UPAYA ORANG TUA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH

161 views
UPAYA ORANG TUA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH

Didalam kamus standar bahasa indonesia dijelaskan pengertian usaha yaitu Usaha dengan mengarahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mengcapai suatu maksud, pekerjaan yang meliputi perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya guna mencapai sesuatu[1]
Pada prinsipnya setiap orang memerlukan pendidikan karena dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar atau fitrah baik jasmaniah maupun rohaniah  yang tidak dapat dikembangkan dengan baik tanpa adanya perhatian dan bimbingan dari pada orang tua selaku pendidik utama dan pertama di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai jenjang berikutnya.
Maka orang tua sangat berpengaruh sekali dalam menumbuh kembangkan kepribadian anak, Orang tua sebagai pendidik adalah contoh nyata yang akan ditiru anak-anak dalam membentuk  kebiasaan-kebiasaan hidup, yang secara lansung akan mewarnai kepribadiannya. Orang tua tidak mungkin mengharapkan anak-anaknya melakukan sesuatu yang dinilainya baik, dengan menyuruh dan menganjurkannya saja sedangkan dirinya sendiri tidak melakukannya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh moch shochib dalam bukunya Pola Asuh Orang Tua yaitu Setiap upaya yang dilakukan dalam membantu anak mutlak didahului oleh tampilnya;
1.      Prilaku yang patut dicontoh. Atrinya, setiap prilaku tidak sekedar prilaku bersifat mekanik, tatapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa prilaku akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anak-anaknya. Oleh karena itu pengaktualisasiannya harus senantiasa dirujukkan pada ketaatan pada nilai-nilai moral. Terutama pada saat-saat terjadi pertemuan dengan anak-anak
2.      Kesadaran diri ini juga harus ditularkan pada anak-anaknya dengan mendorong mereka agar prilaku kesehariannya taat kepada nilai-nilai moral.
3.      Komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anak-anaknya, terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk memecahkan permasalahan, berkenaan dengan nilai-nilai moral.
4.      Uapya berkelanjutan untuk menyuburkan ketaatan anak-anak terhadap nilai-nilai moral dapat diaktualisasikan dalam menata lingkungan fisik yang disebut memon fisik.
5.      Penataan lingkungan fisik yang melibatkan anak-anak dan berangkat dari dunianya akan menjadikan anak semakin kokoh dalam pemilikan terhadap nilai-nilai moral dan semakin terundang untuk meningkatkannya. Hal tersebut akan terjadi jika orang tua dapat mengupayakan anak-anak mereka untuk dekat dan akrab, dan intim dengan nilai-nila moral.
6.      Penataan lingkungan sosial dapat menghadirkan situasu kebersamaan natara anak-anak dengan orang tua. Situasi kebersamaan merupakan syarat utama bagi terciptanya penghayatan dan pertemuan makna antara anak-anak dan orang tu.
7.      Penataan lingkungan pendidikan kan semakin bermakna bagi anak jika mampu menghadirkan iklim yang menggelitik dan mendorong kewajiban untuk mempelajari nilai-nilai moral. Upaya yang dapat dilakukan orang tua adalah menata suasana psikologis dalam keluarga. Penataan suasana psikoligis dalam keluarga menyentuh dimensi emosional dan suasana kejiwaan yang menyertai dan dirasakan dalam kehidupan anak.
8.      Penataan suasana psikologis semakin kokoh jika nilai-nilai moral secara trasnparan dijabarkan dan diterjemahkan menjadi tatanan sosial dan budaya dalam kehidupan keluarga.[2]
Pendapat lain yang merumuskan tenang perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya sebagaimana dikatakan oleh Handani Ihsan dkk dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam  :
“Orang yang pertama bertanggung jawab terhadap perkembangan anak atau pendidikan anak adalah orang tuanya, karena adanya pertalian darah yang secara langsung bertanggung jawab atas masa depan anak-anak mereka”[3]
 Nuryanis juga mengatakan “Dalam menumbuh kembangkan anak-anak orang tua/ tokoh ibu dan bapak sangan memegang peranan yang sangat penting, baik buruknya kelakuan si anak orang tualah yang memegang peranan”.[4]
Dengan landasan teori yang dikemukakan oleh beberapa tokoh diatas maka orang tua hendaknya dapat memberikan dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Karena pendidikan itu sendiri merupakan ukuran dalam membentuk baik dan buruknya seseorang, baik ia individu maupun kelompok.

BACA JUGA  PENGERTIAN, LANDASAN HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH ISLAMIYAH

[1] Anonim, Kamus Standar Bahasa Indonesia, Bandung ; Geneca Sains, 2001. Hlm 508
[2] Op.Cit.Moch shochib, hlm. 25-28
[3] Hamdni Ihsan dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung ; Pustaka Setia, 2007, hlm. 93
[4]Nuryanis, Panduan Pendidikan Agama Islam, Jakarta ; 2003, hlm. 57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *