SOSIALISASI GENDER DALAM KELOMPOK PRIMER

1,912 views
SOSIALISASI GENDER DALAM KELOMPOK PRIMER
Sebelum membahas sosialisasi gender ada baiknya bila kita ingat kembali konsep sosialisasi. Sosialisasi adalah proses mentransfer nilai kepada warga masyarakat yang baru. Sosialisasi nilai yang pertama terhadap individu biasanya terjadi di dalam kelompok primer (primary group), berikutnya individu mendapatkan sosialisasi dalam kelompok sekundernya (secondary group). Konsep tentang kelompok primer dan kelompok sekunder ini diketengahkan oleh Charles Horton Cooley (18541929), ia menyatakan bahwa karakteristik dari kelompok primer adalah intim, face to face, dan adanya kerja sama. Di samping itu kelompok primer didasarkan pula pada keharmonisan dan kecintaan. Cooley menyatakan bahwa yang termasuk kelompok primer ini, di antaranya keluarga dan kelompok ketetanggaan. Kategori kelompok kedua adalah kelompok sekunder yang memiliki karakteristik tidak intim, tidak selalu face to face contohnya adalah kelompok bermain/sport atau komunitas tempat kerja atau organisasi formal.
Sejak lahir sampai mati, perasaan manusia, pemikirannya, dan tindakannya adalah refleksi dari definisi sosial terhadap jenis kelamin. Mulai dari setiap ada kelahiran bayi, sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat, pertanyaan yang muncul adalah “Apakah bayinya laki-laki atau perempuan?”. Pertanyaan ini menjadi penting karena jawabannya melibatkan lebih dari sekadar mengetahui jenis kelamin, tetapi membawa semua hal besar yang berkaitan secara signifikan dengan sepanjang kehidupan anak tersebut. Mengapa sejak lahir terdapat perbedaan ini?
Meminjam pendapat Jessie Bernard dalam bukunya The Female World (1981: 133:136) laki-laki dan perempuan masuk ke dalam dunia yang berbeda dalam satu komunitas tunggal, yaitu dunia pink (pink world) bagi anak perempuan dan dunia biru (blue world) bagi anak laki-laki. Menurutnya, perempuan lahir ke dalam “pink world” disebut pink karena pink adalah warna tradisi feminin, yang biasa melekat pada pakaian dan selimut bayi perempuan (dan secara tradisional bayi laki-laki menggunakan warna biru untuk pakaian dan selimutnya).
SOSIALISASI GENDER DALAM KELOMPOK PRIMER
Selanjutnya, Bernard menjelaskan bahwa pembedaan “dunia” ini telah banyak diteliti oleh para psikolog sosial yang mengkaji bagaimana orang tua melakukan praktik pembedaan jenis kelamin ketika merawat dan mendidik anak. Ada sekitar hampir 200 studi tentang sosialisasi (tahun 1974) di Amerika serikat yang menunjukkan bahwa orang tua memperlakukan anak-anaknya dengan kecenderungan membedakan secara tajam antara perlakuan terhadap anak laki-laki dengan anak perempuannya. Misalnya, perbedaan warna pakaian, perbedaan permainan. Bernard juga melihat bahwa dunia pink ini berlanjut sampai ke sekolah Taman Kanak-kanak ketika anak umur 35 tahun di mana anak-anak perempuan lebih banyak bermain di sudut-sudut di mana boneka diletakkan dan laki-laki akan bermain di areal yang lebih luas. Anak-anak perempuan akan mengidentifikasi kepada ibunya, guru-gurunya (perempuan juga) atau imitasi pada perilaku merawat sedangkan anak laki-laki benar-benar dididik berbeda dengan anak perempuan.
Ketika anak berumur 6 tahun masuk ke sekolah dasar, anak-anak mendapatkan dunia yang berbeda dengan situasi di rumah ataupun di sekolah Taman Kanak-kanak. Anak-anak perempuan masih berada pada dunia mereka yaitu dunia perempuan yang harus dipahami. Biasanya anak perempuan akan selalu membantu gurunya menghapus papan tulis, membawakan kotak buku dan merapikan rak mantel di pojok ruangan. Anak-anak perempuan juga biasa membantu teman sekelasnya. Dalam bermain anak perempuan juga disosialisasi dengan jenis permainan yang berbeda dengan anak laki-laki. Bermain bola adalah permainan anak laki-laki inilah yang membuat jarak di antara mereka dan selanjutnya menjadi pola bagi dunia laki-laki.

Jessie Bernard adalah seorang sosiolog yang konsern dengan studi gender. Ia mengkritik para sosiolog tidak cukup perhatian pada kajian laki-laki dan perempuan. Ia menyarankan dalam sosiologi seperti halnya studi yang lain mengembangkan lebih luas kontrol terhadap laki-laki. Buku-nya yang terkenal adalah The Female World (1981) (Macionis, 1991: 394).
Dari studi yang dipaparkan Bernard di atas menggambarkan bahwa perbedaan peran gender yang terjadi di dalam masyarakat diakibatkan oleh proses sosialisasi. Salah satunya adalah sosialisasi dalam kelompok primer yaitu keluarga. Keluarga merupakan tempat di mana tahap awal atau pertama kali sosialisasi nilai dilakukan terhadap anak. Anak akan menerima dan mengadopsi nilai yang telah disampaikan orang tua mereka.
Hampir pada semua keluarga terdapat nilai skripsi yang membedakan antara peran anak perempuan dan anak laki-laki, misalnya di pelbagai masyarakat orang tua sejak awal memperlakukan anak laki-laki dengan anak perempuannya secara berbeda. Anak laki-laki diharapkan dan dibentuk sebagai anak yang lebih kuat, lebih agresif, dan lebih mampu memimpin ketimbang anak perempuan yang lebih lemah, lembut dan sedikit tegas.
Sejak kecil, ketika dalam situasi bermain anak-anak di negara barat/Western (Joshua S. Gouldstein, dalam International Relations, 2001: 128) memiliki tipologi bahwa anak laki-laki selalu lebih dapat berargumen tentang aturan permainan dan bagaimana mengelola permainan tersebut daripada anak perempuan yang lebih terikat/patuh terhadap aturan permainan dan tidak mau ambil risiko terhadap kohesi sosial dalam kelompok mereka. Demikian pula dalam relasi sosial, pada hubungan pertemanan, anak laki-laki lebih siap untuk berkonflik dengan teman-temannya ketimbang anak perempuan yang lebih setia dalam menjaga hubungan dengan teman-temannya. Di barat, anak laki-laki lebih banyak diajarkan bagaimana bersikap independen.
SOSIALISASI GENDER DALAM KELOMPOK PRIMER
Tipologi seperti di atas tidak jauh berbeda dengan di negara wilayah timur/Eastern, misalnya saja di Indonesia, perlakuan berbeda terhadap anak laki-laki dengan anak perempuan dimulai sejak bayi dalam kandungan. Ada suatu habitus baru, yaitu untuk meng-USG (ultra sonography) bayi dalam kandungan adalah bagian dari serangkaian program memiliki anak dan khusus untuk kehamilan anak pertama menjadi sangat menggembirakan orang tua apabila diketahui anaknya adalah berjenis kelamin laki-laki. Setelah bayi lahir, tidak pernah ketinggalan upacara adat akan diselenggarakan tentunya dengan perlakuan yang berbeda bila anaknya lahir laki-laki daripada kelahiran anak perempuan. Khusus untuk keluarga muslim pun telah ada perlakuan yang berbeda bila anaknya lahir laki-laki maka aqiqah dilaksanakan dengan menyembelih kambing 2 ekor, sedangkan bila anaknya perempuan menyembelih kambing 1 ekor. Tentu jumlah kambing yang disembelih membawa konsekuensi tafsir bagi masyarakat bahwa anak laki-laki lebih utama atau lebih istimewa daripada anak perempuan.
Dalam masa pertumbuhan menjadi kanak-kanak, anak laki-laki telah dididik untuk tidak mudah menangis dan anak perempuan terkesan “diperbolehkan” menangis. Anak laki-laki harus tegar tidak mudah larut dalam emosi yang menunjukkan “kelemahan” diri. Anak laki-laki tidak diperbolehkan main boneka atau masak-masakan, seperti yang biasa dilakukan oleh anak perempuan yang meniru perempuan dewasa menimang bayi atau masak di dapur, anak laki-laki hanya boleh bermain mobil-mobilan, tembak-tembakan atau permainan lain yang tidak berbau “permainan perempuan”. Fenomena ini berlangsung terus sejak munculnya permainan yang sifatnya tradisional, misalnya di etnik Jawa atau Sunda anak laki-laki bermain kelereng atau gundu hal ini dilakukan di luar rumah, sedangkan anak perempuan main bekel yang jelas dilakukan di dalam rumah atau teras rumah karena permainan ini menggunakan bola kecil dari karet yang dapat memantul pada bidang datar (lantai) dan biji bekel yang disebar di atas lantai di mana kemudian jari-jari anak akan mengambilnya dan tentu tidak lazim dilakukan di luar rumah di atas tanah.
SOSIALISASI GENDER DALAM KELOMPOK PRIMER
Menjelang remaja, sosialisasi nilai itu berkembang terus dengan perbedaan peran gender yang ada. Anak laki-laki akan diajarkan keterampilan bela diri karena menambah “kejantanan”, anak perempuan diajarkan menari karena akan menambah “kelembutan”. Pada waktu remaja anak laki-laki diajarkan keterampilan dan pengetahuan standar mengenai kelistrikan atau perbengkelan (sepeda motor/mobil). Hal ini didukung pula oleh situasi di sekolah, misalnya di sekolah menengah tingkat atas pelajaran ekstrakurikulernya tetap dibedakan, siswa perempuan cenderung ditawarkan pilihan keterampilan menjahit, memasak, menyulam dan siswa laki-laki cenderung ditawarkan pilihan olahraga sepak bola, keterampilan bela diri, elektro dan yang keterampilan yang netral artinya dapat diikuti semua siswa adalah pilihan olahraga bola basket atau pramuka atau pasukan pengibar bendera (paskibra). Selain itu, terdapat pula sekolah kejuruan di Indonesia, Sekolah Menengah Kejuruan pun masih nampak perbedaan gendernya, sekolah kejuruan elektro lebih banyak diminati anak laki-laki dan sekolah kejuruan busana dan tata boga lebih diminati oleh anak perempuan tentunya didukung oleh orang tua mereka sebagai penanggung jawab pembiayaan sekolah.
Di rumah anak laki-laki boleh pergi ke luar rumah sampai malam hari sedangkan anak perempuan diajarkan keterampilan menjahit atau memasak dan diizinkan ke luar rumah cukup sampai petang hari. Sosialisasi mengenai perbedaan gender ini tidaklah berhenti hingga remaja, tetapi terus sampai anak tumbuh dewasa dan sampai jenjang pernikahan. Bahkan di dalam perhelatan perkawinan di mana upacara adat/tradisi yang mengiringinya pun menggambarkan perbedaan peran gender, seperti pada adat etnik Jawa ada acara mencuci kaki pengantin pria yang kotor karena menginjak telur hal ini menggambarkan simbol pengabdian kepada suami sebagai pemimpin keluarga demikian pula di hampir semua tradisi etnik yang ada di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *