SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM

394 views
SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM
Poligami seperti yang tersebut di atas tadi, hukumnya tidak hanya mubah, tetapi sangat di anjurkan, tapi dengan syarat (1) istri yang kedua, ketiga atau keempat adalah janda yang mempunyai anak yatim, (2) adanya kekhawatiran tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak yatim. Sehingga perintah poligami akan gugur jika tidak adanya salah satu dari kedua syarat tersebut.
Dalam menafsirkan ayat yang digunakan sebagian umat Islam sebagai dalil tentang berpoligami (Surat An-Nisa’ ayat 3) ini, setidaknya para ulama terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1.             Kelompok ini menafsirkan bahwa kawin berapapun jumlahnya diperbolehkan. Dalam hal menguatkan pendapatnya ini, mereka berpendapat bahwa (1) kalimat “al-nisa” (perempuan) dalam ayat tersebut menunjukkan pemahaman bilangan jamak (tanpa batas), (2) kalimat matsna (dua-dua), tsulatsa (tiga-tiga),dan ruba’(empat-empat) pada ayat tersebut tidak bisa digunakan sebagai alasan untuk mentakhsis (membatasi) bilangan perempuan yang boleh dikawini itu hanya terbatas empat saja kurang tepat, karena dengan mengkhususkan sebagian (menyebutkan 2, 3 dan 4) bukan berarti hukum sebagian yang lain tidak berlaku lagi. (3) huruf wawu dalam ayat tersebut mengindikasikan penjumlahan sehingga kawin sampai Sembilan (2+3+4) dan bahkan delapan belas (2+2+3+3+4+4) pun di anggap sah-sah saja. (4) dan argument ini diperkuat lagi dengan hadits yang menganjurkan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Rosululloh SAW. Jadi dalam pemahaman mereka kawin lebih dari empat, juga merupakan sunnah Rosul.
2.             Pendapat dari kelompok pertama di tentang oleh kelompok yang kedua ini. Mereka membatasi kebolehan mengawini wanita hanya sampai empat orang saja. Perndapat ini di dasarkan pada kisah seorang sahabat yang bernama Ghailan. Sebelum memeluk agama Islam ia mempunyai sepuluh istri. Kemudian ketika Ghailan masuk Islam, Rosululloh menyuruhnya untuk menetapkan istrinya hanya sampai batas empat orang saja. Hal ini juga di alami oleh sahabat Harits bin Qais al-Asadi, ia adalah seorang sahabat yang mempunyai delapan orang istri dan ketika ia masuk Islam oleh Rosul di perintahkan untuk mempertahankan empat orang istri saja.
3.             Kelompok yang ketiga ini diwakili oleh Ulama’ kontemporer, di antaranya adalah Muhammad Abduh. Menurut Muhammad Abduh, poligami hukumnya tidak boleh. Pada dasarnya, kelompok ini berpendapat bahwa poligami itu boleh, tapi dengan syarat dapat berlaku adil. Sedangkan pada zaman sekarang sulit bahkan mungkin tidak ada orang yang dapat berlaku adil terhadap istri-istri mereka. Kebanyakan orang yang berpoligami akan meninggalkan istri pertama dan anak-anaknya. Dan lebih mencintai istrinya yang kedua, ketiga ataupun yang keempat. Dan bahkan poligami tersebut hanya bertujuan sebagai pemuas hawa nafsu (kebutuhan biologis) kaum laki-laki saja.
            Sedangkan menurut Sayyid Qutub, poligami merupakan suatu perbuatan yang termasuk dalam rukhsoh, dan rukhsoh ini dapat dilakukan hanya apabila dalam keadaan dhorurot atau terpaksa dan benar-benar mendesak saja. Dan kebolehanya inipun masih disyaratkan harus bisa berbuat adil terhadap istri-istri di bidang nafkah, mua’malah, pergaulan dan pembagian waktu malam.
      Penyebutan dua, tiga atau empat(dalam QS an-Nisa’ ayat 3), pada hakikatnya adalah dalam rangka tuntutan berlaku adil kepada anak yatim. Tentang masalah adil ini Allah telah menyindir fenomena ini dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat An-Nisa’ Ayat 129, yang berbunyi:
Artinya:
dan kamu sekali-kali tidak akan berlaku adil di antara istri-istrimu walaupun kamu sangat ingit berbuat demikian, karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan janganlah kamu mengadakan perbaikan dan memeliharadiri(dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”
Kalau ayat ini dikaji secara tekstual (berdasarkan makna yang ada), hukum poligami bisa di toleransi selama suami dapat berbuat adil. Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa adil hanya dalam kebutuhan materi. Sementara dalam masalah immateri, perlakuan tidak adil tersebut bisa di tolerir. Ayat 129 ini merupakan penjelas dari Q.S. An-Nisa’ Ayat 3. dengan begitu kebolehan beristri lebih dari satu harus di kaitkan dengan syarat adil tidaknya suami. Tidak lain, karena ayat tiga sebelumnya mengaitkan syarat adil harus bersesuaian dengan kebolehan kawin lebih dari seorang. Namun hal itu hanya ada dalam tataran teori. Pada tahap praktis syarat itu sangat sulit terwujud. Perlakuan tidak adil trsebut pasti terjadi di antara istri-istri. Maka seolah-olah agama Islam sengaja memasang syarat yang sangat sulit untuk di penuhi, agar manusia tidak sembarangan melakukan poligami.
SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM
Perlu digaris bawahi bahwa ayat ini, tidak membuat peraturan tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh penganut berbagai syariat agama, serta adat istiadat masyarakat sebelum turunya ayat ini. Sebagaimana ayat ini tidak mewajibkan poligami atau menganjurkanya, ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami dan itupun merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan.
Namun demikian pintu poligami tidak bisa dikatakan sudah terkunci rapat-rapat. Sebab, tidak tertutup kemungkinan ada maslahah yang besar di balik poligami. Bisa jadi maslahah yang ditimbulkan lebih besar dari kekhawatiran adanya mafsadah. Islam tidak mungkin akan mengabaikan maslahah tersebut hanya demi menjaga perasaan istri tua. Ketika sang istri positif mandul, sedangkan sang suami sangat menginginkan seorang keturunan, tentu poligami dapat dibenarkan sebab ada maslahah yang lebih besar.
Dengan demikian, pembahasan tentang poligami dalam pandangan al-Qur’an, hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal, atau baik dan buruknya, tetapi harus dilihat dari sudut pandang penetapan hukum dalam berbagai kondisi yang mungkin terjadi. Dan suatu kewajaran bagi suatu perundangan apalagi agama yang bersifat universal dan berlaku setiap waktu dan tempat untuk mempersiapkan ketetapan hukum yang mungkin terjadi pada suatu ketika, walaupun kejadian itu baru merupakan kemungkinan.
Menurut Syekh Mustofa al-Maraghi, yang paling menjamin terwujudnya rumah tangga mawaddah wa rohmah adalah bila seorang suami memiliki seorang istri saja (monogami). Monogami merupakan jalan yang terbaik guna mewujudkan keluarga yang sakinah. Namun ketika dalam perjalananya ada halangan yang menghambat terwujudnya keluarga yang sakinah, maka di waktu itulah poligami di perbolehkan, bahkan di anjurkan karena itu adalah jalan yang lebih maslahat. Misalnya: si istri mandul, sedangkan si suami sangat menginginkan anak untuk melestarikan keturunanya, atau si istri adalah wanita yang “frigid” sedangkan yang laki-laki “perkasa”. Dalam kasus-kasus yang seperti ini tidak ada alasan untuk melarang suami melakukan poligami. Dan tentunya poligami jauh lebih maslahah daripada menceraikan istri, atau bahkan berzina.
Berangkat dari sini, kebolehan poligami hanya merupakan solusi ketika tujuan dari perkawinan sudah tidak terpenuhi. Poligami tidak dapat dijadikan sebagai ajang mengumbar hawa nafsu, apalagi di jadikan cita-cita hidup. Pada saat nabi mempraktekkan poligami, meskipun dengan segala kelemahanya Allah SWT tetap memberikan dukungan dan motifasi. Sudah tentu tujuan beliau bukanlah untuk mengumbar birahi nafsu seks. Akan tetapi ada tujuan kemaslahatan yang di harapkan. Dengan demikian, asalkan ada tujuan kemaslahatan, disamping itu kesejahteraan dan kerukunan rumah tangga terpenuhi, tidak sampai menimbulkan terlantarnya istri tertua, dan juga anak-anaknya, maka poligami bisa dilaksanakan. Dengan bahasa lain, pintu poligami dalam islam tertutup, tetapi tidak dikunci.
            Dari pemaparan di atas, ternyata ayat yang sering dijadikan dasar untuk melakukan poligami itu adalah ayat-ayat perlindungan terhadap anak-anak yatim. Dan juga “sindiran” agar kita mengangkat martabat budak-budak wanita yang teraniaya, sebagai istri. (QS an-Nisa’ ayat 3).
Bahkan sampai ayat enam, Allah masih fokus berbicara tentang perlindungan kepada anak-anak yatim itu. Terutama yang terkait dengan harta dan nafkah mereka. Diantaranya adalah yang berupa pemberian suami berupa mahar (mas kawin). Dan selebihnya adalah harta peninggalan orang tua mereka dan kita tidak boleh mengambilnya secara batil.
Jadi kenapa ayat-ayat yang bernuansa perlindungan ini berubah menjadi ayat yang berbau syahwat. Walaupun di embel-embeli dengan syarat adil, padahal Allah telah jelas-jelas menerangkan bahwa kita (manusia) tak akan bisa berlaku adil walaupun setiap manusia sangat menginginkanya, pada akhirnya setiap manusia pasti mempunyai kecenderungan kepada salah satu dari istri-istri kita. Sebagaimana dijelaskan dalam QS an-Nisa’ ayat 129.
Maka dari itu marilah menempatkan masalah poligami ini secara proposional. Bahwa poligami bukanlah perintah, walaupun lafadz yang digunakanya adalah kalimat perintah, karena ia harus dipahami secara utuh atas keadaan atau kondisi yang mengiringinya.
Poligami dalam Islam adalah kasus yang bersifat khusus dan terkait erat dengan masalah perlindungan anak-anak yatim dan hak-hak wanita. Sekaligus untuk mengangkat martabat wanita. Terutama di zaman itu, yang para wanita mendapat perlakuan tidak  senonoh dan merendahkanya.
SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM
            Sebagaimana telah di bahas didepan, Allah juga melarang mengawini wanita secara paksa, atau mengawininya hanya sebagai alat pemuas nafsu belaka. Karena sebenarnya perkawinan adalah sebuah lembaga sakral dimana kita beribadah untuk meneruskan keturunan dan menyiapkan generasi islami yang tangguh di masa depan.
Tak banyak teks hadits yang menerangkan tentang masalah poligami ini. Yang paling terkenal adalah hadits yang di riwayatkan oleh imam Ahmad dan at-Tirmidzi yang berbunyi:
                        Artinya:
Diceritakan dari Salim dari ayahnya, Bahwa sesungguhnya Ghilan ibn Salamah ketika masuk Islam ia mempunyai sepuluh orang istri, dan ketika masuk Islam oleh Rosul ia di perintahkan memilih dari istri-istrinya tersebut empat orang saja (HR. Ahmad dan at-Turmudzi)
Hadits inilah yang digunakan sebagian besar ulama’ untuk mendasari pendapat mereka tentang kebolehan berpoligami dan maksimal berpoligami adalah dengan empat orang wanita saja.
Pada umumnya, para fuqoha dalam membahas masalah poligami hanya menyoroti aspek hukum kebolehan poligami saja tanpa ada upaya untuk mengkritisi kembali hakekat di balik hukum boleh tersebut, baik secara histories, sosiologis maupun antropologis. Oleh karena itu dalam perkembanganya, pnafsiran ayat poligami sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab fiqh klasik banyak digugat karena dianggap bisa gender.
Secara sosiologis, poligami dalam Islam merupakan lompatan kebijakan sekaligus sebagai koreksi islam dari syari’at sebelumnya dan tradisi masyarakat Arab yang memboloehkan menikah dengan perempuan tanpa batas. Faktor historis, membuktikan bahwa pada masa Rosululloh SAW ada seorang sahabat yang bernama Ghailan al Tsaqofi yang mempunyai sepuluh istri, kemudian Rosululloh SAW menyuruhnya untuk mengambil empat orang istri dari sepuluh istri tersebut. Riwayat ini membuktikan bahwa poligami merupakan sebuah respon sosioligis dan antropologis Al-Quran terhadap budaya masyarakat Arab.
SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM
Dalam menghadapi dan menyikapi persoalan tersebut ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.                  Perlu kiranya untuk melihat apa sebab-sebab yang melatar belakangi ayat (QS an-Nisa’ ayat 3) tersebut (asbab al-nuzul). Diantara sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut adalah, bahwa ketika Rosululloh SAW diutus, kaum Qurays masih tetap menjalankan tradisi mereka sebelumnya, termasuk kawin lebih dari empat orang.
2.                  Ayat tersebut (QS an-Nisa’ ayat 3) harus dikaitkan dengan misi kerasulan. Artinya, nabi Muhammad SAW sebagai rasul mendapat perintah dari tuhan untuk mengubah budaya “kawin banyak” yang bisanya dilakukan secara bertahap. Karena begitu besar bahaya yang ditimbulkan, selain menelantarkan anak yatim serta anak yang menjadi tanggung jawabnya, poligami juga menyebabkan terlantarnya istri tertua. Akan tetapi nabi tidak mungkin melarang secara total poligami yang telah mebudaya di tengah masyarakat jahiliyyah. Karena akan menyebabkab terjadinya keguncangan di tengah-tengah masyarakat. Langkah awal yang ditempuh adalah dengan membatasi kawin hanya sampai empat saja.
3.                  Hadits tentang “Ambil empat saja dan ceraikan yang lain” harus di artikan bukan sebagai anjuran untuk kawin empat. Kalau benar anjuran, pasti banyak sahabat yang melakukan polgami. Kenyataanya mereka banyak yang tidak melakukan poligami. Perintah ini hanya di tujukan pada orang-orang yang telah melakukan poligami. Mereka yang memiliki satu istri atau belum kawin tidak termasuk dalam ssabda ini, bahkan ada indikasi kalau nabi Muhammad SAW melarangnya.
Sedangkan tentang masalah poligami rosululloh SAW, yang sekarang banyak digunakan sebagai dasar pembolehan poligami lebih dari empat adalah salah, karena pada dasarnya dalam setiap pernikahan yang beliau lakukan selalu ada hal-hal kebaikan yang mendasarinya dan bukan karena didasarkan atas nafsu belaka.
Untuk bisa memahami makna yang terkandung dibalik poligami Rosululloh ini, umat seharusnya melihat persoalannya secara utuh dan holistik.
Yang pertama, kita harus paham, Rosululloh diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang pada seluruh alam, hal ini diterangkan pada surat Al-Anbiya’ Ayat 107.
Artinya
Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Yang kedua, Rosululloh diutus untuk memberi contoh dan keteladanan akhlak yang mulia kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana yang diterangkan Al-Quran surat Al-Ahzab Ayat 21, yang berbunyi :
Artinya
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu,( yaitu) bagi orang yang mengharap rohmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Yang ketiga, Rosululloh diutus untuk melindungi dan mengangkat maratabat kaum wanita, anak-anak yatim, para budak dan kaum tertindas lainya. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ Ayat 127
Artinya
Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah:  kepadamu dalam Al-Quran tentang para wanita yatim yang kamu tidak berikan kepada mereka apa yang tidak ditetapkan untuk mereka, sedangkan kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apasaja yang kamu kerjakan, maka sesumgguhnya Allah maha Mengetahui.
Yang keempat, Rosululloh menyuruh ummatnya untuk ummatnya untuk berumah tangga. Bukan hanya menyalurkan fitrah seksnya, melainkan juga untuk membentuk keluarga yang sejahtera, bahagia, dan menumbuhkan generasi Islami yang kuat dimasa yang akan dating. Menciptakan ummat teladan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dalam surat An-Nisa’ Ayat 9, yang berbunyi
Artinya
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapka perkataan yang benar.

Yang kelima, berbagai ayat yang diwahyukan kepada Rosululloh perlu dicontohkan dan diteladankan secara nyata, agar menjadi jelas maknanya. Maka, kita melihat alasan-alasan dibalik poligami itu sebenarnya adalah manifestasi aturan Allah dalam Al-Quran.
SYARAT DAN HUKUM POLOGAMI DALAM PANDANGAN ISLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *