hermawan membagi amanah kepada 3 macam, yaitu
a.       Amanah manusia terhadap Tuhan, yaitu semua ketentuan Tuhan yang harus dipelihara berupa melaksankan semua perintah Tuhan dan meninggalkan semua laranganNya. Termasuk di dalamnya menggunakan semua potensi dan anggota tubuh untuk hal-hal yang bermanfaat serta mengakui bahwa semua itu berasal dari Tuhan.
Sesungguhnya seluruh maksiat adalah perbuatan khianat kepada Allah Azza wa Jalla.
b.      Amanah manusia kepada orang lain, diantaranya mengembalikan titipan kepada yang mempunyainya, tidak menipu dan berlaku curang, menjaga rahasia dan semisalnya yang merupakan kewajiban terhadap keluarga, kerabat dan manusia secara keseluruhan.
Termasuk pada jenis amanah ini adalah Pemimpin berlaku adil terhadap masyarakatnya, Ulama berlaku adil terhadap orang-orang awam dengan memberi petunjuk kepada mereka untuk memiliki i’tikad yang benar, Memberi motivasi untuk beramal yang memberi manfaat kepada mereka di dunia dan akhirat, Memberikan pendidikan yang baik, menyuruh berusaha yang halal serta memberikan nasihat-nasihat yang dapat memperkokoh keimanan agar terhindar dari segala kejelekan dan dosa serta mencintai kebenaran dan kebaikan.
Amanah dalam katagori ini juga adalah seorang suami berlaku adil terhadap istrinya berupa salah satu pihak pasangan suami-istri tidak menyebarkan rahasia pasangannya, terutama rahasia yang bersifat khusus yaitu hubungan suami istri.
c.       Amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya baik dalam urusan agama maupun dunia, tidak pernah melakukan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.
Amanah merupakan faktor utama terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, sebab dengan sikap amanah semua komponen bangsa akan berlaku jujur, tanggung jawab dan disiplin dalam setiap aktifitas kehidupan. [9]
Mewabahnya korupsi, monopoli dan oligapoli dalam berbagai lapangan kerja dan sektor ekonomi baik ekonomi mikro maupun ekonomi makro, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, hilangnya saling percaya, tumbuhnya saling mencurigai (negative thinking), menjamurnya mental hipokrit, apriori terhadap tugas dan kewajiban dan sifat-sifat tercela lainnya sebagai akibat dari hilangnya amanah.
Jadi dalam prinsip pemasaran syariah amanah itu sangat lah berperan penting dalam menjalankan sebuah bidang usaha atau pun melakukann kegiatan sehari-hari, dalam prinsip amanah dalam menjalankan atau mengembangkan sebuah usaha sangatlah diperlukan bagi pemilik usaha dalam pemasaran atau pun mempromosikan terhadap konsumen dalam bidang usaha maupun jasa.
4.      Nasihat
Kata “nasehat” berasal dari bahasa arab, dari kata kerja “Nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti “Khaatha”, yaitu menjahit.
Sebagian ahli ilmu berkata: Penjelasan arti nasehat secara lengkap adalah perhatian hati terhadap yang dinasehati siapa pun dia, dan nasehat tersebut hukumnya ada dua, yang pertama wajib dan yang kedua sunnah. Maka nasehat yang wajib kepada Allah, yaitu perhatian yang sangat dari penasehat dengan cara mengikuti apa-apa yang Allah cintai, berupa pelaksanaan kewajiban dan dengan menjauhi apa-apa yang Allah haramkan. Sedangkan nasehat yang sunnah adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allah dari pada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri, yang demikian itu dalam dua perkara yang berbenturan. Yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang lain untuk Rabbnya, maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabbnya terlebih dahulu dan mengakhirkan apa-apa yang untuk dirinya sendiri, maka ini adalah penjelasan nasehat kepada Allah secara global, baik yang wajib maupun yang sunnah. Adapun perinciannya akan kami sebutkan sebagiannya agar bisa dipahami dengan lebih jelas. Maka nasehat yang wajib kepada Allah adalah menjauhi laranganNya, dan melaksanakan perintahNya dengan seluruh anggota badannya apa-apa yang mampu ia lakukan, apabila ia tidak mampu melaksanakan kewajibannya karena suatu alasan tertentu seperti sakit atau terhalang dengan sesuatu atau sebab-sebab lainnya, maka ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban tersebut apabila penghalang tadi telah hilang.[10]
Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah: 91:
Artinya: “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka menasehati kepada Allah dan RasulNya (cinta kepada Allah dan RasulNya). Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At-Taubah : 91].[11]
Maka Allah menamakan mereka sebagai “Al-Muhsinin” (orang-orang yang berbuat baik) karena perbuatan mereka, berupa nasehat kepada Allah dengan hati-hati mereka yang ikhlas, ketika mereka terhalangi untuk berjihad dengan jiwa raganya, dan dalam kondisi tertentu mungkin bagi seorang hamba dibolehkan meninggalkan amalan-amalan, tetapi tidak dibolehkan meninggalkan nasehat kepada Allah, seperti orang yang sakit yang tidak bisa menggerakkan badannya dan tidak dapat berbicara, tetapi akalnya masih sehat, maka belum hilang kewajiban nasehat kepada Allah dengan hatinya, disertai dengan penyesalan akan dosa-dosanya, dan berniat dengan sungguh-sungguh apabila sehat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepadanya, dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang untuk mengerjakannya, kalau tidak (yaitu tidak ada amalan hati, berupa cinta, takut, dan harap kepada Allah dan niat untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan laranganNya), maka ia tidak disebut telah menasehati kepada Allah dengan hatinya. Dan termasuk nasehat kepada Allah adalah taat kepada Rasul Nya shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hal yang beliau wajibkan kepada manusia berdasarkan perintah Rabbnya, dan termasuk nasehat yang wajib kepada Allah adalah dengan membenci dan tidak ridha terhadap maksiat orang yang berbuat maksiat dan cinta kepada ketaatan orang yang taat kepada Allah dan RasulNya.
Produk atau jasa yang kita keluarkan haruslah mengandung unsure berupa nasihat yang terkandung didalamnya sehingga setiap konsumen yang memanfaatkan akan tersentuh hatinya terhadap tujuan hakiki kemanfaatan produk atau jasa yang dipergunakan.
Para produsen yang bertanggung jawab tidak hanya memikirkan dari suatu produk yang wajar, tetapi ia pun berpikir bahwa produk harus mengandung nilai-nilai nasihat, sehingga tidak hanya manfaat yang didapatkannya, tetapi makna nilai yang terkandung di dalamnya dapat memberikan rasa kepuasan batin. Nilai hakiki yang terkandung dalam unsur produk atau jasa dapat mengingatkan kepada konsumen akan makna Allah SWT.[12]
Jadi dalam melakukan prinsip-prinsip pemasaran dalam Islam harus mengandung nilai-nilai iman seperti dalam melakukan suatu usaha harus sungguh-sungguh supaya mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan, dan  menghasilkan suatu produk  itu harus mempunyai manfaat yang baik dan berkualitas serta harganya terjangkau bagi masyarakat, dalam menjalankan bidang usaha harus memiliki nilai-nilai nasihat yang baik supaya konsumen yang memakai jasa tersebut mendapatkan pengetahuan serta menambah wawasan dan dalam melakukan suatu usaha ataupun dalam berbisnis harus jujur supaya konsumen akan percaya dengan produk yang dijual mempunyai nilai-nilai manfaat yang baik.


BACA JUGA  PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, RUKUN, JENIS, PENERAPAN, MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH

[1]http://majalah.pengusahamuslim.com/pemasaran-dalam-perspektif-islam-2/
[2] Hermawan, Syari’ah Marketing…, hal. 6
[3]http://cgeduntuksemua.blogspot.com/2012/03/makalah-konsep-takdir-dan-ikhtiar-dalam.html/
[4] Depag RI, Al-qur`an dan Terjemahnya, (Jakarta: Departemen Agama Islam RI, 1971), hal. 929
[5] Depag RI, Al-qur`an dan Terjemahnya, (Jakarta: Departemen Agama Islam RI, 1971), hal. 362
[6] Hermawan, Syari’ah Marketing…, hal.12
[7] Ibid., hal. 12
[8] http://saputra51.wordpress.com/2012/06/09/jujur-dan-amanah-dalam-islam/ diakses 20 mei 2014, jam.09.45-
[9] Hermawan, Syari’ah Marketing…, hal.12
[10] http://almanhaj.or.id/content/1832/slash/0/pengertian-nasehat/
[11] Depag RI, Al-qur`an dan Terjemahnya, (Jakarta: Departemen Agama Islam RI, 1971), hal. 295
[12] Hermawan, Syari’ah Marketing…, hal.12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *