TEORI PERILAKU KONSUMEN DALAM ISLAM

555 views

FUNGSI UTILITAS KONSUMEN MUSLIM

TEORI PERILAKU KONSUMEN DALAM ISLAM

Semakin tinggi kurva indiferensi berarti semakin banyak barang yang dapat dikonsumsi, yang berarti semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen. Secara grafis tingkat utilitas yang lebih tinggi digambarkan dengan tingkat kepuasan yang letaknya di sebelah kanan atas. Bagi setiap konsumen, semakin ke kanan atas (cembung terhadap titik nol) grafis utilitas maka tingkat kepuasan semakin baik. Bentuk tingkat kepuasan yang seperti ini menunjukkan adanya diminishing marginal rate of substitution. Lebih mudahnya, kepuasan yang didapat dari mengkonsumsi piring pertama soto ayam lebih tinggi daripada kepuasan mengkonsumsi soto ayam piring kedua, ketiga, dan seterusnya.
Dalam Islam cara pikir seperti ini juga ditemukan, di dalam suatu Hadis Rasulullah SAW bersabda: “iri hati itu dilarang kecuali terhadap dua jenis orang, yaitu orang berilmu yang mengamalkan ilmunya dan orang kaya yang membelanjakan hartanya di jalan Allah.” Jadi dalam konsep Islam pun diakui bahwa yang lebih banyak (tentunya yang halal) adalah lebih baik.
Dalam konsep Islam juga sangat penting adanya pembagian jenis barang dan jasa antara yang haram dan yang halal. Tingkat kepuasan untuk dua barang yang salah satunya tidak disukai digambarkan dengan tingkat kepuasan yang terbalik. Semakin sedikit barang yang tidak disukai akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Hal ini digambarkan dengan utility function yang semakin ke kiri atas semakin tinggi tingkat kepuasannya. Barang yang haram adalah barang yang tidak disukai setiap muslim, jadi secara grafis dapat digambarkan sumbu X sebagai barang haram dan sumbu Y sebagai barang halal. Dalam grafik ini, pergerakan tingkat kepuasan ke kiri atas menunjukkan semakin banyak barang halal yang dikonsumsi sehingga menambah utilitydan semakin sedikit barang haram yang dikonsumsi berarti mengurangi dis-utility, keadaan ini akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Bila letak barang yang haram dan yang halal ini diubah maka bentuk tingkat kepuasan pun akan berubah. Bila sumbu X menunjukkan barang halal, sedangkan sumbu Y menunjukkan barang haram maka bentuk tingkat kepuasan akan berbalik 180 derajat dari terbuka menghadap ke kiri atas menjadi telungkup menghadap ke kanan bawah.

BUDGET LINE (GARIS ANGGARAN)

TEORI PERILAKU KONSUMEN DALAM ISLAM
Garis anggaran adalah garis yang menunjukkan berbagai gabungan barang-barang yang dapat dibeli oleh sejumlah pendapatan tertentu yang halal. Untuk menggambarkan keberadaan garis anggaran dapat dinyatakan dalan sebuah contoh berikut:
Seorang muslim mengeluarkan uang sebanyak Rp.90.000,00 untuk membeli makanan dan pakaian. Misalnya harga makananRp.6.000,00 dan pakaian Rp.9.000,00 per unit. Berdasarkan pemisahan ini ditunjukkan beberapa makanan dan pakaian yang dapat dibeli dengan uang yang dimiliki konsumen tersebut. Jika konsumen membeli 15 makanan, ia harus membayar 15 x Rp.6.000,00 = Rp.9.000,00 oleh karena tidak seunit pakaianpun dapat dibelinya. Gabungan A menggambarkan keadaan ini, gabungan B, C, D, E mengggambarkan kombinasi barang yang dapat dibeli sesuai dengan kemampuan seorang muslim.[1]
Dari kasus ini, maka seorang muslim ketika mengkonsumsi sejumlah barang perlu:
a.       Memperhitungkan besarnya jumlah barang yang diperoleh dari pemanfaatan secara maksimal pengeluaran total tetapi juga memperhitungkan skala prioritas dari berbagai barang yang akan diperoleh dari memanfaatkan pengeluaran total tersebut.
b.      Menyadari bahwa memilih salah satu dari kombinasi yang ada merupakan kombinasi yang didasarkan atas nilai-nilai syariah, bukan sekedar memperhitungkan besarnya jumlah kombinasi  barang yang diperoleh dari pemanfaatan pengeluaran total.
BACA JUGA  PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN JUAL BELI ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

FUNGSI KONSUMSI INTERTEMPORAL DALAM EKONOMI ISLAM

TEORI PERILAKU KONSUMEN DALAM ISLAM
Dalam konsep Islam, konsumsi intertemporal dijelaskan oleh Hadis Rasulullah SAW yang pada intinya bermakna “apa yang kamu miliki adalah yang telah kamu makan dan yang telah kamu infakkan”. Oleh karena itu persamaan pendapatan menjadi:
Y = (C + Infak) + S atau disederhanakan menjadi Y = FS + S
FS adalah Final Spending (konsumsi akhir) di jalan Allah
Penyederhanaan ini memungkinkan konsumen untuk menggunakan analisis grafis yang biasa digunakan dalam teori konsumsi, yaitu memaksimalkan fungsi utilitas dengan garis anggaran tertentu. Dalam pola konsumsi satu periode, sumbu X dan Y menunjukkan jumlah barang. Sedangkan dalam pola konsumsi intertemporal (dua periode), sumbu X menunjukkan jumlah pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada periode pertama yang secara matematis dinotasikan Yt, Ct, dan St. Karena pengeluaran konsumsi dalam konsep Islam ditambah dengan infak (C + Infak), maka simbol yang digunakan adalah FSt. Sumbu Y menunjukkan jumlah tabungan periode pertama (St) yang digunakan sebagai konsumsi periode kedua (Ct+1) atau dengan kata lain St = Ct+1. Dalam konsep Islam, simbol yang digunakan untuk konsumsi akhir periode kedua adalah FSt+1 sehingga persamaannya menjadi St = FSt+1.
Dalam pembahasan pola konsumsi intertemporal ini dibatasi hanya pada dua periode saja yaitu periode t dan periode t+1. Karena yang digunakan adalah pola konsumsi dua periode saja maka pendapatan diasumsikan hanya muncul pada periode pertama, dan tidak muncul pada periode kedua. Oleh karena itu pada sumbu Y tidak ditemui simbol Y.[2]



[1]Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: EKONISIA, 2004), hal. 178
[2]Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami…, hal. 67

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *