SEJARH LAHIR DAN PERKEMBANGAN BANK MUAMALAT DI INDONESIA

489 views
SEJARH LAHIR DAN PERKEMBANGAN BANK MUAMALAT DI INDONESIA
Upaya intensif pendirian Bank Islam (disebut oleh peraturan perundang-undangan Indonesia sebagai (Bank Syariah) di Indonesia dapat ditelusuri sejak 1998, yaitu pada saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober (Pakto) yang mengatur deregulasi industri perbankan di Indonesia. Dalam ushul fiqh, ada kaidah yang menyatakan bahwasannya “maa laa yatimm al –wajib illa fa huwa wajib”, yakni sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari nafkah (melakukan kegiatan ekonomi) adalah wajib. Dan karena pada zaman ini kegiatan perekonomian tidak sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, lembaga perbankan ini pun wajib diadakan.[1] Di Indonesia, bank syariah yang pertama didirikan pada tahun1992 adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI). Walaupun perkembangannya agak terlambat bila dibandingkan dengan Negara-negara muslim lainnya, perbankan syari’ah di Indonesia akan terus berkembang. Bila pada periode tahun 1992-1998 hanya ada satu unit Bank Syariah, maka tahun 2005, jumlah bank syariah di Indonesia telah bertambah menjadi 20 unit, yaitu 3 bank umum syariah dan 17 unit usaha syariah.
SEJARH LAHIR DAN PERKEMBANGAN BANK MUAMALAT DI INDONESIA
Berdasarkan data Bank Indonesia, prospek perbankan syariah pada tahun 2005 diperkirakan cukup baik. Industri perbankan syariah diprediksi masih akan berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Jika pada posisi November 2004, volume usaha perbankan syariah telah mencapai 14,0 triliun rupiyah, dengan tingkat pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2004 sebesar 88,6%, volume usaha perbankan syariah di akhir tahun 2005  diperkirakan akan mencapai 24 triliyun rupiyah. Dengan volume tersebut, diperkirakan industri perbankan syariah akan mencapai pangsa pasar sebesar 1,1% pada akhir tahun 2004. Pertumbuhan volume usaha perbankan syariah tersebut ditopang oleh rencana pembukaan unit usaha syariah yang baru dan pembukaan jaringan kantor yang lebih luas. Dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan akan mencapai jumlah sekitar 20 triliyun rupiah dengan jumlah pembiayaan sekitar 21 triliyun rupiah di akhir tahun 2005. Sementara itu, riset yang dilakukan oleh Karim Business Consulting pada tahun 2005 menunjukkan bahwa  total asset bank syariah di Indonesia diperkirakan akan lebih besar daripada apa yang diproyeksikan oleh bank Indonesia.
SEJARH LAHIR DAN PERKEMBANGAN BANK MUAMALAT DI INDONESIA
Pertumbuhan aset yang begitu pesat di wilayah perbankan syariah dipengaruhi oleh adanya daya tawar yang tinggi. Keberagaman berbagai macam produk syariah membuat masyarakat tertarik untuk memilih sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, sehingga tidak heran jika banyak nasabah yang berbondong-bondong berpindah dari bank konvensional ke bank syariah. Khusus pada Bank Muamalat Indonesia sejauh ini  pertumbuhan nasabah mencapai 3,8 juta nasabah ritel. Selanjutnya di tahun 2014 direncanakan peningkatan pertumbuhan tabungan dan giro hingga 46 persen. Sehingga direncanakan pertumbuhan 10 persen atau meningkat 4,1 juta orang dan dengan harapan dapat meningkatkan transaksi 20%. Pada akhir tahun 2013 total DPK non audit nasabah ritel yang berhasil dihimpun mencapai kurang lebih Rp 20 triliun. Angka ini sekitar 40 persen dari total DPK keseluruhan Bank Muamalat Indonesia. Dengan komposisi 40 persen giro dan tabungan, sementara deposito mencapai 60 persen.[2]
Selain itu Bank Muamalat berharap ada penambahan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebanyak Rp30 miliar dari kerja sama dengan PT Telkomsel Indonesia, yakni kerjasama pengelolaan tabungan pendidikan karyawan. Hal ini juga seiring akan adanyapenambahan jumlah rekening sebanyak 1.900, yang berasal dari karyawan Telkomsel. Kerja sama yang dilakukan Bank Muamalat dengan Telkomsel memiliki keuntungan tersendiri, terlebih kepada Bank Muamalat karena ada potensi penambahan jumlah nasabah, rekening dan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK). Oleh karena itulah pertumbuhan nasabah khususnya pada bank Muamalat Indonesia semakin meningkat dengan pesat dari tahun ke tahun.[3]
BACA JUGA  PROSES PEMBERIAN PEMBIAYAAN PADA BANK PART II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *