TEORI PRILAKU KONSUMEN KONVENSIONAL

1,586 views

TEORI PRILAKU KONSUMEN KONVENSIONAL
Seorang konsumen umumnya dihadapkan kepada sejumlah barang yang harus dia pilih untuk dikonsumsi. Dia harus memilih karena pendapatan atau penghasilan yang dimilikinya untuk memperoleh barang dan jasa tersebut terbatas adanya. Dalam teori perilaku konsumen dipelajari bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan memilih barang dan jasa serta jumlahnya untuk dikonsumsi. Seorang konsumen selalu bersedia membelanjakan pendapatannya untuk mendapatkan sejumlah barang dan jasa, hal ini tidak lain karena barang dan jasa tersebut berguna serta dapat memberikan kepuasan padanya. Nilai guna suatu barang yang dapat memberikan kepuasan disebut utility. Setiap barang tidak selalu memberikan nilai guna yang sama, sebagai contoh nilai guna sepiring nasi bagi seorang yang lapar lebih tinggi dibandingkan nilai guna sebuah pisang. Tetapi hal ini dapat terjadi sebaliknya ketika seorang tersebut sudah kenyang. Tidak hanya itu, barang yang sama dapat mempunyai nilai guna yang berbeda jika dikonsumsi pada waktu atau tempat yang berbeda.
Gossen adalah yang tercatat sebagai orang yang lebih dulu memperhatikan perihal nilai guna barang. Dia menyimpulkan bahwa bilamana seorang mengkonsumsi suatu barang secara terus menerus, ada kecenderungan tambahan nilai guna barang tersebut semakin lama semakin berkurang.[1]Misalnya seperti seorang yang sedang lapar mengkonsumsi nasi soto, satu piring nasi soto mungkin belum cukup untuk menghilangkan rasa laparnya, bahkan dua piring pun belum cukup. Namun kepuasan yang diberikan oleh piring kedua lebih rendah dari yang diberikan piring pertama dan kepuasan yang diberikan oleh piring ketiga lebih rendah dari kepuasan yang diberikan oleh piring kedua. Tambahan nilai guna dari tambahan konsumsi satu unit barang disebut Marginal Utility.
TEORI PRILAKU KONSUMEN KONVENSIONAL
Sebenarnya ada dua pendekatan untuk mengukur kepuasan yang diperoleh dari barang yang dikonsumsi itu. Pendekatan pertama adalah pendekatan kardinal dan yang kedua adalah pendekatan ordinal. Pendekatan kardinal menganggap bahwa besarnya utilitas dapat diukur seperti halnya harga dan kuantitas, dan dinyatakan dalam satuan. Sedangkan pendekatan ordinal merupakan kebalikan dari pendekatan kardinal, yang menyatakan bahwa utilitas tidak dapat diukur tetapi utilitas dari berbagai macam barang dan jasa dapat diurutkan. Dalam pendekatan ordinal ini, konsumen memiliki preferensi terhadap kombinasi barang dan jasa.[2]
1.      Fungsi Utilitas Konsumen Konvensional
Dalam ilmu ekonomi, tingkat kepuasan (utilitas) konsumen digambarkan oleh kurva indiferensi.
2.      Budget Line (Garis Anggaran)
Kurva indifferen hanya menunjukkan besarnya kepuasan tertentu. Kalau seorang konsumen mengkonsumsi dua macam barang pada berbagai kombinasi, tetapi tidak menunjukkan berapa besarnya kepuasan yang dapat dicapai dan berapa jumlah masing-masing barang yang dapat memberikan besarnya kepuasan tersebut. Berapa jumlah masing-masing barang yang harus dikonsumsi untuk memperoleh kepuasan tertentu tergantung pada anggaran atau pendapatan konsumen. Keinginan untuk memaksimalkan tingkat kepuasan tentu ada batasnya, yaitu berupa dana yang tersedia untuk membeli kedua jenis barang. Istilah ini disebut dengan budget constraint (keterbatasan anggaran). Sedangkan kombinasi barang dan jasa yang memerlukan dana sebesar uang yang dimiliki oleh konsumen disebut dengan budget line (garis anggaran).[3]
3.      Fungsi konsumsi Intertemporal dalam ekonomi konvensional
Menurut Karim yang dimaksud dengan konsumsi intertemporal (dua periode) adalah konsumsi yang dilakukan dalam dua waktu yaitu masa sekarang (periode pertama) dan masa yang akan datang (periode kedua). Dalam ekonomi konvensional, pendapatan adalah penjumlahan konsumsi dari tabungan yang secara matematis dinotasikan: Y = C + S
Dimana:        Y = pendapatan
C = konsumsi
S = tabungan
Menurut Mankiw, untuk mempermudah kajian yang dihadapi konsumen yang hidup selama dua periode. Periode satu menunjukkan masa muda konsumen, dan periode dua menunjukkan masa tua konsumen. Misalkan pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada periode pertama adalah Y1, C1, S1 dan pendapatan konsumsi, dan tabungan pada periode kedua adalah Y2, C2, S2, maka persamaan di atas dapat dinotasikan sebagai berikut:[4]
Periode pertama, tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Yaitu: S1 = Y1 – C1 (di mana S1adalah tabungan).
Dalam periode kedua, konsumsi sama dengan akumulasi tabungan termasuk bunga tabungan, ditambah pendapatan periode kedua, yaitu: C2 = (1 + r) S1+ Y2    (di mana r adalah tingkat bunga riil).
Karena tidak ada periode ketiga, konsumen tidak menabung pada periode kedua. Jika konsumsi periode pertama kurang dari pendapatan periode pertama, konsumen berarti menabung, dan S lebih besar dari nol. Jika konsumsi pertama melebihi pendapatan periode pertama, konsumen meminjam, dan S kurang dari nol.
Untuk mengetahui batas anggaran konsumen dari hasil persamaan pada periode pertama dan persamaan pada periode kedua digabung, maka diperoleh persamaan:
C2 = (1+r) (Y1 – C1) + Y2
Geser persamaan (1+r) C dari sisi kanan ke sisi kiri sehingga diperoleh persamaan:[5]
(1+r) C1+ C2 = (1+r) Y1 + Y2
ð 

[1] M. Umar Burhan, (ed.), Konsep Dasar Teori Ekonomi Mikro, (Malang: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, 2006), hal. 38
[2]Sri Adiningsih dan Y.B. Kadarusman, Teori Ekonomi Mikro, (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2003), hal. 65
[3]Robert S. Pindyck dan Daniel L. Rubinfeld, Mikroekonomi Edisi Keenam Jilid 1, (Jakarta: PT Indeks, 2007), hal. 89
[4]Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), hal. 102
[5]Ibid., hal. 103
BACA JUGA  PENGERTIAN DAN RASIO PROFITABILITAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *