Untuk Apa Sekolah !!!

97 views
      Seorang ibu berkata pada anaknya” nak kalau sudah besar kamu harus jadi
      pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak
      dan ibumu yang tiap hari harus jualan sayur kepasar, biar bapak dan ibu
      saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya
      tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia” . Sementara
      dilain pihak seorang ibu berkata ” buat apa sekolah tinggi-tinggi ? dokter
      sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, mendingan
      uang sekolahmu dibelikan sapi biar beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari
      pada harus dibayarkan untuk sekolah, coba lihat si lukman itu sekolah
      jauh-jauh tapi setelah selesai nganggur dan akhirnya sekarang jadi sopir
      anggutan..” !

      Sadar atau tidak, ditingkatan masyarakat opini yang terbangun mengenai
      dunia pendidikan (sekolah) seperti yang diilustrasikan diatas. Masyarakat
      menilai bahwa salah satu alat keberhasilan seseorang bersekolah adalah
      sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status social yang tinggi
      dimasyarakat indikasinya adalah apakah seseorang itu bekerja dengan
      berpenampilan elegan (berdasi, pake sepatu mengkilap, dan membawa tas
      kantor) atau tidak, dan apakah seseorang tersebut bisa kaya dengan
      pekerjaannya? Kalau seseorang yang telah menempuh jenjang pendidikan
      (SLTA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3) lulus dan setelah itu menganggur maka
      dia telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang sering ditemui di
      masyarakat kita.

      Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek pendidikan yang
      selama ini dijalani ada kesalahan proses?, mengapa dunia pendidikan belum
      bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat, lantas apa
      yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? kalaupun yang
      diopinikan masyarakat itu adalah kesalahan berpikir, mengapa kualitas
      pendidikan di Indonesia tidak lebih baik dari negara lainnya, bukankah
      setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar
      sampai dengan pembuatan undang-undang system pendidikan nasional? Atau
      inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa “SEKOLAH itu lebih berbahaya
      daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah.”

BACA JUGA  TERM-TERM MISKIN DI DALAM AL-QUR'AN

      Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan
      manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya
      sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih dari itu adalah
      pendidikan merupakan upaya bagaimana memanusiakan manusia. Tentunya proses
      tersebut bukan hal yang sederhana butuh komitmen yang kuat dari setiap
      komponen pendidikan khusunya pemerintah bagaimana memposisikan pendidikan
      sebagai inventasi jangka panjang dengan produk manusia-manusia masa depan
      yang hadal, kritis dan bertanggung jawab. Kalau dunia pendidikan hanya
      diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi
      manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba
      perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran
      baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho,
      liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang
      kapitalistik seperti ” lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang
      kembali 100%, adapula yang bertuliskan “sekolah hanya untuk bekerja,
      disini tempatnya” apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri
      semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih
      berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas
      pelayanan akademik yang diberikan. Akhirnya terlihat dengan jelas
      bagaimana mutu SDM Indonesia yang jauh dari harapan seperti dilaporkan
      oleh studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Indeks
      (HDI) Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun
      2001 menempati urutan ke 102 dari 162 negara.

      Jadi, tidak mengherankan kalau ditingkatan masyarakat memandang dunia
      pendidikan (sekolah) sampai hari ini seperti layaknya sebagai institusi
      penyalur pegawai negeri sipil (PNS) indikasi dari pandangangan tersebut
      bisa dilihat bagaimana animo masyarakat yang cukup tinggi ketika pembukaan
      pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) seolah-olah status/gelar
      akademik yang mereka capai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3) hanya cocok untuk
      kerja-kerja kantoran (PNS) hal inipun merupakan salah satu faktor yang
      menyebabkan tingkat pengangguran kaum terdidik setiap tahunnya bertambah
      sebab kesalahan motiv sekolah sebagai akibat dari prilaku sekolah yang
      kapitalistik akhirnya banyak melahirkan kaum terdidik yang bermentalitas
      “Gengsi gede-gedean”

BACA JUGA  TUJUAN DAN LANDASAN HUKUM RUMAH SAKIT

      Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita
      bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan orang
      lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya
      kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol),
      kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk
      bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau
      proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan
      untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak
      kita merupakan pilihan yang sangat cerdas. Oleh sebab itu sudah saatnya
      dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana
      pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran
      kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis,
      mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran,
      dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang
      sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk
      diinternalisasikan disetiap diri siswa.

      Selain itu, mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa sekolah itu tidak
      sekedar tahapan untuk bekerja kantoran menjadi salah satu agenda dunia
      pendidikan yang harus segera dilakukan sehingga masyarakatpun bisa
      memahami secara holistik untuk apa pendidikan itu dilahirkan. Agenda
      semacam ini akan bisa dijalankan secara baik kalau masing-masing insitusi
      pendidikan bertindak secara fair bagaimana proses penerimaan siswa baru
      tidak lagi memakai slogan yang menyesatkan. Mempertahankan sekolah yang
      kapitalistik sama saja menggerogoti minat dan motivasi masyarakat untuk
      turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
      copyright.
      Ditulis oleh Muhammad Khairul Idaman

BACA JUGA  PENGERTIAN DAN LANDASAN HUKUM (YURIDIS) PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *